Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 78


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, Agnia menangis sejadinya setelah perdebatan yang terjadi dengan ibunya sendiri. Sementara Zian mengelus bahunya, berharap memberikan ketenangan pada gadis yang seharusnya masih memerlukan dampingan orang tua. Khususnya sang ibu.


"Sudah jangan menangis lagi, lihatlah wajahmu jadi jelek." kelakarnya mencoba menghibur Agnia.


"Iihh ...!" tukas Agnia memukul bahu Zian.


Dia sibuk menyeka air mata dengan ibu jarinya, sementara Zian menggelengkan kepalanya, "Lihat dikaca, wajahmu merah dengan mata yang membengkak! Sudah seperti boneka chucky."


"Apaan sih!" jawab Agnia dengan ketus, dia memalingkan wajah ke arah luar, menatap ruas jalan yang dilewatinya, dengan sesekali masih menyapu sisa air bening wajahnya.


"Semoga suatu hari nanti ibumu menyadari, jika dia punya anak gadis yang luar biasa," ujarnya dengan menatap Agnia.


Gadis itu hanya mengangguk pelan, tanpa berpaling dari ruas jalanan yang sepertinya lebih bagus dari biasanya, jalanan keluar dari komplek rumahnya yang hampir sebulan ini tidak dilaluinya.


Drett


Drett


Ponsel yang dia simpan didalam tas kini menjerit, namun Agnia mengabaikannya. dia semakin mendekap tasnya dengan kedua tangan, seolah ingin meredam jeritan ponsel yang terus berbunyi.


"Kenapa tidak tidak diangkat?" tanya Zian dengan melaju keluar dari komplek perumahan elite itu.


"Males ... palingan juga Mami yang menelepon, dia belum puas menyiksa batin Nia."


"Astaga, Nia! Umurmu belum bahkan belum ada setengah abad, tapi bicaranya seolah kamu lebih tua dariku."


Agnia kali ini menoleh, "Udah deh Om nyetir aja, gak udah ikut campur bisa kan? Lagian juga siapa yang nyuruh Om masuk dan mencampuri urusanku, pake bilang semua yang berkaitan denganku jadi urusanmu. Dih ngarep pake banget!"


Dengan memasang wajah datar, Zian mengangguk kecil. "Memang iya!"


"Iiihhh ... ngeselin banget sih!"


Zian hanya mengerdikan bahu, membuat Agnia semakin kesal. "Awas aja kalau berani ikut campur lagi."


Agnia menyandarkan punggungnya di seat, karena kejadian tadi, dia melupakan makan siangnya. "Stop!! Om berhenti."


"Apa? Kamu membuatku kaget."


"Berhenti dulu, Nia mau beli itu!" ujarnya menunjuk sebuah gerobak kecil dipinggir jalan.


"Beli apa? Enggak Nia, kita lebih baik pulang. Makan dirumah saja! Itu tuh gak bersih, kamu selalu makan yang aneh-aneh deh."

__ADS_1


"Pokoknya Nia mau beli." ujarnya dengan turun dan menghampiri pedagang pentol baso.


Zian menghela nafas, lalu ikut keluar menyusulnya.


"Pak 1 porsi."


Pedagang pentol mengangguk, memasukkan pentol baso dengan kuah merah itu kedalam mangkuk, lalu memberinya perasan jeruk dan memberikannya pada Agnia.


Zian bergidig, "Makanan apa itu? Itu akan membuat perutmu sakit Nia."


Agnia menusuk satu baso berukuran sedang lalu memasukkannya ke dalam mulut, "Hmmm ... ini enak banget. Om harus coba!" ujarnya dengan mulut sibuk mengunyah dan juga kepanasan.


Zian berdecak, Cepet banget suasana hatinya berubah, baru saja nangis- nangis sedih, sekarang sudah kesenangan hanya gara-gara makanan tidak jelas begitu.


Agnia melahap habis semangkuk pentol baso pedas itu, dan menusuk baso yang belum memakai bumbu didalam kuali, "Om beneran gak penasaran rasanya?"


"Tidak ...! Itu jelas tidak enak!"


Agnia menyodorkan tusukan baso pada Zian, "Coba dulu baru komentar! Belum pernah nyoba gimana tahu rasanya gak enak! Aaaa ... cepet!"


