Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 125


__ADS_3

Pada pinter nebak niih ... emang deh kalian ini warbysah...hihihi... bener gak yaa hhhmm... langsung deh baca lagi, jangan lupa like yang banyak, komen juga rate.


.


.


"Iya ...tapi___!"


Ucapan Aya terputus putus, dengan kedua mata yang beralih kedalam rumah kemudian kembali menatap Agnia.


"Apa sih Ya? Gemes deh, kalau udah gak jelas gini!" ujar Agnia mencubit pipi Aya.


Mereka masuk kedalam rumah, sementara Dave mengikuti dari belakang.


"Ayo Dad ... masuk!"


"Daddy buka sepatu dulu ya!" ujar Dave karena melihat Agnia sendiri membuka sepatunya saat masuk.


Seketika Agnia terpaku ditempatnya, saat masuk kedalam rumah, dengan kedua bola mata yang membulat sempurna.


Gimana caranya dia bisa nemuin gue disini? Padahal gak ada yang tahu gue disini! Apa dia ngikutin gue? batin Agnia.


Lidah Agnia kelu, saat sosok yang dia kenal tengah duduk disofa dengan anggun, dihadapannya Bi Nur yang juga tak kalah cemasnya dengan Agnia.


"Hai Nia? Apa kabar?" Sapanya dengan senyum khas miliknya, dia lantas berdiri dan mengayunkan langkah kearahnya, lalu memeluk Agnia dengan memberikan sedikit tepukan hangat di punggungnya,


"Semua orang mencemaskanmu Nia!" bisiknya, "Tapi syukurlah kamu berada ditempat yang aman selama ini!" tukasnya lagi.


"Sekretaris Kim?" Agnia mengurai pelukannya, "Kenapa sekretaris Kim tahu kalau Nia tinggal disini?" Tanya Agnia dengan heran.


Kim terkekeh, "Semua yang ditutup-tutupi, pasti akan ketahuan juga! Benarkan Bi Nur?" kedua matanya menyorot wanita paruh baya yang lagi-lagi tidak bisa menjawab.


"Tolong, jangan menyalahkan bi Nur, ini murni kesalahan Nia! Bi Nur hanya nolongin Nia, dia juga ngerawat Nia dengan baik! Tolong Sekretaris Kim, jangan katakan pada Om Zian!"


Maaf Nak, tuan Zian sebenarnya sudah tahu dan mengirim sekretaris nya kemari seolah dia yang pertama kali menemukanmu, dan bibi tidak bisa mengatakan yang sebenarnya padamu, karena tuan Zian melarang. Batin Nur dengan kedua mata nanar menatap Agnia.


"Tidak ada yang menyalahkan bi Nur disini Nia, tapi bi Nur akan mendapat konsekwensinya karena menyembunyikan informasi penting ini!"

__ADS_1


"Ada apa Nia?" tanya Dave yang baru saja masuk.


Bukan sandiwara maupun rekayasa, kali ini Kim yang tersentak kaget saat melihat Dave tanpa alas kaki kini berdiri tegap dihadapannya, begitu pula dengan Dave yang tak kalah kaget saat melihat Kim.


"Tuan Dave?"


"Sekretaris Kim?"


Agnia terperangah dibuatnya, dan melihat kedua nya bergantian, "Daddy kenal sekretaris Kim?"


"Tentu saja Sweetheart! Dia itu sekretaris yang paling handal di bidangnya, semua orang mengenal kecekatan dan keahliannya yang profesional, dan jika Zian melepasnya, Daddy senang hati akan merekrutnya!" jawab Dave mengatakan hal yang memang dia akui ada dalam diri Kim.


"Zian? Maksudnya Om Zian?" Agnia semakin cemas, jika dugaannya benar, kalau merekapun saling mengenal.


Sementara Kim kini sudah kembali mengontrol dirinya sendiri, dia memang sudah tahu Dave dan Laras adalah orang tua Agnia dari mulut seorang ibu nyinyir sewaktu dirumah sakit, ibu dari sahabatnya Agnia yang melakukan percobaan bu nuh diri. Namun dia tidak menyangka jika Dave yang dimaksud adalah Dave yang dia kenal, yang hari ini berdiri tegak dihadapannya.


"Ya Zian! Kamu mengenalnya juga sweetheart?"


Agnia mengangguk pelan, dugaannya benar, mereka saling mengenal dan entah bagaimana jadinya jika Dave tahu, Zian hendak mengajaknya menikah.


"Kemana sekretaris Kim?" Agnia mengernyitkan dahi.


