
Hingga sampai dipersimpangan lampu merah, mobil Laras kembali mati, kali ini asap yang mengepul lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Laras panik, hingga dia keluar dari mobil dengan cepat.
"Sialan tuh montir! Benar benar tidak becus!" ujar Laras dengan kesal. Dia pun merogoh ponsel untuk kembali menghubungi pemilik bengkel dan mengkomplen kinerja montir yang menurutnya apa yang dia kerjakan sangat tidak profesional.
Karena Laras terlalu fokus pada ponselnya, dia tidak menyadari jika sudah ada beberapa taksi yang melewatinya begitu saja. Hingga Carl yang tengah mengemudikan mobil melihatnya lagi, dan berhenti.
Carl menurunkan kaca mobil dan sedikit melongo keluar. "Mogok lagi?"
Laras menyipitkan kedua matanya, lalu kembali mengotak ngatik ponselnya. Dia tidak ingin menggubris montir yang menurutnya terlalu berani.
"Ayo ... aku akan mengantarmu kemana saja kau mau nona! Atau jika kau ingin bersenang senang dulu, aku juga siap." Dua alis tebal itu kini bergerak naik turun, walaupun Laras hanya melihatnya dengan ujung mata.
"Sopan lah sedikit! Dasar tidak berpendidikan."
Laras menghentikan taksi, namun taksi itu tidak juga berhenti. Carl turun dari mobil dan menghampirinya.
"Ayo cantik! Aku antar pulang."
Dibawah sinar lampu yang menerangi mereka, Laras bisa melihat dengan jelas wajah Carl. Wajah yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang montir bengkel biasa.
"Kenapa? Kau mulai terpesona dengan wajahku."
"Jangan kurang ajar ya!"
Carl terkekeh, "Galak sekali ... aku hanya ingin membantu."
__ADS_1
"Dengar ya, aku tidak butuh bantuan mu. Lebih baik kau pergi dari sini! Atau aku akan benar benar marah."
Carl masih terkekeh, kali dia melangkah lebih dekat, hingga keduanya bisa saling menatap dengan jelas.
"Kau dari tadi sudah marah marah! Apa itu tidak cukup? Hem ...? Namaku Carl." Ujar Carl menyodorkan tangannya yang masih terlihat kotor.
"Enyahlah dari sini! Dasar montir kurang ajar! Kau fikir siapa kau ... berani sekali!"
Carl menarik kembali tangannya yang diabaikan Laras. "Sayang sekali!"
"Sana pergi! Jangan menggangguku!" ujar Laras yang kembali mencegat taksi lalu bergegas melangkah saat taksi tersebut berhenti.
"Jangan sampai kita bertemu lagi Nona ... kalau tidak, kau akan malu nanti!" seru Carl saat Laras berjalan dan masuk kedalam taksi.
Carl tergelak dengan terus menatap taksi yang membawa Laras pergi. "Mmpp ... Carl! Apa kata dunia jika mereka tahu kau ditolak kali ini. Wanita itu benar benar membuatku penasaran."
Laras kembali ke kediamannya dengan kekesalan yang memuncak, dia turun dari taksi dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Namun langkahnya terhenti dengan pandangan tajam ke arah kursi depan dimana Hendra tengah duduk disana.
Hendra bangkit dari duduknya, dia menyambut Laras yang terlihat berantakan.
"Laras! Akhirnya kamu kembali juga!"
Laras mendengus pelan, "Ada apa lagi? Bukankah aku sudah katakan, urusan kita sudah selesai? Aku tidak ingin lagi bermain main denganmu Hendra." Laras kembali berjalan.
"Tapi aku mencintaimu Laras ... sangat, bahkan aku sudah menceraikan istriku demi untuk bersama mu."
__ADS_1
Laras yang tengah berjalan berhenti, lalu berbalik ke arahnya, "Apa aku harus bilang wow? Atau memberimu selamat atas perceraianmu itu?" ucapnya lalu kembali berjalan.
Hendra mencekal lengannya, "Aku ingin kita kembali bersama Laras, tidak ada lagi alasanmu untuk menolakku! Bahkan putrimu yang kurang ajar itu sekalipun!"
Laras kembali membalikkan badannya, "Apa maksudmu melibatkan putriku?"
"Ayolah Laras ... kau tahu apa yang aku maksud? Dia ... putrimu ... yang mencoba menjebak kita di kamar hotel tempo hari. Kau ingat? Dia ... mengaku sebagai Lady dan menggodaku, mengambil seluruh uangku dan membuat istriku marah besar dan menyita seluruh fasilitasku."
Kedua manik Laras membulat sempurna, "Kau jangan asal menuduh Hendra! Mana mungkin dia melakukan hal seperti itu."
"Kau tanya saja putrimu!"
Laras mengepalkan tangannya, dengan sekuat tenaga dia melayangkan tamparannya pada Hendra,
Plakk
"Kalau pun iya dia melakukannya, aku tidak masalah. Kau kesini bukan karena benar benar mencintaiku dan ingin bersamaku! Tapi karena istrimu telah menceraikanmu dan membuatmu tidak punya apa apa lagi bukan? Dasar pengecut, tidak ada cinta diantara kita, kau tahu itu. Kita hanya bermain dan bersenang senang, jadi jangan lagi memakai alasan apapun lagi ...!" ujar Laras dengan dada yang bergemuruh. Dia berlalu meninggalkan Hendra yang memegangi pipinya.
Laras masuk kedalam rumah, dia tidak peduli pada Hendra, terlebih apa yang dilakukan Hendra saat ini bukanlah suatu perjuangan untuk dirinya, melainkan dirinya sendiri.
"Nia ... Nia! Benarkah kau melakukan hal itu hanya untuk mengerjai ibumu ini!" gumamnya saat kakinya menapaki tangga menuju kamarnya.
.
Nah satu persatu udah ketahuan yaa ... wkwkwkw, semua akan terungkap pada waktunya. Jadi jangan dulu bosen sama alur yang othor kasih apalagi bab udah panjang beuudd. hihihihi. Makasih banyak buat yang udah kasih dukungan warbysah untuk novel ini. lope lope badag buat kalian
__ADS_1