
Zian melajukan mobilnya kembali ke rumah, rumah yang selalu sepi dan kosong itu. Dia masuk kedalam kamar nya, membuka lemari pakaian dan mencari sesuatu.
"Aku harus tampil maksimal saat acara undangan itu, berdiri disamping Agnia dengan gagah!" gumamnya sendiri.
Setelah beberapa saat mencari sesuatu yang tidak dapat dia temukan, dia menjadi kesal dan kembali keluar.
"Bi ... Bi?" serunya memanggil bibi pelayan rumah, namun sekalipun tidak aja jawaban dari arah belakang.
Zian merogoh ponsel nya lalu mengetikkan sesuatu pada Kim, lalu menuruni tangga kembali dan mencari keberadaan bi Nur yang entah kemana.
Dia pun mengayunkan kakinya ke area belakang, taman kecil dipinggir kolam renang, dan menemukan wanita paruh baya itu tengah duduk termenung.
"Astaga, aku mencarimu kemana-mana ... dan kau ternyata sedang melamun disini!" ujar Zian.
Bi Nur tersentak, dia langsung berdiri dengan cepat, dan langsung menundukkan kepalanya, "Maaf tuan! Bibi tidak mendengar suara Tuan memanggil!"
"Pantas saja! Kau kan sedang melamun. Ada apa? Apa kau sakit?" Bi Nur menggelengkan kepalanya,
"Anakmu?" tanyanya lagi.
Wanita paruh baya yang bekerja dari Zian masih kecil itu kembali menggelengkan kepalanya, "Tidak tuan, aku hanya sedang memikirkan non Nia."
"Memangnya kenapa dia? Dia baik-baik saja kan! Aku juga tidak memecatmu karena menyembunyikan hal itu dariku!"
Bi Nur semakin menundukkan kepalanya, "Maaf tuan." lirihnya.
"Sudah, kau tidak perlu risau ... aku hanya kesal saja! Dan jangan dulu mengatakan hal yang sebenarnya pada Nia, jika aku sudah tahu dia tinggal di rumahmu."
Bi Nur mengangguk, dia selama ini merasa bersalah, takut tuannya itu akan marah dan juga memecatnya, namun ternyata tidak.
"Iya Tuan, aku tidak akan mengatakan apapun!" Hatinya merasa lega sekarang, dia pun memberanikan diri melihat wajah Zian, dan setelah melihatnya dia tersenyum, "Kalau begitu Bibi kedalam dulu."
Bi nur berbalik dan mengayunkan kakinya melewati Zian, raut wajah Zian yang kembali berseri itu membuatnya tenang.
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin tinggal disini saja? Demi anakmu yang masih kecil! Dia harus tinggal ditempat yang lebih layak bi!" ungkap Zian tanpa menoleh.
"Tuan?" Bi nur menoleh kearahnya.
Zian hanya mengangguk lalu mengayunkan kembali kakinya lalu masuk ke dalam rumah.
Bi Nur menatapnya dengan pandangan nanar, dia sangat berbeda sekali saat Zian masih mencari keberadaan Agnia, raut wajah datar dan kedua manik tajam, tidak pernah tersenyum apalagi menatapnya sampai tiga detik seperti yang baru saja terjadi.
.
.
Sementara Agnia masih berkumpul dengan teman-temannya, bercanda dan juga bercerita banyak hal, lelucon dari Nita dan juga timpalan dari Serly yang membuat Cecilia kesal, namun juga tidak mungkin mengusirnya lagi karena Agnia melarangnya, begitu juga Serly yang tidak berani mengatakan kata kata yang membuat kedua teman Agnia meradang, karena Agnia pun melarangnya.
Adam berjalan mendekatinya dengan membawa segelas es jeruk, lalu duduk begitu saja disamping Agnia.
"Hai Nia ... gue boleh gabung kan?" ujarnya.
"Lo itu udah duduk Dam!" celetuk Nita.
Adam tersenyum memperlihatkan giginya yang berderet rapi, dan meletakkan es jeruk dihadapan gadis yang sempat menolak pernyataan cintanya itu, "Buat lo Nia!"
Namun dengan cepat Serly meraih gelas itu dan menyimpannya dihadapannya, "Nia itu alergi jeruk, lo mau bikin dia sakit?"
Adam tercenang, dan menatap Agnia kembali, "Beneran lo alergi jeruk? Sorry gue gak tahu...!"
"Gak apa-apa Dam santai aja!" jawab Nia dengan tersenyum.
Cecilia menopang kedua pipi dengan kedua tangannya, "Ya ampun senyumnya bikin adem! Pantesan aja Adam lebih milih lo Nia!"
Serly menggebrak meja, "Apaan tuh maksudnya? Gak usah nyari gara-gara lo!"
Cecilia menampilkan wajah tanpa dosanya dan tersenyum jahat, "Eeeh ... kenapa lo sewot? Ngerasa kesindir lo?"
__ADS_1
"Gak usah nyari gara-gara lo, lo sendiri lebih buruk dari gue! Lo simpenan Om- Om kan!" Tukas Serly berang.
Tak dielakkan lagi, pertengkaran diantara mereka kembali terjadi, keduanya tidak ada yang mau mengalah. Nita menarik Cecilia dan Agnia menarik Serly. Adam bergeleng kepala heran, melihat pertengkaran selalu terjadi diantara mereka.
Beberapa orang disana tersentak kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh Serly, mereka menatap Cecilia dengan tatapan tidak percaya.
Cecilia semakin kesal dan juga marah, dia merangsek maju dan menjambak rambut panjang Serly, gadis itu meringis dan berteriak.
"Dasar ja langg kampungan lo! Pantes aja orang kayak lo bisa punya mobil dan barang-barang branded, itu semua pasti karena lo jual tubuh Lo pada laki- laki yang booking lo iya kan?" ujar Serly membalas jambakan pada rambut Serly.
Cecilia berhasil melepaskan tangan Serly, dengan cepat dia menampar pipinya dengan keras.
Plakk
"Jaga omongan lo! Lo fikir lo siapa hah ... berani ngatain gue! Kalau iya memangnya kenapa? Lo ngerasa rugi? Atau gue ngerepotin hidup lo!"
Pertikaian itu semakin sengit, adu mulut dengan kata-kata sarkas ditambah dengan tangan yang saling menyerang. Membuat Agnia dan Nita kelimpungan memisahkan mereka berdua.
"Hentikan!"
Pak Sopian datang setelah beberapa orang pergi melaporkannya, dan membuat mereka berhenti seketika. Dan mereka berdua digiring masuk kedalam ruang Bimbingan konseling.
"Nia ... gimana nih! Bisa-bisa ketahuan semua." Ucap Nita dengan cemas, kedua tangannya bahkan berkeringat dingin.
Dia tidak pernah secemas seperti hari ini, mengingat jika Cecilia ketahuan, dirinya pun akan ikut terseret.
"Lo tenang aja Nit! Cecilia pasti bakal bisa handle masalah ini!"
Agnia memang tidak bisa membantu banyak, namun dia hanya bisa menenangkan sahabatnya itu, padahal dalam hatinya pun merasa was-was. Adam menepuk pundaknya,
"Lo tenang aja, gue fikir ini bagus buat mereka berdua! Agar mereka kapok dan gak ribut terus!"
Agnia menoleh, dia hanya mengangguk pelan namun dengan melangkah dua langkah kearah samping.
__ADS_1
Kalau Zian tiba-tiba lihat, bisa-bisa gue juga dapet masalah lagi, eeh apaan sih, kenapa gue kayak yang selingkuh sih.