
"Jadi itu yang lo mau Vin?"
Hal yang membuatnya tercengang, namun dia sudah bisa menyangka akan seperti itu.
Dalam video itu terlihat Vina tengah mengobrol dengan beberapa siswa, terlihat salah satu siswa yang berkumpul itu tertawa jahat. Agnia mennjeda video itu dan melihatnya dengan seksama.
"Ini teman lo yang bantuin lo?"
Gumamnya lalu memutar kembali video itu, Terlihat tertawa dan semua orang pun meladeninya.
Percakapan dari keduanya tampak tidak jelas. Sampai Cecilia menjelaskan jika Vina saat ini sudah punya banyak teman, dan terlihat bahagia. Gaya rambutnya yang berubah dan juga penampilannya juga.
"Lo keluarkan juga jati diri lo yang asli sekarang?"
Agnia tersenyum kecut, "Jadi apa yang dia inginkan ini? Dia iri karena aku banyak teman, sampai dia membuat teman-temanku membenciku Vina." gumamnya.
"Lo tunggu kejutan yang bakal gue kasih!"
Agnia membalas pesan dari Cecilia, lalu kembali menyimpan ponselnya di atas meja, masalah ini membuat fikiran nya kacau, bagaimana citranya disekolah menjadi buruk, namun juga membawa hikmah yang sangat besar, kedok teman-temannya terbongkar semua, dia juga lebih berhati-hati terhadap orang lain, dan tidak mudah percaya.
"Bodohnya gue dulu, gue fikir semua orang itu baik, namun nyatanya tidak."
Agnia terus berbicara sendiri, sampai dia bosan dan akhirnya keluar dari kamar. Dia memilih ke area belakang dan berjalan-jalan seputar taman kecil di halaman rumah. Dan tentu saja melewati kolam renang.
Hingga akhirnya dia membuka T-shirt Extra large. Menyisakan tank top dan hot pants yang dikenakannya. Setelah itu dia menceburkan dirinya ke kolam renang, bergerak kesana kemari tanpa berhenti, dia bukanlah atlet, namun juga tidaklah mahir dalam berenang, tapi keahliannya dalam berenang tidak bisa diragukan lagi.
Bibi pelayan rumah menyusulnya keluar, dia melihat Agnia yang tidak tampak kelelahan,
"Non ... makan dulu!"
"Nanti saja Bi!"
"Ditunggui loh Non!" ujarnya lagi.
Agnia berenang sampai sisi kolam, "Siapa yang nunggu?"
Zian muncul dari belakang, dan menatap Agnia dengan kedua mata yang melebar. Bibi pelayan rumah menyodorkan bathrobe pada Agnia yang spontan menutupi dadanya dengan tangannya sendiri. Dia langsung menyambar Bathrobe itu dan membungkus tubuhnya.
Zian langsung masuk dan tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menahan diri dengan berkali-kali menelan ludah nya sendiri.
"Bi ... tumben banget pulang kantor siang-siang begini?"
Gimana gak pulang terus, wong dirumah ada yang bening begini, males kerja pasti. bibi penjaga rumah hanya berani menjawab dalam hati, dan tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
Setelah berganti baju, Agnia kembali turun, karena Zian menunggunya di meja makan. Gue kayak istri kontrak gak sih?
Sejak kejadian semalam, Zian tampak berbeda, selain lebih banyak diam, juga tidak segalak biasanya, sementara Agnia terlihat biasa saja.
Rambut yang masih basah itu dia gulung ke atas, lalu di tutup dengan handuk kecil yang kegulungkan dan berkumpul di atas kepalanya, setelah itu barulah dia menarik kursi di hadapan Zian.
"Lain kali, pastikan kamu berenang pada saat tidak ada siapapun di rumah." ujar Zian datar.
Membuat Agnia yang akan menyuapkan makanan itu memaku.
"Memang iya, aku kan gak tahu Om pulang siang-siang!"
"Jawab terus kalau dikasih tahu!"
"Lah ... kalau gak dijawab emang Om ngomong sama siapa? Sama aku kan?"
