
"Itu yang aku takutkan baby!" Zian menginjak pedal gas kendaraannya lebih dalam,
"Kenapa? Orang Nia gak bakal ngapa ngapain kok! Takut amat, takut Irene terluka iya?" tuduhnya dengan bibir mencebik.
"Astaga ... baby!"
Entah harus bagaimana lagi Zian menjelaskan, Agnia begitu keras kepala. Semakin dia dilarang justru semakin dia ingin datang ke acara penggalangan dana untuk korban bencana alam itu, dimana acara itu dihadiri pengusaha pengusaha dalam negeri, dana yang di kumpulkan juga tidak sedikit, namun kerap menjadi ajang pamer, siapa yang terbesar dalam memberikan bantuan selalu menjadi topik utama.
Kehadiran Irene menjadi tujuan utama Agnia, dia ingin tahu bagaimana sikap Irene jika melihatnya lagi.
Zian melajukan mobilnya dengan cepat, mengarah pada sebuah butik pakaian langganannya. Biasanya Kim yang akan mengurus segala sesuatu untuknya, namun kali ini ternyata sangat menyenangkan karena pergi kesana bersama Agnia.
Agnia membulatkan kedua manik besarnya, saat mobil berhenti di pelataran parkir butik kenamaan itu, sementara Zian mengulas senyuman.
"Kenapa baby?"
"Ini pasti sangat mahal!"
"Kamu ingin ganti tempat?"
"Ya kalau boleh, Nia tahu butik bagus dengan harga yang sangat murah, bisa di sewa pula."
Zian terkekeh, "Tidak usah mengkhawatirkan soal harga, kamu hanya perlu datang padaku dan minta apapun yang kamu mau."
Agnia ikut terkekeh, "Om om banget deh ngomongnya!"
"Kau ini! Ayo turun."
Keduanya turun dari mobil, Zian menggandeng tangan sang istri, dan membawanya masuk kedalam butik.
Dress dress berjejer rapi dalam manekin, tampak indah dan juga elegan, kedua mata Agnia menyisir seluruh ruangan itu. Berbinar saat melihat banyaknya dress malam maupun mini dress.
"Pilihlah yang kamu suka baby!" Ucap Zian, dia mengangguk saat Agnia menatapnya lalu melangkahkan kaki ke sudut ruangan dimana satu set sofa berada. Satu petugas wanita menghampirinya, Zian menyuruhnya membantu Agnia memilihkan dress yang cocok untuknya.
Agnia menyentuh satu persatu dress yang terpasang dalam manekin, dia tidak tahu bahan kain apa yang cocok untuknya.
"Kurasa ini cocok untukmu nona!" ujar petugas wanita dengan menunjukan satu dress mini berwarna pink dusty, dengan bagian punggung terekspos.
"Boleh aku coba?"
"Tentu saja Nona. Fitting room disebelah sana." ujarnya dengan menunjuk sebuah ruangan bertirai.
__ADS_1
Agnia mengangguk, lalu mengambil dress itu dari tangan petugas, lalu kembali menyisir bagian lain, dan matanya membulat sempurna saat melihat dress berwarna serupa namun terlihat lebih elegan, tanpa lengan, dengan panjang dress sampai mata kaki namun terdapat belahan di bagian samping. Mengekspos bahu juga sebagian punggungnya.
"Juga yang ini!"
"Tentu nona," Ujarnya dengan membawa dress pilihan Agnia, lalu membawanya ke fitting room.
Dia masuk kedalam ruangan berukuran besar dengan dikelilingi oleh kaca, serta tirai lebar menjuntai berwarna coklat.
Setelah mencoba gaun pertama, dia keluar untuk memperlihatkannya pada Zian, pria itu mengangguk angguk menandakan dress itu cocok untuknya, mini dress yang memperlihatkan kaki jenjang miliknya.
"Cantik baby!"
Agnia terkekeh, dia masuk kembali kedalam fitting room dan mencoba satu dress malam pilihannya, belum sempat keluar, tirai besar itu terbuka, dan Zian berdiri didepannya.
Agnia menoleh, dan sontak saja dia kaget. "Astaga ... belum juga kelar! Nanti aku juga keluar."
Zian tidak mengatakan apapun, kedua matanya melirik kearah petugas, dan seolah mengerti arti dari tatapannya itu, petugas wanita itu mengangguk lantas keluar.
