
Sudah berapa hari ini Zian mengurung diri di kamar, bahkan dia tidak mau mengangkat telepon dari siapapun, Kim pun sudah kehabisan akal, dan takut jika Zian depresi jika dibiarkan.
Begitupun Dita yang terus berusaha menghubungi Zian, pria tegap itu hanya diam saat ponselnya terus menjerit- jerit.
"Bi ... apa bibi tahu dimana Agnia tinggal?" tanya Kim pada asisten rumah tangganya.
"Bibi tidak tahu sekretaris Kim, non Nia hanya mengatakan akan tinggal dimana saja asal tidak kembali ke mari maupun kerumahnya sendiri Non."
"Itu yang ku takutkan! Selain rumah ini dan rumahnya, aku tidak tahu tempat yang biasa dia kunjungi, bi!"
"Semoga dimana pun berada, non Nia baik-baik saja." Pelayan paruh baya itu lalu kembali masuk ke dapur.
Ting
Tong
Bel rumah berbunyi, Dita berdiri mematung saat Kim membuka pintu rumah, "Untuk apa kau kesini lagi?"
Dita mendorong tubuh Kim dan dia merangsek masuk, "Aku harus bicara pada Zian!"
Kim mencekal lengannya, "Sudah tidak ada lagi urusan diantara kalian, lebih baik kau pergi dari sini."
Dita tidak mau kalah, dia menepis tangan Kim, "Kau tidak usah ikut campur urusan ku!"
"Jelas aku akan ikut campur."
Dita berdecih, "Kenapa? Ahhh ... biar ku tebak, apa kau juga menyukai Zian? Begitu hem ...?"
Kim berseringai, dia menatapnya dengan tatapan menjijikan, "Lebih baik kau pergi Anindita, semua yang akan kau lakukan akan sia-sia."
Dita mendorong tubuh Kim, lalu dia bergegas naik ke atas, dan menggedor pintu kamar milik Zian.
Tok
Tok
"Baby ... buka pintunya please, aku mau bicara! Baby....!!"
Dita terus mengetuk pintu kamar Zian, sementara Kim menyusulnya dengan cepat.
"Kau memang tidak tahu malu!!"
"Baby ...!!
Tok!
Toktok!!
Zian menoleh ke arah pintu, suara Dita yang begitu dia kenal, dia pun berjalan kearah pintu dan membukanya.
"Pergilah Kim ... biarkan dia!" ujarnya datar.
Dita tersenyum penuh kemenangan, "See ... dia sendiri yang mengatakannya! Jadi lebih baik kau enyah dari sini, kau hanya menggangguku!"
Kim mendengus kasar, lalu kembali turun. Meninggalkan mereka berdua, sementara Dita melingkarkan kedu tangan di pinggangnya, "Aku merindukanmu Baby ... "ujarnya dengan menghujani wajah Zian dengan ciuman, Zian hanya berdiri mematung,
__ADS_1
"Kamu mau memaafkan aku kan? Aku sungguh-sungguh tidak salah, kamu boleh tanya managerku, dia tahu semua perjalanan ku."
"Baby ... bicaralah, sebentar lagi kita menikah, mari kita mengurusnya!"
Namun Zian tetap membisu, dia berjalan turun dan melangkah ke area belakang rumahnya, lalu mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Baby ... jangan mendiamkan aku seperti ini."
"Sudah bicaranya?" ujar Zian datar, "Kalau sudah silahkan pergi dari rumah ini."
Kedua netra Dita membulat, "Tap---tapi...."
"Kita sudah selesai!" ujarnya bangkit dari duduknya,
"Tunggu Zian ... kau jangan bertindak seenaknya seperti ini, kau tidak memikirkan aku?"
Zian berbalik, dan kini mereka saling berhadapan, "Bertindak seenaknya? Aku...? Kau memang sudah gila, pergilah dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!!"
"Aku tidak mau, kau juga harus bertanggung jawab!"
Zian mengernyit, Aku baru mengerti, dia hanya ingin hartaku saja ternyata.
"Bertanggung jawab untuk apa? Kau memang wanita bodoh Anindita! Padahal aku mampu berikan dunia untukmu, tapi aku tidak menyesal, dengan begitu aku tahu sifat aslimu, sebelum aku terlanjur menikahimu, dan kau membawa pria lain ke rumah ini." ungkap Zian, membuat Dita bungkam seketika.
