
Hampir satu jam Agnia menangis di makam Serly, Cecilia dan Nita berulang kali membujuknya agar berhenti menangis dan segera pulang, namun tidak di gubrisnya sama sekali.
Begitu juga Zian, begitu banyak dia mengajaknya bicara. Tidak satupun dari ucapannya yang di jawab Agnia, bahkan dia seolah tidak pernah mendengarnya sedikitpun.
Agnia hanya diam, dengan sesekali menyusut air matanya yang masih sulit dia tahan. Entah seberapa banyak dia menangis, bukan hanya sedih kehilangan Serly, tidak sempat melihatnya beberapa bulan, tidak bertegur sapa, bahkan tidak saling meminta maaf. Agnia benar benar merasa bersalah padanya, bahkan untuk setiap waktu disaat mereka saling bertengkar, berdebat atau pun saling membalas kejahatan.
"Baby! Ayo pulang, kau sudah terlalu lama di sini."
"Iya Nia, Serly juga pasti tenang disana." sela Cecilia, dia mencoba membantu Agnia berdiri, tapi tentu saja Agnia menolaknya.
"Lo fikir gue bisa hidup tenang setelah ini?"
"Nia udahlah, ini emang berat! Tapi gak juga bikin Serly kembali."
"Lepasin gue! Gue gak mau ketemu lo dan lo lagi."
Cecilia dan Nita tentu saja kaget mendengarnya, sikapnya memang membuat Agnia kecewa. Namun tidak menyangka jika Agnia bisa mengatakan hal seperti itu.
"Nia ... Lo!"
"Udah Ce ...!" Nita menarik tangan Cecilia, dia mengajaknya pergi dari sana dan membiarkan Agnia.
"Tega banget dia ngomong gitu Nit! Kita emang salah, tapi itu karena mikirin dia juga. Egois banget si Nia,"
"Udahlah Ce ... kita ngalah aja dulu, Si Nia lagi dalam kondisi gak baik baik saja. Nanti dia juga sadar."
Cecilia menatap tajam Nita, "Lagak lo! So bener ... Kalau ternyata dia serius gak mau lagi temenan sama kita gimana?"
"Gak tahu gue! Kita balik dulu aja." ujarnya terus melangkah pergi.
Sementara Agnia kembali menangis, membuat Zian menghela nafas dan berjongkok di depannya.
"Kau fikir Serly akan senang melihatmu begini Baby? Dia pasti akan sedih dan sama denganmu, merasa bersalah karena membuatmu sedih sampai begini. Dan teman temanmu benar, Serly sudah tenang bahkan lebih bahagia di sana. Sementara kau sendiri?" Zian mengelus kepala Agnia dengan lembut, "Kau bahkan tidak memikirkan dirimu dan anakmu. Kau juga membuatku terlihat jahat karena melakukan semua ini, padahal aku memikirkanmu dan juga anak kita." tambahnya lagi.
Agnia mendongkak ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikan, tiba tiba dia memegangi perutnya yang kram. "Aaahh!!"
__ADS_1
"Baby kau kenapa? Apa perutmu sakit?"
Agnia mengangguk, Zian bangkit dan membantunya berdiri, "Ayo kita kembalisekarang."
"Aaah ... Sakit!!"
Agnia merasa ada yang basah mengalir di pangkal pahanya, dengan perut perut yang terus dia pegangi. Zian melonjak kaget saat melihat darah mengalir di sela paha Agnia.
"Astaga, Kita kerumah sakit sekarang!"
Dengan sekali gerakan Zian menggendong Agnia dan mmebawanya dengan dengan cepat ke dalam mobil, dia juga masuk kedalam dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Agnia sampai menggigit bibirnya karena perutnya merasa sakit luar biasa, dia juga memejamkan mata.
"Aah ... Sakit banget!"
Zian menelepon dokter Siska dan menyuruhnya berjaga jaga di depan, dia juga mengatakan apa yang terjadi pada Agnia.
"Sayang ... Bertahanlah! Kita segera sampai."
"Sakit!! Ini sakit banget, aku gak kuat!"
***
Blankar bergerak secepat mungkin dengan dua orang suster yang membawa Agnia masuk ke ruang darurat sementara Zian mengikutinya dengan perasaan cemas dan juga takut.
Dokter Siska segera memeriksanya, dia juga memeriksa kandungannya. Agnia terus menangis kesakitan, bahkan dia mencengkram tangan Zian yang memegangi tangannya erat.
"Lakukan sesuatu!" sentak Zian melihat istrinya yang terus histeris.
Dokter Siska menyuntikan obat pereda sakit padanya, juga obat yang dia suntikkan langsung ke dalam cairan infusnya. Dan Agnia mulai tenang, dia tidak lagi merasakan perutnya sakit, dia juga tidak sadarkan diri.
"Aku perlu bicara denganmu!" ujar Dokter Siska. "Kita harus melakukannya sekarang sebelum terlambat."
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Istrimu mengalami pendarahan, dan itu kan mengancam bayi dalam kandungannya jika tidak segera dilakukan operasi, Bayimu akan lahir prematur."
Zian terduduk lesu, ini yang dia khawatirkan dari awal, selain usia muda Agnia yang menjadi faktor utama, gejala setres yang dialaminya dan guncangan yang baru saja terjadi karena mengetahui Serly sudah meninggal.
"Itu sebabnya aku tidak memberitahukannya! Aku takut ini akan terjadi." gumamnya dengan kepala yang tertunduk.
Dokter Siska mengangguk, "Aku mengerti ... Dan sekarang tidak ada pilihan lain selain itu."
Akhirnya Agnia harus menjalani operasi caesar, dia ditangani oleh dokter Sam dan juga Dokter Siska. Sementara Zian berjalan mondar mandir di depan ruangan operasi dengan kecemasan yang luar biasa.
Laras datang dengan tergesa gesa, dia di ikuti oleh Carl dibelakangnya.
"Bagaimana putriku?"
"Entahlah ini sudah lebih dari satu jam, dan tidak ada yang keluar satu pun."
"Tenang lah Zian! Istrimu akan baik baik saja." Carl mencoba menenangkannya walaupun dia sendiri tidak yakin ucapannya akan di dengar.
Laras menghubungi Dave untuk segera kembali ke tanah air. Dia fikir ayahnya harus tahu keadaan putrinya saat ini.
"Jangan menganggu orang yang sedang honeymoon, mereka baru saja pergi Laras." celetuk Carl yang kemudian membuatnya mendapat tatapan intimidasi.
"Tidak usah ikut campur!"
Tak lama pintu terbuka, dokter Sam keluar dengan tergesa gesa bahkan dia tidak mengatakan apapun pada Zian, maupun orang yang sejak tadi menunggunya.
"Ada apa ini?" tanya Zian semakin panik.
Dokter Siska menyusul keluar, dia menatap ketiga orang yang menunggunya bergantian.
"Bagaimana istriku? Anakku?" tanya Zian tidak sabar.
"Bagaimana kondisi mereka?" serobot Laras.
"Syukurlah, putramu sudah lahir tuan Zian, tapi sekarang dia harus berada di inkubator dan dalam pantauan dokter Sam. Tapi ...!"
__ADS_1
"Tapi apa Dok?"
"Istrimu mengalami pendarahan hebat dan masih belum sadar juga!"