"Eh ... ini belum di resleting." Ujar Agnia pada petugas yang keluar begitu saja.
"Untuk itu aku kemari baby, sini ... aku bantu pasangkan resletingmu."
"Ayo cepat hubby! Tunggu apa?"
Agnia tidak tahu jika Zian tengah menahan diri agar tidak menerkamnya saat melihat punggung putih miliknya terpangpang nyata, perlahan dia menarik resletingnya, sementara Agnia menarik rambutnya keatas hingga bahu dan lehernya terekspos sempurna, membuat Zian semakin menelan saliva hingga rasanya kering.
"Gimana?" tanya Agnia pada Zian dengan menatap pantulan dirinya dicermin. Zian terlihat mengangguk. Dia melingkarkan tangan disepanjang pinggang Agnia, mengecup bahunya dua kali hingga bulu bulu tipis ditengkuknya meremangg.
"Eeh ...!"
"Perpect ... kamu akan jadi satu satunya yang paling bercahaya disana."
"Benarkah?"
Zian mengangguk lagi, kali ini dia mengecup leher Agnia hingga gadis itu bergidig.
"Sayang ... lebih baik kita pulang saja?"
"Kenapa?"
"Lebih baik kita membuat anak, biar aku menyuruh orang untuk penggalangan dana itu." bisiknya tepat ditelinga Agnia, gigitan kecil dia luncurkan tepat pada cuping telinga sang istri, membuat darahnya mendesir.
__ADS_1
Agnia membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arahnya, dengan kedua tangan melingkari leher Zian, dia berjinjit sedikit agar sampai pada telinga Zian, sementara pira itu semakin leluasa memeluknya dengan kedua tangan melingkari pinggangnya lalu berbisik dengan suara serak khas miliknya.
"Gak mau ...!"
Agnia tergelak, dia melepaskan dirinya dari pelukan Zian, dan merapikan rambutnya.
"Baby ...!"
"Yes ... i'm!"
"Ayolah ...!"
Agnia menggelengkan kepalanya, membuat Zian akhirnya menghela nafas, "Tapi sebentar saja ok!"
"Ok hubby! Takut amat sih!"
Zian kembali memeluknya dari belakang, dia bukan hanya takut Agnia mencari masalah, tapi ada yang lebih pengung dari itu.
"Aku tidak takut ... tapi aku tidak tahan untuk memakanmu baby!" gumamnya dengan terus mengecup lembut bahu Agnia.
Dia membalikkan tubuh istrinya hingga kembali menghadap kearahnya, lalu dengan cepat menyambar bibirnya dengan rakus. Menyusupkan benda basah tidak bertulang kedalam rongga mulutnya, menyisir satu persatu bagaian didalamnya. Ciumaan itu berubah menjadi semakin lembut seiring dengan deru nafas mereka yang saling memburu.
Kedua tangan Agnia melingari leher Zian, sesekali tangannya bergerak meremmas rambut suaminya itu, begitu juga dengan Zian, dengan kedua tangan yang melingkari pinggangnya namun bergerak perlahan menyusuri punggung mulusnya.
Decakan demi decakan mulai terdengar halus diruangan yang hanya tertutup tirai itu, hingga akhirnya permainan mereka berakhir dengan dada yang turun naik.
"Aku benar benar tidak bisa menahannya lagi baby!"
Zian menggendong tubuh tidak seberapa itu bak sekarung beras, lalu keluar dari fitting room dan juga langsung keluar dari butik itu.
"Kirimkan billnya padaku!" ujarnya pada petugas butik langgananya yang hanya terpaku ditempatnya, baru kali ini rasanya melihat member eksklusif butiknya melakukan hal itu.
"Hey ... turunkan aku!!" seru Agnia namun tidak digubrisnya. Pria itu memasukkan istrinya yang tengah mendengus kedalam mobil, lalu dengan cepat dia masuk dan langsung melajukan mobilnya.
"Iihh ... curang sekali! Aku kan ingin pergi ke acara penggalangan dana."
"Ya setelah hal yang paling penting dulu."
Zian membawa mobilnya melesat, dengan wajah dan satu bagian dibalik celananya yang sama sama tegang.
"Pasti sakit! Mau Nia bantu longgarin?"
__ADS_1