
Gigi putih berderet rapi diperlihatkan oleh gadis yang diam diam kabur dari hotel dan menyelinap masuk kedalam kamar yang ditempatinya saat dirumah Zian, namun ternyata, dia justru kepergok secara langsung oleh sang empunya rumah.
"Nia ... kenapa hobi sekali kabur! Gimana kalau ayahmu mencarimu dan dia pasti khawatir." tukas Zian mengurai pelukannya.
"Kenapa Om jadi khawatir sama Daddy Nia? Bukannya kemarin Om bertengkar sampe adu tojos?"
"Pria memang selalu berfikir pendek saat emosi, tapi aku juga tahu bagaimana rasa khawatirnya ayahmu saat kamu menghilang Nia!"
Agnia melepaskan kedua tangan Zian yang terus memeganginya, "Perhatian banget sekarang! Padahal kemarin musuhan... hari ini belain! Udah kayak Aya aja!"
Zian terkekeh, dia berbalik dan kembali memeluk Agnia dari belakang. Hingga hembusan nafas hangat darinya menerpa tengkuk leher Agnia.
"Aku merindukanmu Nia!" ujarnya mengecup pipinya lembut.
Agnia melepaskan diri kembali, dia berbalik dan mengalungkan kedua tangannya di leher Zian yang masih bertelanjang dada.
"Tapi aku kesini dengan niat yang lain!" ujarnya dengan mengulum senyum "Itu luka Om!" ujarnya lagi dengan menunjuk ujung bibir Zian yang menyisakan sedikit luka dengan warna kebiruan.
"Tak apa, ini bukan hal besar!" Zian masih mengulum senyum, "Sekarang juga sembuh! Kamu sendiri kemari dengan niat yang lain apa? Yang lain itu ... hmmm ... itu?" ujarnya dengan melirik ranjang dibelakang Agnia.
Seketika gadis itu memukul bahunya keras, "Fikirannya masih aja kotor! Padahal situasi sekarang lagi genting!"
Zian terkekeh, "Jadi apa dong?"
"Aku ingin Om ceritakan semua apa yang terjadi dengan Om dan Daddy? Ada apa dengan kalian ... Nia yakin terjadi sesuatu diantara kalian, bukan hanya Daddy tidak setuju tanpa alasan bukan?"
Deg
__ADS_1
Zian tertegun, tenggorokannya tiba-tiba tercekat, bagaimana dia menceritakan pada gadis yang dicintainya itu bagaimana ayah dan dirinya di masa lalu.
"Mung__mungkin karena usiaku terlalu jauh denganmu! Aku dan Dave hanya berbeda beberapa tahun saja. Aku lebih cocok jadi pamanmu mungkin!" Kilah Zian dengan bahu yang mengerdik.
Agnia mendorong kembali bahu Zian, lalu dia mengambil kembali tas miliknya yang dia sampirkan dibahunya, "Kalau gitu ... Nia pergi, percuma saja jika disana ataupun disini, Nia gak dapet jawaban apa-apa! Mungkin kali ini Nia akan pergi ke luar kota, sampai Om dan Daddy sekalipun gak akan pernah nemuin Nia selamanya. Biar kalian hidup tenang! Begitu juga aku!" ancamnya lalu menggeret kursi kearah jendela untuk dia naik.
Zian bergegas memegangi, "No ... no... jangan lakukan itu Nia! Please ... jangan pergi lagi!"
"Kalau gitu ceritakan!! Aku gak pernah main- main kan Om ... saat bersama Daddy aja aku berani kabur, apalagi sama Om Zian!"
Zian mengernyit, "Jadi aku tidak lebih penting?"
Gadis itu mengerdikkan bahu, "Penting ... yang Nia sayang itu semua penting, tapi rasa nekat Nia lebih gede dibanding rasa sayang Nia!"
Ancaman seperti itu mudah untuk Agnia ucapkan, dia tahu Zian tidak akan membiarkannya pergi lagi walaupun hanya selangkah, dan dipastikan itu akan berhasil.
Agnia turun dari kursi lalu duduk, "Oke ... Nia hanya akan mendengarkan, gak akan marah sama Daddy!"
Masalah marah atau enggak ... kita lihat nanti, yang penting gue tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi. batin Agnia.
"Jadi begini!"
Agnia mendongkakkan kepalanya mendekat, membuat Zian maju sedikit dan mengecup hidungnya.
Cup
"Iiihhh ... apaan sih! Gak usah terus bercanda bisa kan Om?" gerutu Agnia dengan memukulnya.
__ADS_1
"Bisakah ceritanya nanti saja? Aku harus ke kantor! Atau kamu mau ikut denganku!"
Agnia mendengus kasar, dia bangkit dari duduknya lalu berkacak pinggang, "Dasar penipu!"
Zian menariknya untuk duduk kembali, "Sabar ... beri aku waktu untuk berganti pakaian, memangnya kamu tidak melihat aku sudah kedinginan begini, kecuali kamu tidak keberatan dengan melihatku begini, Dan lama-lama kamu akan tergoda!" godanya dengan terkekeh.
Agnia berdecak, "Om please ... bisa serius?"
"Aku sangat serius dengan mu Nia ... semua yang berhubungan denganku itu sangat serius, mereka saja yang sering mempermainkan ku."
Agnia memutar kedua bola matanya malas, dia tidak tahu jika Zian tengah menutupi perasaan serba salahnya jika dia yang menceritakan semua nya pada Agnia. Tapi disisi lain juga, dia tidak tahu harus mulai dari mana.
"5 menit!" tukas Agnia dengan kelima jari yang mengacung kearah Zian?"
"Lima menit mana cukup! Lima menit itu hanya untuk pemanasan saja! Paling tidak tiga puluh menit sampai selesai." Zian mengangkat kedua alisnya naik turun sebanyak tiga kali.
Agnia memicingkan kedua mata, dia membuka pintu kamar dengan lebar. "Lebih baik Om ganti baju, Nia tunggu sampai selesai ...! Lima menit saja, lebih dari itu Nia pergi!" Ancamnya dengan tatapan tajam.
Zian menurut begitu saja, dia keluar dari kamar dengan tangan memegang handuk dipinggangnya, "Ku kira kamu mengajak pemanasan! Lucu sekali wajah kesalmu itu Nia!"
Agnia mendengus lalu menutup pintu kamarnya dengan keras, "Kenapa gue bisa suka sama orang seperti itu? Udah mesum ... menyebalkan lagi!" rutuknya dengan menoyor diri sendiri.
.
.Catatan Othor:
Bukan kalian yang suka mari like dan komen dan juga rate 5. (Tapi othor gak maksa ya.) Dan buat yang gak suka, silakan skip dan cari bacaan lain tanpa harus kasih rate buruk, rate 1 dan bilang kecewa, ingat ini hiburan, jadi carilah novel yang cocok tanpa meninggalkan jejak buruk. Apalagi gak like gak komen tapi kasih rate kecewa. Pie to?
__ADS_1
Mari saling bersinergi dengan baik.