
"Tapi pelan-pelan kan Dad!!"
"Tentu sayang...."
Agnia mendorong tubuh Rendra hingga terlentang di atas ranjang, dan dia melangkah teramat pelan, mengalahkan seekor siput yang berjalan lambat, dengan gerakan se- sen sual mungkin.
"Ohh ... god!! Kau mempesona baby!" gumam Pria itu yang menarik tangannya, hingga Agnia hampir jatuh dan menindihnya, namun dengan cepat Agnia menahan tubuhnya dengan satu tangan yang menopang.
"Dad yang penuh pesona!!" lirihnya dengan menunjukan mata genit.
Semakin lama Rendra semakin dibuatnya meracau, semakin cepat pula kedua matanya kian menyipit. "Siapa namamu baby?"
"Call me Lady!!" ucapnya dengan mengedipkan mata.
"Lady ... kau membuatku se---"
Agnia beranjak dari posisinya, setelah pria itu kini terlelap karena obat tidur yang sengaja dia masukkan pada minumannya saat dia sibuk mengirimkan semua uang dalam rekeningnya.
"Level 1 done!" gumamnya dengan terkekeh.
Dia mengambil lipstik berwarna merah dari tasnya, lalu mengoles nya sedikit menggunakan telunjuk yang kemudian dia gosokkan ke lehernya sendiri, setelah selesai dia mengeluarkan kamera polaroid miliknya didalam tas. Lalu dia naik ke atas ranjang dan berpose seolah tengah berada di atas tubuhnya, dan meng-ekspose bagian punggung dengan dress yang sengaja dia turunkan.
Beberapa kali dia mengambil foto, dengan pose se sempurna mungkin, tak lupa dia mengacak rambut Rendra terlebih dahulu.
"Pengen gue jambak sekalian lo!! Jijik gue...."
Setelah berhasil mengambil beberapa foto, dia kembali merapihkan dressnya dan mengambil ponsel milik Rendra, beruntung karena ponselnya memakai finger print, perlahan dia kembali ke tepi ranjang, dan menempelkan jari Rendra di ponselnya.
Dia mencari kontak ibunya, namun tidak menemukannya "Sial ... apa dia tidak menyimpan nomor Mami?"
Agnia tidak menyerah begitu saja, dia mengetikkan nomor ibunya lalu mengirim pesan singkat langsung.
Datanglah ke hotel xx nomor 212. Rendra
"Level two done."
Setelah selesai, dia bergegas beralih ke meja dan menuliskan sesuatu di note kecil, dengan terus melirik ke arah Rendra.
Thank you for tonight, you were amazing, keep this for memento
Lady
Tak lupa dia selipkan 1 foto polaroid dengan pose paling bi nal. Kemudian dia membereskan barang-barangnya dan juga memakai kembali sepatu high hills nya, kemudian bergegas keluar. "Level three done."
"Rasanya kurang greget!!"
Agnia kembali masuk saat merasa ada yang kurang. Dia ambil lipstik merah, dan mengolesi bibirnya, lalu menempelkan bibirnya di note yang dia buat.
Dia mengangguk pelan saat semua dirasa udah sempurna. "Level two done!"
__ADS_1
Setelah itu dia melirik jam ditangan kirinya, waktu menunjukan jam 9 malam, dia lantas merogoh ponsel dan mengirimkan pesan pada seseorang.
"Bener-bener lo Agnia, perempuan ja langg!!" ucapnya pada diri sendiri.
Setelah berhasil mengirim pesan singkat, berhasil pula dia keluar dari hotel, dan mencegat taksi yang kebetulan baru menurunkan penumpang.
Dia masuk kedalam taksi dan menyandarkan punggungnya serta menghela nafas panjang,
"Jalan Pak!"
Ponselnya berdering, nomor kontak yang baru saja dia kirimi pesan singkat itu kembali menghubunginya, "Tidak percaya ternyata dia kalau suaminya itu nakal, mirip kayak Zian."
Tiba-tiba saja dia teringat sosok Zian, dan bagaimana jika Zian tahu kalau dia melakukan hal ini. Agnia menggelengkan kepalanya, "Dia masih di rumah sakit! Dan gak mungkin tahu."
Setelah mengirimkan 1 poto pada nomor istrinya Rendra, dia membuka sim Card yang berada dalam ponselnya lalu dia patahkan begitu saja, membuka kaca jendela dan membuangnya.
Tak lupa memasangkan kembali sim card miliknya, lalu kembali memejamkan mata.
