Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 271


__ADS_3

"Nia gak tahu." polosnya dengan menatap wajah Zian yang tengah menatapnya juga.


"Baby ... harusnya kau tahu hal itu, kalau perlu dicatat! Atau menggunakan aplikasi siklus datang bulan."


Agnia mendengus, rasa anehnya belum habis mendengar seorang Zian membicarakan perihal tanggal dan bulan dengan sangat rinci ditambah sekarang dia tahu aplikasi macam itu yang bahkan dirinya saja tidak tahu.


"Ya mana aku tahu! Udah ah, lagian juga Nia gak merhatiin tanggal berapa berapa nya datang bulan, kalau iya hamil ... kenapa Nia gak ngerasaain apa apa?Hm?" sengitnya dengan meraba perut rata miliknya, dia menang tidak merasakan apa apa.


Dengan sekali gerakan, Zian mengangkat tubuh Agnia yang berada di balik kemudi, memangkunya sebentar hingga Agnia terkesiap dengan gerakan tiba tiba itu.


"Hey ... Hubby! Kau mau apa?"


Zian terkekeh, lalu mengecup bibir semanis cherry itu sekilas, lalu kembali menurunkannya dan dia beringsut pindah ke kursi kemudi.


"Kita ke rumah sakit sekarang!"


Agnia yang masih terkesiap itu mengerjapkan mata karena tidak sampai 10 detik dia sudah berpindah posisi.


"Hubby ... jangan gila!"


Zian melajukan mobilnya, melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Seakan baru tersadar akan gejala yang kerap dia rasakan dan tidak kunjung sembuh. Gejala itu justru hilang disaat hanya berdua saja.


Mobil yang melesat itu tiba disebuah rumah sakit besar, Agnia yang tiba tiba kepalanya tidak bisa berfikir itu menatap gedung rumah sakit dengan banyak pertanyaan yang berseliweran di dalam kepalanya.


Jika dia benar benar hamil, bagaimana dengan kuliahnya yang bahkan belum dimulai, bagaimana dengan acara kelulusan sekolahnya. Jemari nya tanpa sadar kembali mengelus perut yang rata miliknya.


"Hubby? Kita pulang saja yuk!"


"Oke! Tapi setelah bertemu dokter kandungan."


Dokter kandungan


Dokter kandungan, baik lah setelah ketemu dokter kandungan. Sial dokter kandungan dirumah sakit ini adalah papanya Serly. Gimana kalau dia masih inget gue ... Mampus. Agnia membatin, kedua matanya menatap pintu masuk rumah sakit.


"Ayo baby!"


"Dokter Irsan juga ada disini kan?"


Zian membuka seat belt miliknya, "Hm ... dia ada disini!"


"Kita periksa saja sama dokter Irsan."

__ADS_1


"Mana bisa ... Dia bukan ahli kandungan. Tapi ahli penyakit dalam." tukas Zian. "Kau takut baby?"


Tentu aja gue takut, gimana kalau gue ketahuan sama papanya Serly, terus gue juga ma-----


"Ayo ...!" Zian keluar saat Agnia sibuk dengan batinnya sendiri. Kedua matanya mengikuti gerak tubuh Zian yang sudah keluar dari mobil dan berjalan ke pintu mobil. Pria itu membuka pintu untuk Agnia yang bahkan tubuhnya serasa terpaku.


"Ayo baby! Tidak usah khawatir ... aku akan menemanimu." ujarnya mengulurkan tangan.


Agnia menelan saliva, dia benar benar tidak bisa bicara, seolah olah semua kata kata tercekat di tenggorokannya, namun batinnya bergemuruh.


"Baby ... Come on!" ajak Zian dengan suara sedikit parau.


Agnia akhirnya menghela nafas, dengan ragu dia meraih tangan suaminya yang terus tersenyum.


"Gak usah senyum senyum!"


"Memangnya kenapa?" tanya Zian menutup kembali pintu mobil, dia berbalik dan kembali memegang tangan Agnia untuk masuk kedalam rumah sakit. "Memangnya aku tidak boleh senyum?"


"Senyumnya nyebelin!" tukas Agnia dengan langkah yang sama ragu nya dengan perasaannya.


Mereka berdua masuk kedalam, alih alih membawa Agnia ke tempat pendaftaran. Pria itu justru membawanya ke ruangan dokter Irsan.


"Biar Irsan yang mengurusnya." Zian terkekeh dengan terus berjalan ke sebuah ruangan dimana didepannya sudah ada beberapa orang yang tengah duduk menunggu.


