Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 82


__ADS_3

Agnia meninggalkan Adam begitu saja, lebih baik menjauh dari pada mencari masalah baru, dan dia tidak ingin menyakiti Serly, bagaimana pun juga Serly itu adalah sahabatnya, meskipun kedekatan mereka tidak seperti dulu lagi.


"Nia, tunggu!" teriak Adam mengejarnya.


Dia berhasil menyusulnya saat Agnia berada diselasar gedung, Adam mencekal lengannya. dan kini mereka saling berhadap-hadapan.


"Kenapa Nia? Apa kamu masih marah sama aku karena Serly?"


"Enggak Dam, gak ada hubungannya!"


"Apa karena aku pernah menolak mu tempo hari, dan bersikap dingin padamu? Maaf, itu karena aku belum menyadari perasaanku."


Agnia menghela nafas, bagaimana dia menjelaskan jika penolakan itu tidak berarti apa-apa untuknya, lagi pula pernyataan cintanya dulu hanya untuk sebuah permainan yang telah dia sepakati bersama Cecilia dan juga Nita, dia memang sempat menyukai Adam, namun itu dulu, jauh sebelum Adam dan Serly ketahuan, dan Agnia merasa bodoh sejak saat itu.


Duh gimana ngejelasinnya, dia gak ngerti-ngerti sih!


"Kenapa gak jawab Nia? Apa yang aku bilang itu benar?"


"Dam...! Bu___"


"Agnia? Masih disini ternyata?"


Agnia dan juga Adam menoleh ke arah suara, terlihat Regi yang berjalan ke arah mereka, dengan membawa sebuah gitar yang tersampir dibahunya.


"Jadi bener, orang yang kamu suka itu Regi?" ucapan Adam menohok Agnia, pun dengan Regi yang sontak kaget.


Agnia bilang suka gue?


"Dam please, gue harus pergi! Dan lo tahu sendiri kan kalau perasaan itu gak bisa dipaksa." Agnia berbalik, "Gue pulang dulu!"


Regi yang berdiam itu pun mengikuti Agnia menuruni tangga.


"Ada apa sama Adam dan Lo Nia?"


Agnia menghela nafas, Kenapa bisa barengan gini sih! Mereka semua nyatain perasaannya hampir bersamaan.


Agnia duduk di bangku yang terdapat di dekat taman, begitupun dengan Regi yang mengikutinya.


"Kenapa? Hem ... gara-gara Adam nih pasti!" tanyanya penasaran.


"Adam nyatain perasaannya sama gue Gi! Padahal sebelumnya dia sama Serly, gue kan gak mau nyakitin Serly Gi, bener gak?"


"Lo nya sendiri gimana? Lo suka gak sama dia." ujarnya ketus.


Agnia menoleh pada Regi, "Gue gak gimana-gimana!"


"Terus apa yang bikin lo jadi murung gini? Lo khawatir nyakitin Serly?" Agnia terdiam.


"Astaga Nia, lo masih mikirin orang lain aja sih! Kapan lo bahagia kalau cuma mikirin perasaan orang, kalau lo suka sama Adam ya udah, lo bilang sama dia!" ucap Regi.


"Terus lo gimana?"

__ADS_1


"Gue sakit lah anj ... tapi gue pengen lihat orang yang gue sayang itu bahagia, dan kalau Adam bisa bikin lo bahagia! why not ...!"


"Emangnya Lo gak bisa bikin gue bahagia?" tanya Agnia, membuat Regi mengernyit.


"Maksud lo!"


Agnia bangkit dari duduknya dengan kesal, "Tahu ah! Gue mau pulang aja."


Agnia pun berlalu meninggalkan Regi yang tengah kebingungan, hingga datang Adam dan duduk dihadapannya.


"Gue harap lo sadar diri Gi! Lo gak pantes buat Agnia."


Regi menatap tajam pada Adam, "Jadi siapa yang pantes buat dia? Lo gitu? Masih gak sadar juga lo, udah ditolak?" Regi bangkit dan pergi meninggalkan Adam yang merasa dongkol sendiri.


"Lo lihat aja nanti, gue pasti dapetin Nia!"


.


.


Agnia keluar dari gerbang sekolah, kedua matanya langsung tertuju pada mobil sport berwarna putih, dengan Zian yang berdiri bersandar pada pintu mobil, dengan kedua tangan yang melipat di depan dada.