Zian membulatkan mata ke arah Agnia yang rasanya lebih galak darinya, "Ayo Om ... dikit doang!"


"Gimana? Enak kan?"


Kedua pupil hitamnya terlihat melebar, "Ini enak, apa namanya?" ujarnya dengan memasukkan kembali sisa potongan baso itu.


Agnia terkekeh, "Nah kan, Nia bilang apa? Itu tuh makanan terenak, mau lagi?"


Pedagang pentol yang hanya diam memperhatikan itu tersenyum, lalu memberikan 1 porsi lagi pada Zian, dan dia memakannya dengan lahap.


"Dih ... yang bilang gak enak dan gak higienis!"


Zian hanya mendelik, "Aku memang belum pernah makan makanan dipinggir jalan seperti ini!"


"Wah kalau gitu pas banget, nanti Nia ajakin Om deh kita ke street food. Banyak banget pilihan makanan, enak dan murah lagi."


Zian hanya mengangguk, dan mengunyah suapan terakhir dimulutnya. "Beneran enak?"


"Om harus cobain takoyaki ala-ala, kebab ala ala, seafood juga ada, bahkan sate seafood beuhh enak banget, cumi bakar, pokoknya banyak deh!"


"Jajanan anak-anak!"gumam Zian, namun dia tersenyum melihat Agnia yang berbicara tentang segala macam makanan yang dia sebutkan dengan mata yang berbinar.

__ADS_1


Sesederhana itukah hal yang membuatmu senang Nia?


"Oke kapan kita kesana? Sepertinya seru."


"Weekend aja Om, biar pulangnya kita ke pasar malem, naik kora-kora!" ujarnya terkekeh.


"Biasanya Nia kesana sama siapa?"


"Sama Serly dan Vina," Agnia mendengus, "Itu udah lama banget! Sekarang Vina udah pindah sekolah, Serly juga udah gak asik!"


Setelah membayar semua, mereka kembali berjalan ke arah mobil. "Vina yang banyak ulah itu? Dia sama seperti ibunya!"


"Huum ... udahlah, Nia juga maafin dia! Lagian juga itu salah Nia!"


"Kenapa jadi salah Nia? Mereka yang berbuat salah padamu, kamu itu yang terlalu baik! Harusnya mereka dihukum."


"Iya Om juga kan! Sampe dikhianati pacar dan asisten sendiri segitu lamanya! Apa Om melaporkannya? Enggak kan!"


Zian menggaruk tengkuknya, "Iya juga sih, pinter jawab kamu tuh, udah sana masuk!"


Agnia terkekeh dan membuka pintu mobil, lalu masuk ke dalamnya, sementara Zian berjalan kearah sebaliknya dan masuk ke belakang kemudi.


Zian kembali melajukan kendaraannya dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan, pertama kalinya mengobrol banyak hal dengan gadis kecil yang lama-lama semakin dia suka itu, kesederhanaan lah yang ada dalam dirinya, walaupun dia berasal dari keluarga berada, dan dia baru memahami jika yang Agnia butuhkan itu hanya tempat berlindung, juga teman bercerita, terutama kasih sayang yang tidak dia dapat dari keluarganya.


Agnia terus berceloteh, membicarakan serunya pasar malam dan jajanan kaki lima yang membuat Zian ikut tertawa. Hingga akhirnya mereka sampai dirumah.


"Bener lho ya, nanti pergi ke sana! Tidak usah membawa teman apalagi teman laki-lakimu! Kita pergi berdua saja." tukas Zian saat masuk membuka pintu rumah.


"Iyalah sama Om aja, biar ada yang bayarin! Soalnya Nia udah gak punya uang jajan!" ujarnya terkekeh.


Zian mengacak pucuk kepalanya, " Huh ... dasar!"


Namun langkah mereka terhenti saat melihat sosok perempuan cantik berada didepannya,


"Zian ... kita perlu bicara!"


Agnia menatap perubahan dari wajah Zian, dia pun mengangguk lalu bergegas naik ke kamarnya sendiri.


Kedua mata Zian mengikuti langkah Agnia hingga menghilang dibalik pintu kamar, lalu beralih ada wanita dihadapannya, "Ada perlu apa lagi? Apa uangku saja tidak cukup Dita?"


"Kenapa kau lakukan hal ini padaku Zian? Kau membuat karirku hancur!"

__ADS_1


__ADS_2