"Bukannya tadi bilang Dokter Irsan itu ahli penyakit dalam? Kan gak nyambung." ujar Agnia yang sejak awal memang ingin Irsan saja yang memeriksanya.


Namun dia juga penasaran apa dia tengah hamil atau tidak. Siklus datang bulannya saja dia tidak faham, sering kali datang tidak tepat waktu setiap bulannya. Terlebih, pernikahannya dengan Zian baru seumur jagung, bagaimana mungkin bisa hamil secepat itu.


"Ya dia memang dokter penyakit dalam, tapi aku adalah Zian Maheswara." kilahnya dengan kedua alis yang turun naik.


Agnia mendengus lembut, "Baiklah tuan penguasa."


Zian terkekeh mendengar panggilan Agnia yang seenak jidatnya sendiri, namun itu jugalah yang menjadikan Agnia sangat menggemaskan dimatanya. Gadis kecil penuh kejutan dan membuat warna di hidupnya semakin menarik.


Zian membawa Agnia masuk kedalam ruangan begitu saja, bahkan dia melewati antrian orang orang yang tengah menunggu di panggil.


"Dasar! Kau tidak lihat orang lain mengantri menunggu di panggil, ini malah seenaknya masuk!" gumam Agnia saat Zian membuka pintu.


Dokter Irsan yang tengah memeriksa pasien pun menoleh, begitu juga seorang suster yang membantunya.


"Zian? Kau kemari? Ada apa? Kau sakit lagi? Sudah aku bilang untuk mengambil cuti dan istirahat total. Hindari pekerjaan untuk sementara waktu." ujar Irsan dengan tangan mempersilahkan pasien yang tengah diperiksa itu kembali duduk.

__ADS_1


Zian menyuruh Agnia duduk, sementara dia sendiri masih berdiri dengan menatap Irsan. Dokter itu duduk di tempatnya, mengambil bolpoin lalu mencatat sesuatu di secarik kertas.


"Kau bisa menunggu kan? Hari ini pasienku banyak sekali."


"Dokter ... apa aku harus menunggu lagi?" tukas pasien yang kini terduduk di tempatnya.


"Sus ...!" ujarnya dengan memberikan kertas itu pada suster. "Oh bukan Pak ... aku bicara pada temanku."


"Ooh ...!" Pria paruh baya itu hanya beroh ria seraya menoleh pada Agnia juga Zian, lalu mengulas senyuman serta anggukan kecil.


Zian mengabaikannya, namun Agnia membalas seulas senyuman padanya. Membuat Zian membulatkan mata ke arahnya.


"Aku pernah bilang untuk tidak terlalu ramah pada orang lain! Apalagi pria!" Desisnya membalikkan tubuh agar pandangan keduanya terhalang.


"Issh ... senyum gitu doang juga! Lagi pula dia itu kakek kakek ... anggap saja kakek sendiri!" gumam Agnia mengerut.


Setelah pasien itu keluar, Irsan menyuruh suster menghentikan panggilan pasien selanjutnya sebentar.


Zian duduk di kursi dihadapan Irsan, sementara Agnia masih duduk di kursi sudut.


"Aku ingin kau periksa istriku." ujarnya tanpa basa basi.


"Kenapa? Kau sakit juga nyonya Zian? Pasti kelelahan karena mengurus pria tua yang sulit diatur ya."


Zian mendengus, "Kau periksa saja ... dia sudah terlambat datang bulan!"


Irsan dan juga Agnia terbelalak sempurna, mereka saling bertatapan lalu kembali menatap Zian yang mengatakan hal tersebut dengan percaya diri.


"Ngitung dari mana aku telat bulan ini? Dia kan gak tahu aku terakhir datang bulan kapan!" Desis Agnia kesal.


"Maksudmu kau ingin memeriksa ke bagian Obgyn? Yang benar saja ... kau salah ruangan Zian? Aku dokter penyakit dalam. Bukan dokter kandungan!"


"Kau tinggal menyuruh dokter kandungan untuk datang kemari Irsan! Ayo cepat panggilkan dia."


Irsan menggelengkan kepalanya, namun dia juga menoleh pada suster yang tengah mengulum bibirnya.


"Sus ... coba cek apa dokter Sam masih ada di ruangan praktek tidak?"


Agnia beranjak dari duduknya, dia menghampiri Zian dan juga dokter Irsan.


"Enggak ... jangan. Jangan dokter Sam."

__ADS_1


__ADS_2