Zian menghela nafas, Aku sengaja pulang lebih awal karena tiba-tiba merindukanmu, dan ingin melihatmu, malah disuguhi pemandangan yang membuatku semakin penasaran. lama-lama aku juga tidak bisa menahannya.
"Aku pulang karena ada barang yang ketinggalan!" kilahnya.
Agnia hanya mengerdikkan bahu, menikmati makan siang nya sendiri, tanpa peduli ucapan Zian.
"Sekretaris Kim nanti kemari, dia akan membantumu bersiap-siap!"
"Bersiap-siap? Mau kemana?"
"Pakai ini untuk mengeringkan rambutmu! Itu punya Dita,"
Dih siapa yang mau memakainya, apalagi punya orang, gue gak mau.
"Nia lebih suka manual? Biar rambut tetap sehat."
Zian berdecak, menarik tangan Agnia dan membawanya ke atas, "Om ... mau kemana sih! Nia bisa jalan sendiri,"
Zian masih tidak menjawab, dia membuka pintu kamar yang ditempati lalu, membuat gadis itu panik seketika. "Om ... jangan macam-macam, aku masih sekolah! Om ...."
Agnia meronta, berusaha melepaskan tangan Zian yang melingkari pergelangan tangannya, "Om, Nia masih kecil!!"
Zian menoleh ke arah belakang, dengan kedua mata yang menyoroti bagian atas laluberalihke bawah, "Hm ... masih kecil ya!"
"Om, jangan bercanda!"
Dugh
__ADS_1
Agnia terduduk di meja rias, Zian kemudian mencolokkan hairdyer, "Buka!!"
Gadis itu ternganga, "Apaan ... enggak mau!" ujarnya dengan menelengkupkan tubuhnya.
"Tanduknya Nia, aku mau mengeringkan rambutmu!"
Wajah Agnia kemerahan menahan malu, Sumpah demi apapun, gue berfikir dia sedang mode otak me sum, lagian ngomongnya sepotong-sepotong. Mana faham gue.
"Malu kan? Makanya otaknya jangan berfikir negatif melulu!" Tukas Zian dengan menghidupkan hairdyer.
"Makanya kalau ngomong itu yang jelas, jangan menggiring orang ke arah itu." kilah Agnia dengan membuang wajahnya ke arah lain.
"Memang bandel anak satu ini!" sambil mencubit lembut pipi Agnia.
"Eeh ...."
Wangi yang sama dirasakan kembali oleh Zian, wangi saat pertama kali bertemu Agnia, yang membuatnya merasa tenang, dan juga menyeruakkan sesuatu dalam dirinya.
Zian menghirup aroma itu di rambutnya, harum semerbak menerobos masuk ke hidungnya.
"Kamu memakai sampo apa? Perasaan dirumah ini tidak ada sampo semacam ini, sabun juga semua sama,"
Namun Agnia malah terkekeh, "Harum ya Om!"
Zian mengangguk, "Ini rahasia sih sebenarnya, tidak ada yang tahu!"
"Main rahasia, memangnya hanya kamu yang punya, sabun dan sampo dimana-mana juga sama!"
"Bedakan kalau dicampur!" Agnia kembali terkekeh.
"Maksudnya?"
Gadis itu mengambil botol farpum dan juga hand body miliknya di atas meja rias. "Nih Om ... sabun mandi cair dicampur dengan esen aroma terapi. Aku pake buat mandi dan sampo! Praktis kan?"
Zian terperangah, Jadi wangi yang selama ini dia fikir mewah dan beda itu ternyata berasal dari sabun cair dan juga esen aroma terapi.
Pria yang tengah berdiri itu menggekengkan kepalanya, "Nia ... Nia! Emang aneh kamu itu!"
"Praktis aja Om, awalnya cuma karena Nia buat jaga-jaga kalau pergi dari rumah! Dimana pun ada kan, di hotel ada, jadi kalau Nia di usir Nia masih bisa cantik dan wangi!". ujarnya dengan tertawa.
Zian beralih mengeringkan bagian bawah rambutnya, "Memangnya kamu di usir dari rumah?"
"Enggak sih! Nia yang memilih pergi!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kare--- eh ... udah ah, kenapa malah jadi curhat!"