"Pergilah!! Sudah tidak ada lagi yang harus di bicarakan."
.
.
"Sudah sampai tuan Puteri." ujar Regi menghentikan laju motornya.
Agnia mendorong bahu Regi, "Apaan sih, jijik gue! Dah sana pergi, nanti malah kesiangan kan!"
"Iya ... ya ampun calon pacar gue ternyata bawel juga!!"
"Dihh ... ngomong gak kira-kira gitu!'
Regi terkekeh, "Bercanda ... ya udah gue jalan dulu yaa, pulangnya gue jemput!"
"Eeh gak usah Gi, gue ada urusan dulu! Lo pulang duluan aja."
"Oh Oke deh kalau gitu, Lo hati-hati ya!"
Regi akhirnya melaju, begitu pun dengan Agnia.
Hari ini Agnia sudah diperbolehkan masuk kembali, dia juga sudah mendapatkan permintaan maaf dari keluarga Vina.
"Agnia ...! Lo udah bisa masuk?"
Nita mencubit lengan Cecilia, "Dia ada disini dan memakai seragam mau apa? Lagi pula dia mah bebas, mau pergi mau kagak! Terserah pokoknya.
Mereka pun menggandengnya masuk, mereka juga tertawa bersamanya, sementara Vina menatapnya dari kejauhan.
Semua orang sudah tahu kebenarannya, hingga saat Agnia masuk, teman-temannya kembali bersikap baik terhadapnya,
__ADS_1
"Lo terlalu baik Nia! Kalau gue jadi Lo, ogah deh kenal lagi, kemaren pas belom tahu yang bener, mereka gunjingin lo sampe bibirnya pada dower, lah sekarang baik- baikin lo." tukas Nita dengan bahu mengerdik.
"Tau nih, lo baik banget, sampe gampang banget dimanfaatin."
Agnia melebarkan pupil hitam miliknya, "Sialan, yang manfaatin gue cuma lo dan lo ... juga___"
Zian si bodoh. Agnia mengantung ucapannya sendiri.
Kedua teman nya itu sama-sama mengernyit, tiba-tiba Serly datang dari arah belakang, "Agnia ... gue mau ngomong sama Lo! Bisa kan?"
Agnia mengangguk, "Bisa ... mau ngomong apa emangnya!"
Serly menatap Cecilia dan juga Nita bergantian, "Kita ngomong berdua aja, mereka gak perlu tahu!"
"Dih siapa juga yang mau tahu!! Kepedean banget sih!" tukas Nita.
Cecilia menarik tangan Nita, "Udah deh gak usah ikut campur, biarin aja mereka, mungkin mau kelarin masalah."
.
.
Agnia duuduk di kursi dekat taman, tempat biasa mereka dulu sring menghabiskan waktu istirahat dengan mengobrol atau belajar.
"Ada apa Serly?"
"Gue mau minta maaf sama lo sikap gue selama ini sama lo, juga ucapan gue yang bikin lo sakit hati."
"Gue udah maafin lo kok!"
"Gue juga udah putus sama Adam!"
Agnia menoleh ke arahnya, "Kok putus? Bukannya terakhir Lo sama dia baik-baik saja?"
Serly menggelengkan kepalanya, "Adam sepertinya benci sama gue, gara-gara kemarin."
"Ya ampun ..."
Serly meraih tangan Agnia dan menangkupnya, ""Lo mau kan bantuin gue supaya Adam bisa maafin gue dan balikan sama gue? Bisakan Nia ....
"Eh... itu yaa? Gue gak tahu Serl, kenapa gak Lo ngomong aja langsung!"
"Udah tapi dia gak tetap gak mau, seenggaknya kalau lo yang ngomong, Adam pasti percaya."
Orang yang tengah mereka bicarakan melintas, Lalu tersenyum ke arah Agnia namun membuang wajahnya saat Serly tersenyum.
Adam masuk ke dalam kelas, tidak lama dari itu bel pun berbunyi,
"Kita masuk dulu yu!"
"Tapi lo mau kan bantuin gue?"
Agnia enggan menjawab, entahlah menurutnya tidak tahu atau tidak ingin tahu dan terlibat.
"Nia ?"
__ADS_1