
Dave tersentak, dia tidak mengerti kenapa Kim mengucapkan kata yang sedikit membingungkan.
Apa Kim menyukaiku sejak lama, menantikan saat saat ini sejak lama? Tidak mungkin ... sejak kapan Kim menyukaiku? Dave bermonolog.
"Ya aku menyukaimu sejak lama, perasaan ini tumbuh begitu saja tanpa bisa aku kendalikan, sekeras apapun aku menyangkalnya, tapi aku tidak bisa mencegahnya, aku tersiksa dengan perasaan ini!" Kim menyapu pelupuk matanya yang terasa basah, sementara Dave masih berdiri dengan tangan mengerat pada pinggangnya.
"Tapi aku berusaha akan tetap berusaha menghilangkan perasaan ini, ini tidak boleh! Tidak boleh terjadi, aku sudah berjanji pada
kakek untuk selalu berada di sampingmu, melindungi mu dan tetap membantumu sebagai seorang kakak seperti harapan kakek." ujarnya dengan mendorong tubuh Dave hingga terhuyung beberapa langkah ke belakang.
Deg
Apa Kim mengira aku adalah Zian? Apa yang sedang Kim ungkapkan adalah perasaannya pada Zian, bukan aku? Kim selama ini terus berada disamping Zian karena mengikuti perkataan kakek Mahesa, walaupun Kim menyukai Zian sejak lama, itu masuk akal sekali ... dan bukan aku yang dia maksud, kita saling tahu sejak dulu tapi tidak saling mengenal secara dekat. Apa karena aku memakai jas milik Zian? Sampai dia meracau dan mengira aku ini Zian. Batin Dave.
"Kim kau kacau sekali!"
"No ... Zian, aku hanya ... aku hanya, hanya ingin melupakan perasaan ini dengan cepat! Aku juga tidak ingin terlibat perasaan apapun pada pria lain ... aku lelah dengan perasaanku sendiri, aku lelah! Aku takut ... aku takut kembali kecewa, jadi lupakan omong kosong ku ini! Lupakan...!" ujarnya dengan terbata bata lalu terkulai lemas tak berdaya.
Dan seperti dugaan Dave, itu memang benar, Kim nyatanya menyukai Zian sejak lama, dan dalam keadaan mabuk parah, dia meracau dan mengungkapkan semuanya justru pada Dave.
Pria dengan tubuh tegap itu sedikit kecewa, karena dia mengira Kim menyukainya, bahkan ciuman mereka yang baru saja terjadi sangat bergelora, dia juga mengira hal itu karena Kim terlihat menikmatinya. Namun ternyata Kim mengira dia tengah berhadapan dengan Zian.
Dave menggendongnya masuk dalam mobil masuk ke belakang kemudi dan melajukan mobil Kim.
"Sial aku fikir dia menyukaiku! Jadi selama ini dia selalu terlihat gugup didepan ku bukan karena menyukaiku, tapi takut akan perasaannya sendiri, takut menyukai pria hingga dia kembali harus menelan pil pahit karena kecewa." gumam Dave menggelengkan kepalanya lalu melirik kearah Kim yang tak sadarkan diri disampingnya.
__ADS_1
Namun hati Dave terenyuh, melihat sosok Kim yang menurutnya wanita tangguh dan sulit di taklukan, kuat dan berkarismatik di luar namun ternyata didalamnya, dia begitu rapuh.
Dave berkali kali menolehkan kepalanya, dengan tatapan iba, memiliki perasaan yang disimpan dari lama dan ditahannya pasti menyakitkan, terlebih Kim harus setiap hari bertemu dengan Zian, setiap saat berinteraksi, dan bagaimana dirinya berusaha menyembunyikan semuanya dengan rapi, bahkan tidak akan ada yang percaya jika Kim menyukai Zian sejak lama, wanita itu selalu bersikap biasa dan cenderung pasif. Ditambah setiap hari melihat Zian bersama wanita wanita cantik dan melihat interaksinya langsung, tidakkah itu membuatnya semakin menderita.
