
Zian dan Dave terbelalak mendengar dokter Irsan mengatakan hal itu dengan mudahnya. Hal yang Dave kira hanya dirinya saja yang tahu mengenai perasaan Kim pada Zian, namun ternyata salah.
"Apa?" tanya Irsan pada Zian yang masih menatapnya dengan kedua mata yang membulat sempurna, lalu menoleh pada Dave yang juga sama dengan reaksi yang diperlihatkan oleh Zian.
"Apa? Aku hanya menduganya saja! Benarkan? Mana mungkin Kim bisa pergi meninggalkan Zian, never ... dunia akan kiamatpun Kim tidak akan melakukannya, atau bahkan jika kita menyuruhnya memilih, lompat kedalam jurang atau meninggalkan Zian, dia pasti akan memilih hal yang pertama. Hanya itu satu satunya alasan Kim bisa pergi dari mu bukan? Satu satunya alasan dia bisa meninggalkanmu ya karena dia menyukaimu bukan?"
"Tutup mulutmu Irsan! Apa perlu aku suntik mulutmu agar tidak bicara sembarangan!" ujar Dave bangkit dan mendorong bahu dokter yang belum mengerti apa apa. Kepalanya menoleh kearah Dave dengan heran.
"Kenapa kau?"
"Tidak usah banyak bicara ... selesaikan tugasmu lalu pergi dari sini!" sentak Dave lagi, diam diam dia melirik Agnia yang masih terpaku ditempatnya.
Zian hanya menghela nafas dengan berat. Namun tidak sedikitpun menatap Agnia, dengan menyandarkan kepalanya disandaran sofa lalu memejamkan matanya. Mendengar ocehan Dave dan Irsan membuat kepalanya kembali pusing.
"Maksudnya Kim menyukaimu selama ini?" gumam Agnia yang beralih menatap Zian. Menatap wajahnya yang tengah terpejam, Zian tidak menjawab, namun tangannya meraih tangan Agnia lalu membawanya ke atas dada dan memggenggamnya.
Agnia menatapnya dengan nanar, dia ingin bicara namun sepertinya waktunya tidak pas, mengingat Irsan dan juga Dave masih ada disana dan terus ribut.
"Sudahlah aku akan pergi kerumah sakit! Ini obat dan vitaminmu Zian, kalau Kim tidak bisa menyiapkannya, kau harusnya kabari aku!" Irsan menenteng tas miliknya namun menatap Agnia. Dia benar benar tidak tahu jika gadis yang disukai Zian itu kini telah benar benar dinikahi.
Irsan keluar dari ruangan kantor di ikuti oleh Dave. Sementara Zian tidak berkata apapun lagi.
"Mulutmu seperti wanita Irsan! Kau tahu putriku kini adalah istri Zian?"
"Mana aku tahu! Adakah diantara kalian yang memberitahuku! Jadi aku tidak salah." Irsan mengerdikkan bahu.
"Kenapa kau tahu perasaan Kim? Apa Kim sudah bicara denganmu?"
"Kenapa kau tanya begitu? Apa ada hubungannya dengan mu?"
__ADS_1
"Dia kekasihku sekarang! Jadi jelas ada hubungannya denganku, aku tidak ingin rumor itu mencuat, menyebar dan mempengaruhi hubunganku, begitu juga dengan hubungan putriku!"
Irsan terhenyak, dia menggelengkan kepalanya dengan sedikit menunduk mendengar penjelasan Dave.
"Apa apaan kalian ini! Benar benar aneh, kau berkencan dengan Kim? Zian dengan putrimu? Tidak masuk akal."
"Kau belum menjawab pertanyaanku! Apa Kim bicara denganmu?" tanyanya ulang, dia benar benar penasaran dengan Irsan yang tahu perasaan Kim.
Irsan hanya menghela nafasnya lagi, dia mengayunkan kaki ke kursi yang berada disamping pintu ruangan Zian. Dan Dave mengikutinya.
