
"Nia?!"
Laras menyentaknya, dia sampai menarik lengan Agnia karena ucapannya sungguh menyakitkan, baginya Dave adalah cintanya, dan bagaimanapun juga Dave adalah ayah kandung Agnia.
"Kamu tidak boleh berkata seperti itu Nia! Dia ayahmu!"
Agnia menoleh pada sang ibu, "Mommy bisa berkata seperti itu karena Mom gak tahu apa yang terjadi!"
Laras menatapnya dengan pandangan nanar, lalu menatap wajah Dave.
"Tetap saja, apapun yang terjadi, aku tetap ayahmu Nia!" lirih Dave.
"Begitupun dengan seorang anak yang bahkan tidak anda akui keberadaannya! Apa anda tidak sadar juga! Hah ...."
Semua orang tersentak, begitu juga dengan Zian, dia tidak menyangka gadis berusia 17 itu benar-benar seorang gadis pemberani. Dave tak kalah terhenyak mendengar ucapannya, kedua matanya langsung tertuju kepada Zian, dia berjalan mendekatinya.
"Apa yang kau katakan padanya Zian? Kau mau merusak hubungan ayah dan anak?" ujarnya dengan kedua tangan merangsek kerah leher Zian dengan kuat. "Kau sengaja membuat anakku sendiri membenciku? Hah!" tambahnya kemudian.
Zian menepiskan kedua tangan Dave dari kerahnya, "Kau salah Dave, aku mencintai putrimu dengan tulus, aku ingin membuat dia bahagia, sama halnya dengan aku menyayangi Jasmine, aku juga ingin melihatnya bahagia. Meskipun nyatanya tidak bisa dan sangat terlambat, apa kau tidak sadar juga, putrimu ingin punya ayah hebat yang bisa mengakui kesalahannya, bukan bersembunyi."
__ADS_1
Dave terdiam, ingatan nya tertuju pada Jasmine, seorang gadis berusia 17 tahun yang masa depannya dia hancurkan, kemudian dia tinggalkan begitu saja.
"Sekarang kau tahu rasanya tidak diakui Dave? Sakit bukan?! Apa kau tidak bisa bayangkan gimana jadi Jasmine dan anaknya terjadi padaku Dave?" teriak Agnia dengan linangan air mata. "Jika bukan karena Om Zian yang nolongin Nia! Mungkin saja Nia mengalami hal yang sama dengannya, dia tidak hanya kasih Nia tempat perlindungan, dia juga memperhatikan semua, yang seharusnya kau yang lakukan itu Dave, kau juga Mom. Kalian...!" terangnya lagi, dengan kedua tangan sibuk menyusut air mata yang terus mengalir.
"Nia benci air mata ini terus turun untuk orang-orang seperti kalian, orang tua yang tidak pernah peduli, lebih-lebih untukmu Dave! Jadi lebih baik kau pergi, pergi yang jauh ...!!"
Dave berbalik mengarah pada sang putri yang terus menangis, hatinya benar-benar sakit dengan semua yang dikatakannya, bak sembilu yang pelan-pelan namun pasti mengiris hati hingga perlahan lahan hancur. Lebih sakit rasanya, melihat putri satu satunya itu tidak membutuhkan kehadirannya lagi.
Lalu bagaimana dengan anak yang lain yang dikandung oleh Jasmine, anaknya yang bahkan tidak tahu apa dia laki-laki atau perempuan, apa mirip dengannya seperti Agnia atau justru mirip Jasmine yang manis dan lugu.
Dave memaku ditempatnya, dengan fikiran menerawang, manik hitam nan tajam itu berubah nanar dan berkaca-kaca, menatap Agnia yang terus menangis.
"Pergilah Dave ... anggap kau tidak punya anak! Karena Nia tidak Sudi jadi anakmu!"
Berbeda dengan Dave yang mematung, Laras kini terduduk disofa dengan lemas, seakan kedua tungkainya tak lagi bisa menopang bobot tubuhnya, dia merasa bingung, namun dia tahu kemana arah tujuan yang sedari tadi keluar dari mulut putrinya itu. Agnia seperti dirinya, pintar membaca situasi dan menganalisa masalah yang di hadapinya, namun dia tidak menyangka selama ini Dave yang dia cintai ternyata lebih pintar menyembunyikan rahasia besar. Lidahnya kelu, dia tidak mampu berkata-kata, putrinya memang benar, mereka orang tua egois, yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli akan anaknya sendiri, Laras bahkan dengan jelas mendengar putrinya sendiri lebih membela Zian yang bahkan dia adalah orang lain.
