
Sebuah mobil hitam menepi tepat didepan gerbang rumah, Agnia yang tengah mengingat dimana ponselnya itu melirik kearah mobil.
Celaka ngapain dia kemari lagi?
Zian keluar dari mobil dan menghampiri Agnia yang tengah berhadapan dengan pria yang terlihat menakutkan dengan rahang mengeras menatapnya.
"Ada apa? Apa dia mengganggumu?"
"Tidak ... dia tidak penting!" jawab Agnia menarik tangan Zian dari sana.
"Kenapa kesini lagi?" tanyanya dengan terus melirik Hendra yang menatapnya dari belakang.
Zian mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya, "Aku kemari karena ponselmu tertinggal, dasar ceroboh! Kamu selalu saja begitu!"
Kedua mata Agnia berbinar, "Ah ... syukurlah, ternyata!" Ucapnya dengan mengambil ponsel dari tangan Zian.
Keberanian Agnia semakin besar, menghampiri kembali Hendra yang masih terpaku ditempatnya.
"Kau pergi dari sini atau aku bilang istrimu! Ini kan nomor istrimu? Dia tidak menggantinya bahkan setelah aku menemuinya untuk mengantarkan uangmu itu!" Ujar Agnia dengan memperlihatkan foto profil dengan nomor kontak istri Hendra.
"Atau kau mau mendengar suaranya?" Ancam Agnia dengan mendial nomor kontak itu lalu menempelkannya di telinganya.
"Masih aktif!" ucapnya lagi lalu mengubahnya menjadi load speaker agar Hendra bisa mendengarnya dengan jelas.
"Sialan ... Gadis kurang ajar! Awas saja," ucap Hendra dengan bergegas masuk kedalam mobil.
Zian menyusulnya dan mencekalnya dengan memegangi bahunya, "Hei ... jangan asal bicara! Atau kau aku hajar!"
"Tidak usah ikut campur, kau lebih baik urus dia ... ibu dan anak sama saja, mereka pengacau!" Hendra masuk kedalam mobil lalu melaju dengan kencang.
Agnia tertawa hingga terpingkal, sementara Zian tidak tahu apa-apa, dia pun kembali berjalan mendekatinya.
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada!" katanya dengan berjalan kearah samping rumah, kemudian dia duduk diayunan, dengan terus tertawa.
"Pasti terjadi sesuatu! Tidak mungkin tidak terjadi sesuatu antara kamu dan pria itu!" Zian mulai memperlihatkan ketidak senangannya, pasalnya pria tersebut hampir diatas usianya, dan dia tahu kebiasaan Agnia dulu saat sering kali membantu Cecilia.
"Dia bukan Daddy yang kamu kerjai kan Nia?" tanyanya dengan tersungut.
__ADS_1
Tawa Agnia terhenti, lalu dia menatap Zian yang tengah menatapnya tajam. "Bukan sih! Tapi ..."
"Kamu masih nakal yaa!" kata Zian dengan mencubit pipi Agnia dengan kesal.
"Iih ... enggak dengerin dulu! Dia itu pria hidung belang!"
Zian yang sudah berkacak pinggang pun berdecak, "Ya aku tahu dia pasti hidung belang, kalau tidak mana mungkin dia menggodamu Nia!"
"Berarti Om Zian juga pria hidung belang dong!" Agnia kembali tergelak.
"Nia!"
"Ah ... iya maaf!" Agnia segera menutup mulutnya namun tetap tertawa.
"Sepertinya aku perlu menghukummu!" Zian mengangkat tubuh Agnia dan membawanya kedalam mobil, walau Agnia berteriak, dia tidak peduli.
"Hey ... Om mau aku kena marah Mommy?"
Zian yang masuk kedalam mobil pun mengunci mobil secara otomatis hingga gadis berusia 17 tahun itu tidak bisa keluar.
"Aku tidak akan melepaskan mu keluar sebelum mengatakan semuanya."
Agnia pun mendengus, "Iya oke, aku akan cerita tapi Om tidak boleh marah apalagi menghukum Nia! Deal!" ujarnya dengan menjabat tangan Zian walaupun pria itu masih belum mengatakan apa apa.