Maafin Nia Mam ... terpaksa melakukan hal ini pada Mami, Nia cuma pengen Mami sadar, walaupun Nia gak tahu tujuan Mami itu apa?
Drett
Drett
Ponselnya berdering, Agnia melonjak kaget namun kembali lega karena ternyata Cecilia yang menelepon.
'Halo Nia ... astaga, lo bikin gue panik!! nomor lo gak aktif!'
'Gila apaan lo! Gue sengaja gak aktifin, kenapa?'
'Gue khawatir anjim sama lo, takut gue kalau lo malah terjebak!'
'Thanks Ce, gue baik-baik aja! Ini gue mau pulang!'
'Lo kesini aja deh, nginep di tempat gue! Tenang aman kok, gue lagi off!'
'Share deh lokasi lo, tapi gue mau ke butik dulu, ganti baju!'
'Udah lo pake baju gue anjim, stok baju gue banyak!'
'Sialan ... gak sekalian lo jualan!'
Agnia menutup telepon nya, Sudah lama sepertinya dia tidak merasa nyaman dan juga. bercanda apa-apa receh dengan teman-temannya, biasanya dia akan tertawa sampai puas dengan Serly dan Vina. Tapi semua sudah tidak pernah sama lagi, walaupun sebenarnya, dia berharap bisa kembali seperti dulu dengan Kedua sahabatnya itu.
"Aneh ... sekarang malah nyaman berteman sama Cecilia dan Nita, dibalik mereka melakukan pekerjaan seperti itu, tapi mereka terbuka sama gue."
Setelah turun dari taksi, dia menengadahkan kepalanya pada gedung Apartemen mewah dimana Cecilia tinggal.
Dia masuk dan terlihat Cecilia berdiri di depan pintu, "Akhirnya lo datang juga!! Gimana-gimana? Seru gak!"
__ADS_1
"Siap-siap aja lo dicariin orang!" Agnia terkekeh.
"Wah parah lo, jual temen sendiri!" ujar Cecilia melingkarkan lengan.
"Lo udah cek rekening lo?"
"Belum, gue takut pas lihat nya gue langsung mati!" Cecilia tergelak.
Agnia mengangkat kedua tangannya, "Gue aminin deh!!"
"Anjim lo!!" Mereka tertawa dengan berjalan menuju apartemen milik Cecilia. Mereka berjalan sambil bercerita mengenai aksi-aksi yang dilakukan oleh Agnia tadi, lalu tertawa hingga terpingkal dan saling dorong mendorong.
Mereka masuk kedalam apartemen Cecilia yang sangat mewah, Agnia sendiri terperangah melihatnya, "Gila lo, semua ini hasil keringat lo yang enak itu!"
Cecilia memukul lengannya, "Anj -- lo bego!! Gak sekalian aja lo umumin pake toa lo."
Agnia tergelak, "Thanks ya Ce ... lo udah bantuin gue!"
"Sama-sama, tapi sumpah yaa lo layak dapet piala oscar, akting lo luar biasa!"
"Sumpah lo masih usaha nge-jilat!"
Mereka tertawa kembali.
.
Sementara itu
Laras tersenyum membaca pesan dari Rendra, dan bersiap-siap pergi ke hotel dimana Rendra menunggunya.
Tak
Tak
Bunyi high hills menghentak lantai keramik, dia turun dari kamarnya dan keluar begitu saja, membuat Bi Yum yang melirik jam dinding menggelengkan kepalanya, "Semenjak bercerai dengan tuan, ibu semakin menjadi-jadi, bahkan dia melupakan Nia, putri kandungnya sendiri."
Laras mengendarai mobil dan melaju ke hotel, dimana Rendra menunggunya, tak lama dia sampai di hotel xxx dan keluar begitu saja, setelah memberikan kunci mobil pada petugas parkir.
Wanita cantik persis dengan Agnia itu masuk ke dalam lift, hatinya berbunga-bunga, saatnya melepas kerinduannya pada pria yang kini menjadi teman ranjangnya.
Pintu terbuka, Laras keluar dari lift dengan senyum yang mengembang sempurna, lalu berjalan ke arah kamar bernomor 212.
Begitupun dengan seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam hotel, dan bertanya pada resepsionis tentang tamu bernama Rendra, dan benar saja, informasi yang dia dapatkan itu ternyata benar,
"Kurang ajar!!"
.
.
__ADS_1
Gimana greget gak sama Agnia? Atau sama author...wkwkwk
Tinggalin jejak yaa, komen, like, gift dan vote juga. makasih semua.