
Zian keluar terlebih dahulu, disusul oleh Agnia. Lalu mereka masuk kedalam restoran untuk makan siang. Zian melihat Agnia yang merengut dengan mendudukkan bobot tubuhnya di satu kursi yang terdapat di paling ujung tempat itu.
"Kenapa mukamu ditekuk begitu!"
"Gak apa-apa!" ujarnya dengan menopang dagu dengan satu tangannya sementara tangan yang lain menggulir aplikasi demi aplikasi di dalam ponselnya.
"Gak mungkin gak ada apa-apa!"
Agnia mendengus, "Udah deh Om, suka banget sih ikut campur! Kalau aku bilang gak apa-apa ya artinya gak ada apa-apa!"
Zian menghela nafas, Sabar-sabar.
"Kalau Nia gak suka tempat nya, kita pindah aja gimana?"
"Gak perlu! Kita disini aja!" tukas Agnia ketus.
Restoran ini tempat favorit keluarga gue ... tapi itu dulu, sekarang gue benci restoran ini, gue benci Mami, gue juga benci Daddy. Mereka gak ada yang peduli sama gue, yang bisa mereka kasih hanya uang dan uang. Batin Agnia dengan menatap satu ruangan terpisah yang biasa di tempati keluarganya dulu jika datang ke restoran itu. Bahkan Agnia masih ingat dengan jelas, menu yang di pesan orang tuanya hingga saat ini.
"Kamu mau makan apa Nia?"
Agnia masih menopang dagu, dengan fikiran yang berada di masa lalu, Zian memanggil namanya beberapa kali, hingga dia tersentak saat ada sentuhan di tangannya.
"Kenapa?"
Tiba-tiba kedua matanya menganak, meski dia berusaha menahannya, namun air menganak itu akhirnya tidak dapat dibendung lagi.
"Hei ... kenapa menangis!"
Agnia menggelengkan kepalanya, "Nia mau pulang!" ujarnya dengan terisak.
"Gak jadi makan?"
Dia menggelengkan kepalanya, lalu bangkit dari duduk dan berlari begitu saja.
"Astaga ... dia kenapa lagi! Aku sudah berusaha sabar hari ini!"
Zian menyusulnya keluar, melihat Agnia tengah berdiri disamping mobil dengan bahu yang bergerak turun naik, Isakannya terdengar lembut, namun air mata mengalir dengan deras.
"Masuklah!" ujar Zian membuka pintu mobil, Agnia masuk dan menangis tergugu dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
Zian berlari memutar dan masuk ke dalam mobil, kemudian melajukan mobilnya dari pelataran parkir.
"Iya kan pasti ada apa-apa. Sudah, jangan nangis lagi!" ujar Zian menyodorkan tisu pada gadis itu. "Aku gak tahu kenapa tiba-tiba kamu nangis!"
"Om ... bisa anterin aku ke rumah?"
"Aku anterin tapi Nia berhenti nangis dulu! Om bingung kenapa Nia bisa nangis tiba-tiba begini! Aku juga jadi bingung."
"Pokoknya anterin aja, jangan banyak nanya!"
__ADS_1
Zian menghela nafas, "Ya udah, arahin alamat rumahnya."
Agnia mengangguk, dengan menyusut air mata di wajahnya, dan mengarahkan kemana Zian harus pergi untuk sampai ke rumahnya.
Butuh waktu 45 menit untuk sampai ke rumah Agnia, gadis itu berkali-kali menghela nafas sesaat setelah Zian menepikan mobilnya di depan sebuah rumah.
"Ini rumahmu?"
Agnia mengangguk, "Om gak keberatan kan kalau nunggu sebentar, ada yang harus Nia bawa."
Zian mengangguk, lalu Agnia keluar dari mobil dan menghilang di balik sebuah gerbang hitam.
Rumah yang hampir satu bulan dia tinggalkan tampak sepi, tidak ada yang berubah, sepi dan sunyi. Seorang wanita paruh baya berlari ke arahnya saat Nia berdiri di depan pintu masuk.
"Astaga ... Non, akhirnya Non pulang juga."
"Bi Yum!"
Asisten rumah tangga yang mengasuhnya dari kecil itu melemparkan sapu lidi dan beringsut memeluk tubuh Agnia yang lebih tinggi dari nya
"Bi Yum ... Nia kangen!"
"Sama Non Bibi juga, Non sehat-sehat saja kan?"
Agnia mengangguk, "Sehat bi, tidak usah khawatir, selama ini Nia baik-baik saja."