"Nia maafkan Daddy ... Daddy tahu Daddy salah dan berdosa! Tapi Daddy benar-benar menyayangi Nia, putri Daddy! Dan kejadian itu sudah 17 tahun yang lalu, itu sudah lama Nia ... dan semuanya tidak akan kembali!" kata Dave dengan melangkah mendekati Agnia.
"Stop ... tidak usah dekat-dekat, kau bukan seorang Daddy, kau pengecut ulung Dave, justru itu, tidak ada penyesalan sedikitpun dalam hidupmu selama 17 tahun ini Dave! Itu yang bikin Nia muak! Sekarang kau bersikap peduli akan hidup Nia, dengan memaksakan kehendakmu! Benar-benar muak!" Terang Agnia dengan lantang, namun lelehan air mata terus menganak sungai. Dia sangat ingin terlihat kuat dengan terus menyusutnya, walau nyatanya hatinya juga sakit.
__ADS_1
"Nia ... sudah cukup, tenangkan dirimu...!" ucap Zian berjalan maju, dia merengkuh bahunya lalu memeluknya, Gadis itu menangis tersedu didada bidangnya dengan kedua tangan melingkari pinggang Zian, membuat Dave maupun Laras semakin sakit hati melihatnya, harusnya mereka yang memeluknya, memberinya perlindungan, menghujaninya dengan kasih sayang, dan perhatian yang dia butuhkan, bukan orang lain yang justru datang dan menjadi penopang hidup putri mereka.
"Panggil dia Daddy Nia ... bagaimanapun juga dia ayahmu, orang yang membuat dirimu hadir kedunia! Hem," ujarnya dengan menyusut air mata dengan ibu jarinya, membuat wajahnya mengenadah kearahnya.
"Aku yakin pasti Daddymu sudah menyesalinya jauh-jauh hari, tanpa dia sadari. Kau bisa lihat itu dari berubahnya dia dan peduli padamu Nia." kata Zian dengan tersenyum tipis.
Nyatanya tidak mudah mengobati hati yang terlanjur sakit, Agnia justru mendorong dada Zian dengan keras, "Kau masih membelanya? Setelah apa yang dia lakukan padamu! Aaahhkk ... semua membuatku gila! Dia melempar tanggung jawabnya padamu Zian, dia menyerahkan Jasmine dan dan membiarkanmu yang bertanggung jawab atas perbuatannya, sama halnya sekarang ini? Haruskah kau juga yang bertanggung jawab atas hidupku yang seharusnya dia yang lakukan, kau naif sekali Zian! Kau jatuh dilubang yang sama!"
"Tidak begitu Nia ... aku melakukan itu karena aku mencintaimu!" ujarnya dengan kembali menarik tubuh Agnia dan mendekapnya.
Dave masih berusaha mendekati putrinya, "Nia ... Kemarilah, maafkan Daddy... Daddy menyesal dengan semua yang terjadi dimasa lalu... Daddy benar-benar menyesal."
"Pergilah Dave! Biarkan Nia waktu, kau juga perlu waktu ... kita berdua telah begitu menyakiti putri kita sebegitu beratnya!" ujar Laras dengan tangan menyentuh bahu Dave.
"Maafkan aku Laras ... aku bersalah karena menyembunyikan rahasia besar ini begitu lama dari kalian!"
"Sudahlah ... Dave, itu masa lalu, kau juga sudah punya keluarga baru disana. Jangan kau lakukan hal ini pada mereka, atau kau akan kehilangan semua anak-anakmu seperti Nia." ucap Laras dengan lirih, dia memang tidak bisa menerima pernikahan kedua Dave, terlebih dengan wanita yang tidak ingin dia ingat ingat lagi.
Agnia masih dalam dekapan Zian, dengan kepala tenggelam dalam pelukannya.
__ADS_1
"Nia ... maafkan Daddy, Daddy pasti akan kembali untukmu Nia, kau putri Daddy, kesayangan Daddy, akan tetap begitu sampai Daddy mati! Maafkan Daddy Nak!"