
Agnia tiba disekolah, dia melambaikan tangan ke arah Dave yang melihatnya dari balik kemudi, dibelakangnya mobil Cecilia mengikuti, tak lama mobil Dave kembali melaju dan Agnia menunggu Cecilia juga Nita.
Mobil masuk kepelataran parkir, dua gadis cantik turun dari mobil berwarna merah itu. Agnia pun menghampiri mereka,
"Ce gimana Serly?"
Cecilia tampak menghela nafas, "Lo udah lihat Serly masuk belum?"
"Belum kenapa?"
Mereka berjalan menuju selasar gedung, dengan Nita yang menyamai langkahnya.
"Nia ... muka lo pucet amat! Abis direnggut kesucian ya!" celetuk Nita.
"Sialan lo Nit kalau ngomong paling bener!" Cecilia menimpali dengan sedikit tertawa, membuat Agnia yang mulai merona itu mendengus.
"Emang ada cirinya kalau orang abis direnggut apa enggak?" Tanya Agnia polos, dia memang tidak tahu perbedaannya, lagi pula tidak ada hasil ilmiah dari perbandingan itu.
Nita merangkulnya, "Kalau lo pengen tahu, Lo jalan sepuluh langkah kesana, nanti lo kan ketemu pohon melinjo kan! Nah Lo berdiri di situ sambil liatin pohon itu! Nanti lo juga bakal ngerasain sendiri!"
Agnia menatap Nita yang menganggukkan kepalanya, dia juga beralih pada Cecilia yang mengangkat ibu jari ke arahnya.
"Jalan kesana?" tunjuk Agnia ke area taman, garis lurus dari tempatnya berdiri.
"Nanti kita lihat disini! Lo juga bakal ngerasain ada yang aneh di pusat inti Lo! Kayak ada yang bengkak atau mengganjal gitu!" Sahut Nita di akhiri suara cekikikan.
"Lo jangan bercanda!!" Agnia tidak mau melakukannya karena dia pun sudah tahu jawabannya.
Kedua temannya tergelak sampai terpingkal, mereka hanya bercanda, karena mereka pun sudah menduganya.
Gadis berambut panjang itu berdecak, "Sialan Lo! Bercanda mu! Gue udah deg degan nih, masa iya gue harus lihat lihatan sama pohon melinjo."
Cecilia dan juga Nita semakin tergelak, sementara Agnia mendengus kasar sembari mencubit lengan keduanya.
"Yang gue tanya malah gak kalian jawab! Gimana Serly?"
"Nah itu ...!!"
__ADS_1
"Emangnya kenapa?"
Cecilia menarik tangan Agnia hingga mereka melipir ke area taman, suasana sekolah mulai ramai, mereka mencari tempat yang lebih sepi, dengan memandang ke kiri dan ke kanan agar tidak banyak orang yang lewat.
"Emangnya kenapa sih?"
"Lo tahu kan semalem gue bilang dia mabok parah!" Agnia menganggukkan kepalanya,
"Terus pas gue kesana, dia gak ada dong! Daddy gue bilang dia meracau kemana mana, dan seorang pria bawa dia!"
"Hah ... serius lo?" Kedua mata Agnia membola, dia menelan salivanya dengan berat, memikirkan bagaimana nasib Serly.
"Gue udah cari dia ke tempat lain, gak ada, gue gak tahu pria itu bawa Serly kemana!"
"Lo nggak bercanda kan Ce?"
"Heh ... gila aja lo! Timingnya pas gak buat gue bercanda? Enggak kan!"
" Ya terus?" Agnia justru bertanya, dia semakin risau memikirkan Serly, bagaimanapun juga dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Serly, apalagi jika apa yang diceritakan Cecilia itu mengarah pada bayangan terburuknya.
"Ya gak bisa gitu dong! Kita harus tahu dan pastiin kalau Sherly nggak apa-apa! Kalian tahu kan yang gue maksud?" Dia merogoh ponselnya dari dalam tas dan mendial nomor Sherly, namun panggilan berdering itu tidak ada yang menjawab nya "Gue harus pastiin dia baik baik saja!" Agnia mengayunkan kakinya menuju gerbang.