Sekretaris Kim mengulum senyuman, "Kesatu tempat yang pasti akan seru untukmu!"


Dave mengernyit, "Tapi dia akan menemaniku diacaraku nanti malam!"


"Ayolah tuan Dave, itu hanya acara orang tua, Agnia pasti akan bosan! Benarkan Nia?"


"Sekretaris Kim bener! Kenapa Nia harus ikut diacara bapak-bapak!"


Sekretaris Kim menyambar tasnya diatas meja, "Baiklah, aku rasa kalian perlu waktu bicara, aku bisa pergi dulu, dan nanti akan menjemputmu lagi kemari Nia. Tuan Dave? Saya permisi!" ungkapnya dengan mengayunkan kakinya keluar.


Setelah kepergian sekretaris Kim, mereka berdua saling pandang, Agnia merasa sedikit senang, karena ayahnya bersikap ramah pada Kim.


"Nia ..., Kenapa malah membiarkan Daddy mu terus berdiri? Apa karena Sofanya jelek?" Seru Bi Nur tiba-tiba.


"Bi Nur? Kenapa bilang begitu? Daddy gak keberatan kok walau duduk hanya di lantai sekalipun, iya kan Dad?" tanya gadis itu pada ayahnya.

__ADS_1


Dave mengerjapkan kedua mata, mana pernah dia duduk lesehan dilantai. Hawa panas yang dirasakannya pun harus ditahannya karena dirinya juga tidak bisa menolak keinginan Agnia.


"Terima kasih karena telah memberikan Agnia tempat berlindung yang aman, dan seharusnya, anda tidak perlu melakukannya, aku akan membayar semua biaya yang anda keluarkan untuk Agnia selama tinggal disini, anggap saja uang sewa," ucapnya menohok.


"Kalau seandainya aku jadi kau, aku akan memberi tahukan keberadaannya pada keluarganya! Karena aku tidak mau mencari keuntungan seperti ini!" Dave mengeluarkan dompet dari saku celananya, lalu mencabut semua uang cash yang ada didalamnya, "Aku rasa ini cukup!" ungkapnya lagi dengan menyimpan uang tersebut di atas meja.


Bi Nur terperenjat, dia tidak menyangka apa yang dilakukannya akan membuat orang lain berfikir dia mencari keuntungan, padahal sama sekali tidak. Begitu juga Agnia yang kecewa akan sikap yang ditunjukan oleh Daddynya terhadap orang lain yang notebene berstatus sosial yang berbeda dengannya.


"Maaf Tuan, saya tidak mengharapkan sepeser uang pun dari anda, saya menolong putri anda dengan tulus!" ucap Bi Nur dengan lirih.


"Daddy! Gak lucu tahu! Daddy fikir semua orang baik itu mengharapkan imbalannya? Apa Daddy hanya ramah pada orang dengan derajat yang sama dengan Daddy saja?"


"Jelas, kurasa itu sudah jelas!" jawab Dave dengan tegas.


Agnia bengkit dari duduknya dan mendelik ke arah Daddy, "Nia kecewa sama Daddy!" ujarnya lalu mengayun masuk kedalam kamar. Aya yang sedari tadi sibuk bermain sendiri dan tidak mengerti kini berlari menyusulnya masuk.


"Permisi Tuan!" Bi Nur pun memilih pergi dari pada menghadapi Dave yang angkuh dan sombong, dia masuk kedalam kamar untuk melihat Agnia.


"Bi Nur, maafin Daddy!"


"Tidak apa- apa kok, Non ... Non lebih tahu apa yang bibi lakukan untuk Non selama ini! Tidak perlu khawatir, bibi tidak sakit hati dengan ucapan Daddy Non." ujar Bi Nur dengan mengelus lembut rambut Agnia.


"Memangnya apa yang dibicarakan?" tanya Aya dengan kedua kaki berjingkat.


Agnia yang kedua pelupuknya sudah basah, tentu saja tertawa, andai saja dia bisa membawa Aya tinggal bersamanya, Aya pasti senang.


"Nia ayo kita pergi!" Seru Dave dari luar kamar yang hanya memakai tirai kain.


"Sekarang Non Nia ikut pulang bersama Daddy non ya, belajar yang baik, jangan lupa makan."


Agnia menyorotinya, dia tidak menyangka, Daddynya akan berkata demikian menyinggung perasaan orang yang selama ini merawat anaknya dengan baik.


.


.


Gimana gimana.... Dave nyebelin kan... author juga yaa, gak ketemuin mereka disitu..wkkwkw. sabar yaa, nanti akan **** pada waktunya, eeh salah,

__ADS_1


__ADS_2