"Aku ini seorang dokter, selain belajar tentang pengobatan, aku juga belajar memakai perasaan, aku bisa tahu seseorang berkata jujur atau bohong tentang penyakitnya hanya dengan menatap wajahnya, apalagi ini! Masalah hati ... sekalipun dia berbohong seribu kali tidak menyukainya, tapi dari sorot matanya aku bisa melihat. Pandangannya matanya tidak berubah, aku mengenal Kim dari sejak kami kuliah, dan yang dia bicarakan hanya sosok Zian. Kau tahu! Dan aku sudah menduganya." terang Irsan panjang lebar dengan berkali kali dia menghela nafas. "Dia bahkan menolak pria pria yang secara terang terangan menyukainya, dengan alasan yang tidak masuk akal." sambungnya lagi.
"Apa?"
"Pengabdian pada kakek Zian. Bodoh sekali! Itu yang tertanam di otaknya sejak kecil hingga menanjap sampai dia dewasa bahkan sampai sekarang." terang Irsan lagi, fikirannya bahkan melayang ke masa dimana mereka masih sama sama menimba ilmu di fakultas yang sama.
Dave mengangguk anggukan kepalanya, mulai mempertanyai dirinya sendiri dengan maksud Kim yang menerima dirinya dengan mudah. Bahkan dia tidak bersusah payah terlebih dahulu agar dalam meyakinkan wanita berwatak keras itu.
Dave ikut bangkit, dia hanya mengangguk sampai Irsan mengayunkan kakinya pergi. Dengan kedua tangan yang dia masukkan kedalam saku celananya. Dave berjalan kembali ke ruangan Zian namun langkahnya harus terhenti saat mendengar mereka yang tengah bicara.
"Kenapa om gak pernah cerita kalau sekretaris Kim menyukai Om Zian?"
"Aku baru saja tahu!"
"Aku tidak percaya! Selama ini sekretaris Kim selalu dekat. Masa gak keliatan kalau dia suka."
"Tidak tahu baby!" jawabnya masih dengan mata yang terpejam.
"Kau pasti bohong! Tidak mungkin kau tahu tahu. Selama ini kau tahu perlakukannya untukmu, aku saja iri karena dia mengenalmu dengan baik! Bahkan aku kagum dan ingin seperti dia."
__ADS_1
"Dia memang banyak membuat orang kagum!" ujar Zian dengan jujur karena itulah kenyataannya.
"Tuh kan!! Sebenarnya kau jug---"
"Tidak sama sekali Baby!" jawab Zian, kali ini matanya terbuka dengan kepala yang dia miringkan menatap sang istri. "Aku tidak menyukai Kim. Aku menyayanginya karena dia saudaraku. Tidak lebih baby." ujarnya lagi. Tangannya masih menggenggam tangan Agnia dengan erat.
Agnia menatap wajah Zian dengan lekat, "Terus kenapa gak cerita langsung ke Nia saat Om tahu hal itu? Kenapa malah Nia tahu dari dokter Irsan!"
"Karena aku rasa itu tidak penting!"
"Tidak penting? Kau bilang tidak penting? Itu penting buat Nia!" ujarnya dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Zian mulai tersulut, namun dia sekuat mungkin tidak terpancing.
"Terus sekretaris Kim pergi gara gara Om nikah sama Nia? Dia kecewa lalu memutuskan pergi?"
"Baby sudahlah tidak usah dibahas lagi."
"Kenapa? Karena itu tidak penting? Gak penting buat Om, tapi penting buat Nia Om!"
Zian mulai ikut emosi karena Agnia terus mendesaknya, sedangkan apa yang dia rasakan pada Kim tidak lebih.
"Apa kau juga menceritakan Regi sampai detail? Tidak bukan! Kenapa? Karena tidak penting untukmu bukan? Apa kau pernah berfikir itu penting untukku? Tidak kan?"
.
.
Om Sabar Om ... nanti tambah parah sakitnya.wkwkwk ...gara gara si dokter nih ah.
__ADS_1
Sabar ya kalian, tunggu othor ngebut lagi tapi nanti...hihihi.