Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 260


__ADS_3

Udara pagi yang segar masuk melalui celah jendela yang sengaja Agnia buka, entah kenapa pagi ini dia semangat sekali dan bangun lebih awal. Sementara Zian masih meringkuk di bawah selimut.


Gadis itu sudah mandi, wajahnya segar dengan hanya memakai bedak tabur dan juga olesan liftint yang hanya membuat bibirnya basah dan berkilau tanpa warna.


Dia menoleh ke arah ranjang, melihat suaminya masih bergelung dengan mimpi. Bibir tipisnya menyunggingkan senyuman, melihat Zian yang masih terlelap, wajah tampannya tampak damai dengan dengkuran halus, tanpa ingin dia bangunkan.


Setelah puas memandangi wajah suaminya itu, Agnia beranjak ke lemari. Menyiapkan pakaian untuk Zian, walaupun Zian tidak pernah memintanya. Namun Agnia tetap ingin belajar menjadi istri yang baik, terlebih dia tidak punya kegiatan lain. Hanya menunggu informasi dari sekolah berkaitan dengan acara kelulusan dan juga dari kampus dimana dia diterima.


"Gue udah kayak istri belum ya?" gumamnya yamg hanya dia dengar sendiri. Memadu padankan setelan jas, juga dengan dasinya.


Setelah selesai, dia keluar dan turun ke bawah, memastikan sarapan untuk Zian telah disiapkan.


"Non?" Sapa Bi Nur yang baru saja hendak masuk ke kamar. "Non sudah rapi? Mau ikut tuan ke kantor?"


Agnia mengikuti Bi Nur yang masuk ke belakang dimana dapur berada. "Rencananya sih begitu Bi, tapi Nia mau nyiapin dulu sarapan nih!"


"Ya ampun! Ya jangan Non ... itu kan tugas Bibi. Mending non naik lagi ke atas, nanti kalau sudah selesai, bibi panggil ya!"


Agnia mengerdik, "Enggak ah ... Nia mau bikin sarapan aja!"


"Nanti mah tuan marah pada bibi Non!"


"Enggak bi! Masa marah, kecuai kalau sarapan buatan Nia gak enak. Nanti Nia bilang itu buatan bibi!" Ujarnya terkekeh.


"Non Nia ada ada aja!"


"Pokoknya bi Nur liatin Nia ya!" ujaenya membuka lemari es.


"Astaga Non ... ini masih pagi lho!"


Gadis itu mengedarkan bola mata hitamnya dan mencari sesuatu yang akan dia masak sebagai sarapan untuk Zian.


"Gak apa apa kali bi!" jawabnya dengan kepala yang masih menghadap kedalam kulkas.


"Tuan tidak suka pedas, tidak suka selada air." tukas Bi Nur dengan terkekeh, saat melihat Agnia mengeluarkan cabai dan juga selada air. Gadis itu menghela nafas, "Padahal Nia mau bikin salad sayuran."


"Boleh ... tuan suka! Tapi tanpa selada non."


Agnia tampak berfikir, "Kalau gitu Nia bikin salad sayur tanpa selada aja!" ujarnya mengeluarkan sayur sayuran.


Setelah berkutat dengan sayuran yang akan dia buat salad. Dia juga mencampur kan bahan lainnya, sementara Bi Nur hanya melihatnya saja.


Agnia juga memanggang beberapa helai roti juga menyiapkan segelas kopi.


"Segini cukup ya kan Bi?"


"Cukup Non ... tapi kalau lebih banyak juga tidak apa apa, tuan pasti senang dan langsung menghabiskannya karena yang buat Non Nia." jawab Bi Nur dengan menyiapkan nampan.


"Ah ... Bibi bisa aja! Tapi gantian, Nia mau bawa pastel ke kantor ya bi, ada kan?"

__ADS_1


"Beres non! Pastel buat Non selalu ada."


"Makasih ya bi." ucapnya dengan mengambil nampan itu dan keluar dari dapur.


Agnia kembali naik ke atas dan masuk kedalam kamar, melihat Zian yang bahkan tidak mengubah posisi tidurnya dari sejak gadis itu keluar dari kamar.


Dia menyimpan nampan di meja, merapikan tatanan piring serta cangkir berisi kopi itu sebentar.


"Baby! Kau sedang apa?" tanya Zian yang mulai mengerjapkan kedua matanya, menatap langsung ke arah Agnia yang membelakanginya.


"Nyiapin sarapan."