"Nia cuma mau bawa laptop Nia aja bi, bisa diminta tolong di ambilin gak?"
"Lho kenapa gak masuk Non, Ibu ada dirumah lho!" ujar Bi Yum mengurai pelukannya.
"Nanti saja Bi, Nia ditungguin orang!"
Suara derap langkah terdengar , tak lama kemudian pintu terbuka begitu saja, membuat Agnia terperanjat kaget.
"Nia ...?"
Agnia menoleh, melihat sosok ibu yang melahirkannya, namun juga bayangan Ibunya sedang berbuat sesuatu itu melayang-layang dikepalanya.
"Mami...!"
"Akhirnya kamu pulang juga! Masih ingat rumah ternyata kamu? Hem ....?"
"Non ... kita masuk?" ajak bi Yum.
"Tidak usah Bi, biarkan dia ... entah mau jadi apa dia nanti kalau sudah besar, masih kecil aja sudah susah diatur!"
"Dia sudah berani keluar dari rumah, berarti dia sudah tidak membutuhkan keluarganya lagi." Sambung Laras lagi.
Agnia memaku ditempatnya, dengan derai mata yang perlahan turun. "Mami baik-baik aja kan? Apa Mami pernah ngerasa kehilangan Nia? Tidak kan? Yang Mami pikirkan hanya kesenangan Mami sendiri, diri Mami sendiri. Percuma saja Nia ada dirumah ini, kalau kehadiran Nia aja, Mami gak peduli!"
__ADS_1
"Bagus sekali, lihatlah cara bicaramu pada Mami, tidak ada sopan santun."
"Percuma Nia bicara sama Mami, Mami gak pernah mau mengerti apa mau Nia, Nia gak butuh uang Mi, Nia butuh Mami. Tapi Mami apa? Mami lebih mentingin pria hidung belang itu, dari pada Nia."
"Masalah itu urusan Mami, kamu tidak perlu ikut campur!"
Agnia masuk kedalam rumah, lalu naik ke lantai ke dua dan masuk kedalam kamarnya, mengambil laptop lalu kembali ke luar.
"Selama Mami masih berhubungan dengan pria itu, jangan harap Nia akan pulang!"
"Mami akan berhenti memberikan uang bulanan kamu Nia!"
"Terserah Mami! Kalau perlu Nia akan kembalikan uang yang Mami kasih!"
"Anak kurang ajar! Beginikah sikap mu pada Mami?"
Tangan Laras ke atas hendak melayang menapar pipi Agnia, namun sebuah tangan kekar berhasil menahannya.
"Jangan memakai kekerasan padanya!"
Laras menoleh, begitu juga Agnia melihat Zian yang sudah berada disampingnya, menepiskan tangan Laras.
"Siapa kau? Ikut campur urusan keluargaku!"
Zian menyunggingkan senyum, "Perkenalkan, aku Ziandra Maheswara."
"Om, aku sudah bilang tunggu di luar!"
Zian melangkah maju, menatap Laras dengan senyuman, lalu beralih pada Agnia yang masih terperangah, "Maaf Nia aku tidak bisa diam saja melihatmu diperlakukan seperti ini oleh ibumu sendiri."
Ziandra Maheswara, bukankah dia pengusaha, juga pemilik hotel terbanyak di dalam negeri?
"Maaf Tuan Zian, tapi sepertinya anda tidak berkepentingan disini. Ini masalah keluarga saya." tukas Laras.
Zian berdecih, "Segala yang menyangkut tentang putri anda, telah menjadi urusanku. "Apa perlu aku melaporkan pada dinas terkait mengenai penelantaran anak yang anda lakukan nyonya Laras?"
Kenapa Om Zian tahu nama Mami? Apa dia mengenalnya?
"Gak Om, jangan laporkan Mami, Nia yang pergi dari rumah atas keinginan Nia sendiri, bukan Mami, lebih baik kita pergi dari sini."
"Kau bisa lihat? Bagaimana dia bisa betah jika anda sebagai ibunya saja bersikap seperti ini."
"Itu bukan urusanmu!"
Zian mendengus, " Akan ada banyak orang yang menghargainya diluar sana, aku akan pastikan itu. Permisi!"
Sementara Agnia melangkah keluar dari rumah, dan ternyata bi Yum menyusulnya keluar, "Non jangan pergi lagi!"
"Bibi gak lihat gimana Mami perlakukan Nia? Gimana Nia mau pulang kalau dia saja masih membela pria itu bi!"
__ADS_1