
"Aku punya bukti kalau kau mau lihat!"
Agnia terperangah, bisa-bisanya Zian mengambil foto saat gue meluk, tapi gue gak inget sama sekali! Ah ... mana mungkin, palingan juga dia hanya menggertak. Agnia bermonolog.
"Ya udah, kalau beneran ada, simpan saja Om, lumayan buat kenang-kenangan kan!" ujarnya lalu berjalan ke kamar mandi dengan acuh.
Dia memang tidak bisa digertak begitu saja.
Agnia kembali dari kamar mandi, dia hanya cuci muka dan gosok gigi, sedangkan Zian sudah kembali terbaring di ranjang pasien.
"Om kata dokter Om sakit apa?" tanyanya penasaran.
"Jangan bilang gak sakit apa-apa ya! Kayak kemarin, Om bilang gak apa-apa saat aku tanya!"
Zian masih terpejam, menghiraukan pertanyaan dari Agnia.
Seorang perawat masuk membawa sarapan untuk Zian dan juga untuknya.
"VVIP beda yaa, kita bisa request menu makan." gumamnya saat melihat hidangan sarapan tidak seperti hidangan layaknya biasa di rumah sakit.
Setelah perawat itu keluar, Agnia mengambil sarapan untuk Zian, dan membawanya ke tepi ranjang. "Om makan dulu!"
Zian membuka matanya dan berdecak, "Biarkan aku tidur dulu! Semalam tidurku terganggu karenamu!"
Agnia berdecih, "Ya sudah, aku mau makan saja!"
Zian membuka kembali kedua matanya, karena sudah merasa lapar, dan melihat Agnia tengah lahap dengan sarapannya sendiri.
"Aku mau sarapan!"
Agnia menyimpan sarapannya dan mengambil menu sarapan untuk Zian, dan memberikannya, namun Zian malah tidak mulai memakannya, dia bermain ponsel sambil menunggu Agnia selesai makan. Setelah selesai membereskan alat makan, Agnia kembali duduk, "Katanya lapar, kenapa gak makan?"
"Kau sudah selesai makan?" tanyanya menyimpan ponsel.
Agnia mengangguk, "Kenapa Om?"
"Suapin!"
Gadis berambut panjang itu membulatkan mata, "Suapin? Kayak kecil!"
"Cepat Nia! Kau tahu tanganku di infus, aku tidak leluasa bergerak.
"Tidak leluasa bagaimana, semalam saja tidur di sofa yang jelas tidak muat itu bisa!" gerutunya.
Zian menyodorkan meja padanya, "Jangan banyak bicara, suapi saja aku!"
__ADS_1
Agnia berdecak, dia ikut duduk di ranjang, dan kini mereka saling berhadapan dengan meja yang menyimpan sarapan miliknya.
Hingga Zian dapat melihat wajahnya dengan leluasa, dan Agnia mulai menyuapinya.
"Apa Om sakit sampai lemah begini karena jauh dari pacar?" cibirnya.
Zian melebarkan kornea matanya, "Kau berani mencibirku Agnia?"
"Tentu saja ... tidak! Tapi aku baru bertemu pria dewasa selemah ini, ayolah Om, masa gara-gara pacar! Om sakit, menahan rindu yaa! ujarnya tergelak.
"Agnia!!! Kau ... berikan mangkuknya padaku! Siapa yang lemah? Siapa yang sakit gara-gara jauh dari pacar, kalau sakit, yaaa ... sakit saja! Tidak ada hubungannya dengan Dita!" ujarnya kesal.
Sementara Agnia terkekeh melihat tingkah Zian, yang dengan semangat melahap habis sarapannya hanya karena sindiran. Om memang tidak seharusnya lemah karena kekasihmu itu sendiri payah.
Setelah selesai dengan sarapannya, Agnia membantu membereskan alat makan yang dipakai Zian, memberikannya obat yang telah diantarkan oleh suster dan mengganti cairan infus miliknya.
Sementara Kim menarik senyum di bibirnya saat tahu Agnia merawat Zian dengan telaten, bahkan mampu membuat Zian menuruti perkataannya tanpa harus bersitegang terlebih dahulu.
Tumben banget dia memperlakukan gue dengan baik, gak marah-marah dan gak.medti berantem dulu. Apa karena dia sakit?
"Om ... nanti sore aku boleh pulang?" ujarnya saat mereka bermain ludo di ponsel milik Agnia.