"Ya aku anggap Om setuju, dan aku tidak menerima ketidaksetujuan, karena semua sudah terjadi." ujarnya dengan terkekeh.
Agnia pun menceritakannya dari awal hingga akhir, bagaimana dia berpenampilan demi bertemu Hendra, meminta bantuan Cecilia untuk membuatkan janji dengannya dan terakhir menjebaknya dengan menguras semua uang yang ada di rekeningnya. Sampai menjebak mommynya sendiri.
Dahi Zian berkerut, entah beberapa kali dia harus tersentak juga terhenyak saat mendengarkan Agnia, helaan nafas pun berkali kali dia lakukan.
"Kamu memang gadis liar, nekad sekali melakukan hal itu Nia astaga! Bagaimana kalau waktu itu justru dia yang memangsamu!" sentak Zian kesal.
"Om tenang aja, buktinya Nia ada disini kan! Nia bisa jaga diri kok!"
Reaksi Zian sama kayak Regi, ah tiba-tiba gue kangen dia juga temen temen gue yang lain.
"Tenang- tenang, bagaimana aku bisa tenang, kamu selalu nekad seperti itu Nia!" Zian memijit keningnya yang mulai berdenyut.
"Apa ibumu tahu kalau itu adalah kau?"
__ADS_1
Agnia menggelengkan kepalanya, "Belum sih! Tapi Nia juga gak ada niat buat cerita sama mommy, biarin aja! Yang penting si Hendra itu gak akan berani kemari lagi!"
Zian mengenadahkan tanganya, "Berikan ponselmu!"
"Eeh ... untuk apa?" Gadis itu tersentak, dia menyembunyikan ponselnya dibalik punggung nya.
"Berikan saja!"
"Tidak mau!"
"Berikan atau aku akan membawamu tinggal di rumahku sekarang juga!"
"Ngancem terus!!"
"Ayo berikan!"
Agnia meletakkan ponselnya pada tangan Zian dengan sedikit kasar, tak lama Zian mengotak ngatik ponselnya dengan ponsel milik Agnia.
"Dengan begini, aku akan tahu kemana kamu pergi, dan dengan siapa kau berhubungan!"
"Iihhh ... apaan ih ... norak banget!" Agnia memukul lengan Zian dengan brutal.
"Itu karena aku tidak ingin kamu melakukan hal seperti ini lagi! Jadi aku singkronkan ponselmu dan juga ponselku menggunakan email milikku!" ujarnya dengan mengembalikkan ponsel milik Agnia.
"Norak!!"
Zian terkekeh, "Demi kebaikanmu sayang, aku tidak mau hal seperti itu terjadi kembali, walaupun niatmu baik, tapi kita tidak akan tahu, banyak orang jahat Nia ... dan kamu masih terlalu kecil untuk masalah itu, menyelesaikan masalah dengan cara seperti itu tidak semuanya berhasil, kamu hanya beruntung, lalu bagaimana jika suatu hari kamu tidak beruntung! Tidak hanya kamu yang rugi Nia, tapi orang tuamu!"
Agnia mencebikkan bibirnya mendengar semua perkataan Zian.
"Haruskah aku ingatkan apa yang terjadi pada Jasmine Nia? Yang bahkan dia melakukannya dengan suka sama suka, bagaimana jika melakukannya karena paksaan, tidakkah kamu bisa faham itu Nia?" lirih Zian menasehatinya.
"Aku hanya khawatir itu terjadi padamu Nia! Jadi to___!"
"Hmmmpptt ...!!"
Seketika Agnia membungkam mulut Zian dengan bibirnya, dia menggigitnya sedikit hingga bibir yang tengah terbuka itu semakin terbuka.
"Dasar cerewet ... aku udah faham dan aku ngerti!" ujarnya dengan menyusut bibirnya dengan punggung tangannya.
__ADS_1
Zian mengerjapkan kedua matanya, dengan meraba bibirnya sendiri. "Apa caranya harus begitu agar aku berhenti bicara, atau memang kamu ketagihan bibirku ini Nia!"
"Zian!!! Ih ngeselin banget!" ujarnya dengan memukul paha Zian dengan keras.