Cecilia dan juga Nita menyusul langkah Agnia yang terus melangkah keluar, "Gue emang tahu pemikiran Lo Nia ... tapi emangnya kenapa?" cicit Cecilia, yang hanya didengar Nita.
"Hm ... gue setuju! Kita aja udah berkali kali tapi masih hidup kan!!" Keduanya melangkah menyamai Agnia,
"Nia ... kita ada try out hari ini!" seru Nita mengingatkan, dia fikir bukan masalah besar jika apa yang Agnia takutkan benar benar terjadi.
"Gue nyusul nanti, pokoknya gue harus mastiin kalau Serly baik baik aja!"
"Gue yakin kok dia baik baik aja! Lo tahu kan hal itu gak serem serem amat!"
Namun tiba tiba langkahnya terhenti, saat melihat Serly turun dari mobil berwarna putih milik ayahnya.
Hati Agnia mencelos, begitu pun dengan kedua sahabat yang berdiri dibelakangnya.
"Gue bilang juga apa? Walaupun hal terburuk yang lo fikirin itu terjadi, dia gak bakalan mati! Kayak lo hari ini, masih bisa pergi kesekolah!" Cecilia bergumam dibelakangnya, dan di setujui oleh Nita dengan anggukan kepalanya.
__ADS_1
Serly berjalan mendekati mereka bertiga, wajahnya datar dengan tatapan tajam. Sampai dia berdiri didepan Agnia.
"Gue udah ngelakuin apa yang kalian mau! Hapus video itu sekarang!"
"Lo baik baik aja kan?" tanya Agnia dengan nada lirih.
Serly tertawa, "Lo masih peduli sama gue? Atau lo pura pura peduli?"
Agnia menggelengkan kepalanya, merasa sikapnya yang mengkhawatirkan Serly salah besar, nyatanya gadis yang berdiri di hadapannya itu masih saja angkuh.
"Lo mau tahu apa yang gue alamin semalam?" tanyanya dengan nada tinggi.
Nita melangkah maju, mendorong bahu Serly, "Gak usah nyolot bisa gak Lo?"
"Gue gak nyolot anjim!! Sentak Serly kembali mendorong Nita.
Agnia melerainya, berdiri di tengah tengah mereka, dan memastikan mereka tidak lagi saling dorong.
"Kalian gak perlu tanya gimana kabar gue! Gak mesti tahu juga apa yang terjadi sama gue, yang pasti tantangan kalian gak berarti apa apa buat gue!"
"Ngomong aja Lo suka! Pake nyolot ... lo nikmatin hidup lo kan Serl semalem kan?" cibir Nita yang heran kenapa Serly masih bersikap seperti itu,
"Kalau lo suka ... ngaku aja! Mabok bikin lo happy kan? Belum pernah kan lo ngelakuin hal itu?" Nita kembali mencibirnya, membuat air muka Serly berubah.
Dia memang menikmati nya, meminum alkohol diatas batas, mengekspresikan diri dan meluapkan kekesalannya pada sang ayah, hingga bertemu dengan pria yang terus menyanjungnya.
"Gu--gue gak kayak gitu!"
"Alah ... terus kalau lo gak nikmatin! Harusnya lo nangis dong pas ketemu kita, ngamuk ngamuk kalau perlu lo gak masuk sekolah seminggu karena trauma! Bukan datang nyolot terus bilang tantangan kita gak berarti apa apa buat Lo! Mikir!!!" Cecilia membentaknya dengan suara tinggi, sementara Agnia membatu ditempatnya.
Apa yang ada di fikiran Serly sekarang, gue bener bener gak paham.
"Udah deh bisa gak sih kalian gak ribut!! Kalian mau dipanggil pak Sopian lagi? Gak inget apa peringatan terakhir dia." Agnia menarik tangan Cecilia agar mundur dan tidak lagi bersikap sarkas pada Serly.
Mereka terdiam sesaat, sampai akhirnya Serly mengayunkan langkahnya masuk kedalam gerbang sekolah, dia tidak mengatakan apapun lagi. Sementara Cecilia dan juga Nita memukul udara.
"Huh ... dia fikir kita bego apa? Tinggal bilang suka aja usah banget, pake acara bilang tantangan kita gak ada apa apanya ya berarti dia suka!"
__ADS_1