"Astaga ... ini masih terlalu pagi baby!" Zian menatap jam, namun justru menarik selimut karena merasa udara dingin menerpa tubuhnya. "Kemari baby!"


Agnia menoleh, "Ayo bangun! Nanti sarapannya dingin."


"Kemari ... temani aku dulu!" ujarnya dengan suara serak.


Gadis itu menurut dengan mudah, naik keatas ranjang dimana Zian justru menarik tangannya hingga dia jatuh terjerembab disampingnya, Zian melingkarkan tangannya dipinggang Agnia dengan kaki yang diangkat melingkari kakinya.


"Kenapa sih manja banget deh!"


"Memangnya mau kemana sih pagi pagi sekali?" Zian kembali memejamkan kedua matanya.


"Gak apa apa!" jawabnya dengan mulai merasakan jika hawa di sekitarnya mulai panas.


Tangan Agnia menyentuh lengan Zian, lalu naik ke atas keningnya. "Om demam ya?"


"Kok bisa tidak enak!" Agnia kembali memastikan suhu di sekitar nya yang panas itu berasal dari Zian.


Zian masih memejamkan kedua matanya namun bahunya mengerdik. Agnia bangkit dengan posisi duduk.


"Nia ambil termometer dulu!"


"Tidak usah! Ini hanya demam biasa! Temani saja disini, jangan kemana mana lagi." ujarnya dengan terus mengeratkan tangan di pinggangnya.


"Tapi Om kayaknya sakit! Aku mau cek dulu suhu tubuhnya!"


"Tidak usah Nia! Aku bilang disini saja menemaniku, kepalaku pusing."


"Ta---tapi ..."


Zian menggelengkan kepalanya, namun justru kepalanya kini mulai berdenyut pusing.


"Tidak usah ke kantor dulu kalau gitu!"


Zian menggelengkan kepalanya, "Aku harus tetap ke kantor baby! Hari ini ada meeting penting."


"Katanya pusing!"

__ADS_1


"Mungkin setelah dipeluk nanti sembuh." gumam Zian dengan suara yang serak.


Agnia mendengus pelan, namun dia juga tidak menolak dan membiarkan Zian memeluknya walaupun dirinya mulai kegerahan karena suhu tubuh Zian.


"Sarapan dulu ya hubby!"


Zian mengangguk kecil, lalu Agnia turun dan mengambil nampan berisi roti dan juga salad sayur.


"Kopinya gak usah di minum, nanti Nia ganti."


"Kamu yang membuatnya?" tanya Zian dengan menyandarkan kepalanya disandaran ranjang. Agnia mengangguk, dengan menyimpan nampan diatas pahanya.


"Tidak usah diganti! Aku mau minum kopi buatanmu." ucapnya dengan mencubit pelan pipi Agnia, dan Agnia merasa jari Zian pun ikut panas.


"Nia ambil dulu termometer! Kayaknya Om demam banget. Tangannya aja sampe panas."


Gadis itu keluar dari kamar untuk mengambil alat pengukur suhu tubuh yang disimpan di kotak obat.


"Non cari apa?" tanya Bi Nur yang kebetulan lewat.


"Ini bi termometer dimana ya?"


"Oh ada di kotak paling atas! Kenapa Non? Tuan sakit?"


"Kayaknya bi! Soalnya badannya agak demam gitu."


"Ya udah bibi buatkan air jahe kalau gitu Non."


Agnia kembai menutup kotak obat itu setelah menemukan apa yang dia cari.


"Iya bi makasih ya! Nia ke atas dulu." ucapnya dengan bergegas naik.


Namun saat masuk, Zian tidak ada lagi di ranjang, terdengar suara air dari kamar mandi Agnia mengetuk pintu kamar mandi, namun ternyata tidak dikuncinya hingga dia bisa langsung masuk.


"Hubby kenapa?" tanyanya panik setelah melihat Zian di wastafel.


"Muntah?"


"Tidak! Aku mau mandi!"


"Iih kenapa mandi? Katanya pusing? Sarapan dulu!"


Zian yang terbiasa sarapan setelah mandi pun menggelengkan kepalanya yang semakin berat.


"Tidak apa ... aku mau mandi dulu baru sarapan!"


.


.

__ADS_1


Maaf baru Up ... Senin mengriweh soalnya ...wkwkwk, jangan lupa terus dukung karya receh othor ini ya ... like komen dan vote nya juga. Makasih


__ADS_2