"Tumben dia gak nyamperin gue ke dalam." gumamnya lalu berjalan menghampirinya.


"Udah selesai?" tanya nya datar, dengan melepas kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya.


"Udah ...!" jawab nya singkat.


"So ... kita langsung pulang!"


Agnia merasa heran dengan sikap Zian yang lebih diam dari pada tadi pasi saat mengantarnya ke sekolah, perubahan itu kentara terlihat. Bahkan dia mencengkram kemudi dengan kuat.


"Kenapa Om? Sakit!"


Zian menggelengkan kepalanya, "Tidak!"


"Terus kenapa?"


"Memangnya kenapa?"


Dih mulai aneh lagi.


Pria yang tengah kesal itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah. Membuat Agnia merasa bertambah heran, setiap ada mobil yang menghalangi jalan mereka, dia pasti menekan klakson dengan kencang.


"Om kenapa sih! Gak jelas banget, bawa mobilnya pelan aja!" seru Agnia yang merasa Zian aneh.


"Kalau aku bilang, memangnya kamu akan mengerti? Aku rasa tidak!" jawabnya kesal.


"Ih nyebelin banget! Gak jelas lagi!"


Agnia menyandarkan punggungnya di sandaran seat, lalu mencoba memejamkan mata. Mengabaikan Zian yang aneh pula.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian mobil berhenti di depan rumah, Zian turun dari mobil tanpa mempedulikan Agnia.


Gadis itu turun dengan heran, melihat Zian masuk ke dalam rumah begitu saja.


"Kenapa sih dia, kayak cewek lagi PMS aja, marah-marah gak jelas!"


Agnia masuk dan melihat Zian yang menutup pintu kamar dengan keras, lalu dia memilih menghempaskan tubuhnya diatas sofa, mengeluarkan laptop lalu mengerjakan tugas sekolahnya.


Zian kembali keluar dengan pakaian yang sudah berganti, "Ganti baju dulu, makan dulu baru mengerjakan tugas!" seru nya dengan duduk dimeja makan.


Agnia mendengus, dia tidak menghiraukan perkataan Zian dan tetap mengotak atik pekerjaan rumahnya.


Zian bangkit dan menghampirinya, lalu dengan gerakan cepat dia mematikan laptop Agnia.


"Hei ... Om kenapa malah dimatiin! Nia belum save itu! Ih ... ngeselin."


"Aku bilang makan dulu Nia, baju saja belum diganti begitu!"


"Lagian Om kenapa sih, gak jelas banget jadi orang, marah-marah aja terus."


Zian meraup wajahnya dengan kasar, lalu menarik tangan Agnia dan membawanya ke meja makan.


"Duduk! Kita makan dulu!"


"Aku gak laper! Om duluan aja." Agnia bangkit kembali dan berjalan ke arah sofa.


"Nia ...!"


"Aku bilang nanti saja Om, tugasku banyak!"


Zian menghela nafas, dan membiarkan Agnia begitu saja.


Ya Tuhan, aku benar-benar sudah gila karena Masalah ini.


"Temanmu menyukaimuu kan? Yang menjadi penyanyi kafe itu?"" ujar Zian.


Langkah Agnia terhenti, dia menoleh ke arah Zian, "Maksudnya? Om menguping pembicaraan Nia sama Regi?"


Dengan langkah gontai, Zian mendekat, lalu dia mengangguk, "Aku melihatnya, bahkan aku melihat dan mendengarnya sendiri, Bocah yang satunya lagi juga menyukaimu kan?"


Kok dia tahu semua, jangan-jangan sebelum nya dia masuk buat nyariin gue.


"Om ...!"


"Maaf Nia, tapi aku tidak bisa menahan diri! Aku tidak suka melihat mereka mendekatimu! Kau akan tetap disini menemaniku!"


Agnia terdiam, dia hanya berdiri saat Zian semakin mendekat ke arahnya, pria matang itu menarik tubuh Agnia kedalam dekapannya, "Maafkan aku, nyatanya aku cemburu melihatmu dengan laki-laki lain."


Kedua tangannya menahan dada bidang milik Zian, "Tapi Nia gak ngapa-ngapain! Eehh Om...!"


Namun Zian menariknya lebih dalam lagi, "Nia ... jangan terima mereka!"

__ADS_1


__ADS_2