
Agnia dengan cepat menghindari tatapan aneh dari Zian, tidak setajam biasana, kali ini terlihat teduh dan menenangkan, namun justru Agnia malah merasa takut.
Gila gak sih, mukanya mupeng banget! batin Agnia, dia bergidig lalu membuang wajahnya ke arah lain. Sementara Zian melangkah menyusul Agnia, dia pergi ke dapur dan mulai membuka lemari es, mengeluarkan masakan yang telah disiapkan pelayan rumah.
Setelah memanaskannya kembali di microwave, Zian menyiapkan piring dan membawanya ke meja makan, melihat Agnia yang sudah tertidur dengan menelengkupkan tangan.
"Astaga, malah tidur! Tadi bilang lapar ... dasar anak kecil!"
"Padahal aku sudah memanaskan makan malam untuknya! Jarang-jarang aku masuk ke dapur dan menyentuh barang-barang di dalamnya." gerutunya dengan menatap Agnia.
"Heh ... Nia, ayo bangun! Nia ... Agnia?" panggilnya berulang kali dengan menggoyang-goyangkan bahunya.
Namun Agnia tidak juga membuka mata, bahkan dia tidak merasa terganggu dengan suara Zian, hingga akhirnya Zian kembali menggendongnya, dan membawanya ke kamar.
"Tadi bilang aku hanya modua karena dua kali menggendongnya, tapi lihat sekarang, dia seperti sengaja ingin aku menggendongnya! Kalau tidak untuk apa dia tidur saat perutnya merasa lapar. Dasar gadis liar!!"
Zian terus menggerutu sepanjang dia berjalan ke kamar, dan baru berhenti saat membaringkan Agnia di atas kasur, dia menarik selimut lalu menutupi tubuh Agnia.
Sesaat dia memperhatikan wajahnya yang tengah terlelap itu, terdengar dengkuran halus yang membuatnya tertawa tanpa suara, setelah itu dia merogoh ponsel dari saku dan mengambil fotonya.
"Hanya sedang tidur saja, dia terlihat dewasa dan sangat cantik...." gumamnya dengan memperhatikan foto yang dia ambil diam-diam itu.
.
.
Keesokan pagi
Agnia terbangun setelah merasakan perih pads lambungnya, akibat dari makan malam yang dia lewatkan begitu saja, karena tertidur.
"Tunggu, kenapa gue ada dikamar?" ujarnya memegangi perut.
"Bodo amat ah, gue laper!!" ujarnya beranjak menuju kamar mandi, dia hanya mencuci muka serta gosok gigi, lalu berganti pakaiannya dengan seragam sekolah, setelah itu, dia baru keluar dari kamar dan menuju ke meja makan.
"Non Nia sudah siap? Ayo sarapan dulu," ujar pelayan yang entah jam berapa datang dan entah jam berapa pulang itu.
"Iya Bi," jawab nya dengan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
__ADS_1
"Non pasti cari tuan ya? Beliau belum pulang, mungkin sebentar lagi."
"Heh ... euu, iya Bi,"
"Sudah lama tuan tidak berolah raga, biasanya dia juga bangunnya siang, apalagi kalau Non Dita ada di sini, dia tidak pernah bangun sepagi ini, dan melakukan jogging di pagi hari." terang pelayan dengan panjang lebar.
"Ooh...." ucap Agnia, dia sebenarnya tidsk peduli akan hal itu, namun ada yang menggelitik hatinya, Om Zian tidak pernah bangun pagi, apalagi olah raga sebelumnya, tapi kenapa sekarang dia melakukannya.
Agnia pun duduk dan mulai menyantap sarapan yang sudah disediakan untuknya.
"Tadi pagi, bibi lihat di meja ini masih tertata hidangan makan malam, tapi sepertinya belum sempat di sentuh,"
Pasti karena gue ketiduran, dan gak jadi makan malam.
Ceklek
Pintu terbuka, Zian yang baru selesai lari pagi itu masuk ke dalam rumah, dan pandangan mereka kembali beradu,
"Kau sudah bangun rupanya!" ujar Zian.
"Hem ..."
"Minum saja harus dilayani! Padahal sudah tua...." gumam Nia.
"Jangan mencari ribut, ini masih pagi Nona kecil!"
Trak
Bunyi garpu yang dia pakai untuk menusuk roti membentur piring, dengan kedua mata dia tajamkan ke arahnya. Tidak mau kalah dengan pria dihadapannya Agnia melakukan hal yang sama dengannya. Membuat Zian kembali berang.
"Bisa tidak kau berlaku sopan saat bersamaku?" ucap Zian menatapnya.
Namun Agnia malah mengulangi perkataannya. "Bisa tidak Om berlaku sopan saat bersama gue? Tidak kan ... jadi untuk apa gue berlaku sopan pada orang yang tidak sopan!" timpalnya.
"Kau...!" Zian membulatkan kedua matanya,
Agnia pun ikut membulatkan kedua matanya "Apa? Om fikir gue takut sama pria kayak Om? Sorry nih enggak sama sekali."
__ADS_1
Zian berdecak, "Timpal terus, cepat habiskan sarapanmu! Aku siap-siap dulu,"
Zian beranjak dari duduknya, dengan menyampirkan handuk kecil di bahunya,
"Hah ... apa? Jangan bilang Om mau nganterin gue! Gue gak mau ... gak mau!"
Zian menoleh ke arahnya, "Aku akan tetap mengantarmu!"
Agnia menghabiskan sarapan miliknya dengan tersungut, sementara Zian masuk ke dalam kamar nya dengan bersiul. Dia bersemangat sekali mengantarkan Agnia ke sekolah.
"Tuan, aku akan menyiapkan air." ujar pelayan rumah dengan tergesa.
"Tidak usah bi, biar aku saja!"
Tak lama kemudian, Zian kembali keluar dari kamar, dengan wajah segar. Raut wajahnya terlihat sumringah, membuat Agnia yang tengah memasang sepatu melihat ke arahnya dengan heran.
"Kenapa dia?" gumamnya.
"Ayo berangkat!"
Pelayan rumah yang sedang me
Agnia masih terpaku, menatap Zian yang melewatinya begitu saja, dia keluar dari rumah dan memanaskan mobil miliknya.
"Ayo Non, nanti kesiangan lho!" ujar pelayan rumah yang berdiri di belakangnya.
Pelayan itupun tersenyum, menatap Agnia lalu kembali ke dalam.
"Tumben sekali tuan Zian sehangat ini!"
.
"Udah gue bilang, gue gak mau dianter!" sungut Agnia saat masuk ke dalam mobil.
"Kenapa? Takut dikira benar-benar jadi sugar baby?" tukas Zian melajukan mobilnya.
"Eng ... ya gitu deh!"
__ADS_1
Zian menyunggingkan senyum, lalu menepikan mobil, dia sengaja membuka semua kancing kemeja yamg dikenakannya.
"Heh ... mau apa Om?"