Dave sekali lagi melihat ke arah Kim, dengan menatap nanar wanita yang mengungkapkan semuanya padanya. "Kasian sekali kau Kim! Seharusnya kau mencari seorang pria yang bisa kau andalkan saat keadaan seperti ini, sekuat apa dirimu hingga terlalu memaksakan diri seperti ini." gumamnya lagi.
Dave tetap melaju, dia bingung membawa Kim kemana, dia saja tidak tahu dimana Kim tinggal, dan dia tidak mungkin membawa Kim kembali ke rumah Zian dalam keadaan kacau seperti ini.
Akhirnya Dave membawanya ke apartemen miliknya, apartemen sederhana yang saat ini dia tinggali seorang diri.
Mobil melaju dengan kencang, di saat udara malam mulai berhembus sangat dingin, Dave membuka jas yang dikenakannya lalu dia pakai untuk menutupi tubuh Kim.
Tak lama kemudian mereka tiba di apartemen milik Dave, Dave bersusah payah menggendong tubuh Kim dan membawanya masuk ke dalam unit apartemennya.
Dia membaringkan tubuh Kim yang mulai menggeliat diatas ranjang yang tidak terlalu besar itu, menyimpan high hills miliknya di sudut ruangan.
Dave berkacak pinggang seraya menatap Kim yang berada di ranjang miliknya, ruangan apartemen itu tidak lah besar. Dia mengambil baju ganti miliknya dan tidur sofa.
Namun dia tidak bisa memejamkan matanya, apa yang akan terjadi besok pagi saat dirinya sadar dan mengetahui jika mereka tengah berciuman bahkan dengan panas, dan menyadari bahwa padanyalah Kim mengungkapkan apa yang dia rasakan.
Dave kembali bangkit dan terduduk dengan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, dia membasuh wajahnya dengan kasar karena memikirkan masalah ini.
"Sial ... kenapa ini harus terjadi sekarang! Bahkan saat Zian sudah menikah dengan putriku!" Gumamnya dengan mengacak rambutnya sendiri.
Sejurus kemudian kedua matanya tertuju pada pintu kamar yang memang sedikit terbuka, dimana Kim tengah terlelap tak berdaya.
__ADS_1
"Kurasa dia memang tidak mungkin menghancurkan pernikahan Zian dan putriku, bahkan selama ini Kim selalu mendukungnya dibandingkan aku dan juga Laras! Aaaahkkk ... semua ini membuatku pusing!" Sekali lagi Dave mengacak rambutnya frustasi.
Mslam semakin larut, udara dingin berhembus dari jendela yang terbuka, Kim membuka matanya perlahan, lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah, tanpa mengenali tempatnya kini berada, karena kepalanya terasa sangat pusing.
"Sial ... kepalaku benar benar berat!" ujarnya mengayunkan kaki menapak ke lantai.
Pintu terbuka, sosok tegap yang kini berdiri diambang pintu tersorot cahaya kamar yang redup membuat Kim terperanjat, dia setengah sadar mengenali sosok pria yang berdiri itu.
"Kau sudah bangun? Aku bawakan aspirin untuk kepalamu yang sakit, ini akan meredakan efek minuman."
Dave menyerahkan obat dan segelas air putih padanya, Kim terpaku ditempatnya, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Dave?"
Dave mengangguk, dia mengulas senyuman, dia berjalan ke arah jendela dan menutupnya.
"Minumlah ... setelah kau merasa lebih baik! Aku akan mengantarkanmu pulang." Ujar Dave kembali keluar dari kamar.
"Jam berapa ini Dave?"
"Jam tiga dini hari! Kalau kau mau, tidurlah dulu sampai pagi, setelah itu barulah pulang!" Jawab Dave datar, dia kembali mengayunkan kaki keluar dari kamar.
Kim berusaha berdiri, namun tubuhnya masih sempoyongan dan juga didera rasa pusing.
Dia lantas meminum aspirin yang diberikan oleh Dave. Setelah itu dia kembali membaringkan tubuhnya terlentang diatas ranjang.
__ADS_1
"Kim ... apa yang kau lakukan! Bodoh sekali kau ini ... bodoh, bodoh!!" rutuknya dengan memukul mukul kepalanya.
"Apa yang dia fikirkan tentang ku setelah ini! Kau memang bodoh Kim!" ujarnya lagi mengumpati diri sendiri.