"Pulanglah, kau juga harus istirahat, nanti ada Iyan yang menemaniku disini. Aku akan menyuruh bibi pelayan untuk menginap saja!"
"Tidak usah Om, kasian bibi, kemarin anaknya lagi sakit, aku gak apa-apa kok sendiri. Udah biasa!" ujarnya dengan menekan layar ponsel.
Zian mendengus karena kalah lagi, "Ganti permainan, game ini tidak bagus!"
"Memang game ini tidak cocok untuk pria setua Om Zian!"
"Nia!!!" ucapnya dengan menggelitik pinggangnya.
.
Sore ini juga Agnia kembali kerumah Zian, dia beruntung, karena Zian sedang bersikap baik padanya, hingga dia mempunyai kesempatan untuk pergi malam ini.
"Maaf Om ... Gue bohong lagi!" ujarnya saat membuka pintu kamarnya.
Lalu memasukan alat make up yang dia punya, dan menghubungi Cecilia. Setelah selesai barulah dia keluar dari rumah dan memesan ojek online.
Cecilia sudah menunggu Agnia disebuah tempat, tempat dimana Agnia harus membuat dirinya sesempurna mungkin untuk bertemu dengan pria brengsekk yang menjadi teman kencan ibunya.
"Akhirnya lo datang juga! Gue kira lo udah berubah fikiran Nia!" ujar Cecilia saat melihat Agnia turun dari ojek online.
"Enggak lah, buat yang satu ini gue gak berubah fikiran! Sesuai dengan rencana awal aja."
__ADS_1
"Gue harap lo berhasil dan ketagihan, sampai akhirnya lo ikut gabung bareng kita!" Cecilia terkekeh.
"No ... thanks Cecil!"
Cecilia terkikik, lalu melingkarkan lengannya dilengan Agnia, "Ini tempat langganan gue, cari baju atau make up yang sesuai untuk menunjang penampilan gue! Ayo masuk...."
Agnia terperangah saat masuk ke dalam ruangan kecil yang penuh dengan dress kekinian yang serba minim bahan, dia juga melihat sepatu high hills berjejer rapi dengan berbagai ukuran.
"Lo gak usah khawatir, barang disini dijamin kebersihannya, karena setelah selesai kita sewa, mereka langsung membersihkannya disana," Cecil menunjuk sebuah gerai.
Agnia mengangguk, "Dress nya gak ada yang lebih pendek lagi dari ini?" ujarnya menyindir, pasalnya dress yang dia pegang hampir sebatas paha atas nya, dan jika dia berjongkok atau mendongkak, dipastikan akan memperlihatkan sesuatu.
"Itu karena lo terlalu tinggi anjim, pilih yang ini aja! Malah nyindir lo!"
Keduanya tergelak, "Abisnya tuh dress mini banget, dress khusus liliput apa yaa!" mereka kembali tergelak.
"Gokil juga lo, gue gak nyangka bisa temenan sama lo yang super tajir, pinter, cerdas dan populer kayak lo."
"Dih ... nge-jilat ampe segitunya!" Agnia terkekeh, "Gue biasa aja kali, lo aja gak tahu hidup gue, lo tahu luar nya aja Ce."
.
Setelah memilih beberapa pilihan, akhirnya Agnia telah siap, dia juga sudah memakai make up yang membuat dirinya semakin sempurna, wajah Agnia yang biasa tanpa make up kini berubah total dan dipastikan akan membuat semua yang melihatnya tidak akan sadar jika itu adalah Agnia.
"Sumpah demi kerang di bikini bottom, lo cantik banget Nia!"
"Apaan sih lo!!"
Cecilia memutar-mutarkan tubuh Agnia, "Astaga, ini sih platinum kalau di kelas LC!"
"Apaan tuh! Gue. gak ngerti bahasa lo!"
"Kelas tertinggi dengan tarif wow, gila gak lo, lo kalau gabung, gue jamin duit lo bakalan segunung Nia!"
Agnia mendecak, "Hidup lo duit mulu deh!"
Mereka kembali tergelak, "Gue anterin lo kesana, kalau perlu gue tungguin!"
"Dih ... masih aja usaha lo Ce!"
Cecilia terkekeh, "Lagian susah banget sih lo diajakin enak!"
Agnia hanya mendengus kasar.
Setelah selesai, mereka keluar dari butik apapun itu namanya, dan memesan taxi untuk sampai ke hotel.
__ADS_1
"Lo yakin Nia, lo mau masuk sendiri?
"Gak perlu, lo balik aja! kalo udah selesai, gue kabarin lo."