
Bulu bulu lentik di kedua kelopak matanya bergerak perlahan, lalu menoleh pada satu tangan kekar yang melingkar diperutnya. Sedangkan tangan yang satu menjadi bantalan kepalanya, berada dipelukannya membuatnya hangat disepanjang malam.
Agnia menoleh ke arah wajah yang masih terlelap, terlihat damai dan juga nyaman.
"Sudah bangun hem?"
Agnia terkesiap mengetahui Zian membuka matanya. Dia menepuk lengannya dengan keras.
"Aw ... baby!"
"Abisnya nyebelin, aku kira masih tidur."
"Aku sudah bangun, tapi tidak tega menarik tanganku saat kau tidur sangat nyenyak." ujarnya melirik lengannya sendiri yang dijadikan bantal.
Agnia terkekeh kecil, lalu melingkarkan tangan pada tubuh tegap Zian. Menghirup dalam dalam aroma maskulin yang menjadi ciri khas suaminya itu.
"Uh ... manja sekali ibu hamil ini sekarang ya." kekeh Zian menghujami pucuk kepala Agnia dengan ciuman.
"Eeh ... Nia hari ini harus ke kampus! Validasi data." ujarnya turun dari ranjang dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Baby ... jangan lari lari!"
Agnia tidak menggubris perkataan Zian, dia segera menutup pintu kamar mandi dan segera bersih bersih.
"Astaga ... anak itu, apa dia lupa sekarang dia tidak hanya membawa dirinya sendiri!" Zian turun dari ranjang dan mengetuk pintu kamar mandi.
Tok
Tok
"Baby! Hati hati dengan pijakanmu oke! Hati hati juga dengan sabun, kalau jatuh tidak usah diambil, ambil saja yang baru." ujarnya memperingati, dia takut Agnia yang ceroboh bisa tergelincir jatuh.
__ADS_1
Gemiricik air yang keluar dari shower mmebuat Agnia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Zian, dia sibuk dengan aktifitas bersih bersihnya, bahkan dia lupa kalau dirinya tengah hamil. Tidak ada mual dipagi hari, pusing atau bahkan apapun itu. Justru Zian lah yang merasakannya.
Agnia keluar dengan menggosok rambutnya yang masih basah, namun membuat Zian kembali merasa mual karena aroma sampo yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.
"Kenapa?" tanya Agnia dengan heran saat melihat Zian menutup hidungnya dengan batrobe.
"Baby ... ini bukan sampo milikmu kan? Ini sampo ku?"
Agnia mengangguk, "Iya ... sampo Nia habis! Jadi pake yang ada aja dulu."
"Enggak enggak ... sana mandi lagi! Aku tidak suka aromanya, membuatku pusing." Zian mendorong kedua bahu Agnia masuk kedalam kamar mandi, dengan menutup hidungnya.
"Hubby ... aneh banget sih!" Agnia berdecak saat Zian mengambil botol sampo miliknya yang masih penuh, dia masukkan kedalam tong sampah kecil yang terletak di sudut kamar mandi.
"Jangan pakai itu lagi! Aku mual mencium aroma nya."
"Tapi itu sampomu!"
'Bi Nur ... Bi!' Teriaknya sembari membuka pintu.
Bi Nur datang dengan tergopoh gopoh, dan mengernyit melihat Zian yang maaih menutup hidungnya menggunakan kain batrobe.
"Apa sampo racikan Nia masih kau simpan?"
Bi Nur lebih mengernyit dari sebelumnya, dia banyak membereskan barang barang di rumah itu, saking banyaknya sampai dia tidak ingat satu persatu.
"Botol putih polos yang aku buat saat Nia sembunyi di rumahmu!" sentak Zian. Membuat Bi Nur kembali ingat.
"Ah ... iya tuan, ada."
"Bawa dan berikan pada Istriku!"
__ADS_1
Bi Nur mengangguk, dia berbalik untuk ke kamar yang sempat di tinggali oleh Agnia dulu untuk mengambil sampo yang diminta tuannya. "Dan ganti semua sampo di rumah ini, dengan itu!" ujar Zian kembali, membuat Bi Nur tersentak menoleh dan mengangguk.
"Hubby! Apa sih teriak teriak!" Agnia menyembulkan kepalanya ke luar kamar mandi.
"Jangan keluar dulu! Tunggu sampai Bi Nur kesitu! Hati hati licin, jangan mondar mandir." Zian semakin merekatkan batrobe ke dalam hidungnya saat aroma sampo itu kembali menyeruak.
Agnia mengerdikkan bahu lalu kembali masuk kedalam kamar mandi. "Hormon cauvade ngeri juga! Gue yang hamil, dia yang mual mual. Kenapa gak sekalian aja dia yang perutnya gede nanti."
Setelah beberapa saat menungu, akhirnya bi Nur masuk kedalam kamar mandi untuk memberikan sampo pada Agnia, gadis itu pum mau tidak mau mencuci ulang rambutnya dibantu oleh wanita paruh baya yang terus mengulum senyuman.
"Jadi benar ... non Nia sudah isi?"
"Isi? Isi apa? Risoles kali ah isi ayam."
"Isi itu hamil Non ... mengandung." ujarnya menjelaskan.
"Ooh ... iya bi! Kata dokter begitu, tapi Nia gak ngerasaain apa apa! Masih gak percaya kalau Nia hamil. Nih perutnya aja masih rata begini,"
"Lucu Non ... Tuan Zian yang ngidam nya. Sampai bibi liat mukanya pucat saking menahan mual."
"Om Zian masih di luar?"
Bi Nur menggelengkan kepalanya, "Bibi masuk, tuan langsung keluar, sepertinya mandi dikamar yang lain Non. Bibi juga disuruh ganti semua sampo di rumah ini."
Agnia terkekeh, "Segitu nya, padahal dulu dia gak suka sampo Nia."
Bi Nur membantu menggosok rambut panjang Agnia yang kini kembali berbusa. "Asal Non tahu waktu Non tinggal di rumah bibi. Tuan sering membuat racikan sampo ini dan menyuruh bibi menyimpannya."
"Benarkah bi?"
Asisten rumah tangga itu kembali mengangguk, "Bener lah Non ... mana mungkin bibi bohong! Ini juga tuan yang membuatnya."
__ADS_1
"Aneh! Jangan bilang dia akan memulai usaha baru membuat sampo ini."