Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 178


__ADS_3

Agnia berjalan dibelakang tubuh Zian yang tinggi dan juga tegap, hingga apa yang ada didepannya tidak terlihat olehnya, tangannya tetap digenggaman Zian, pria itu membawanya menyebrang, lantas masuk kedalam kantor catatan sipil.


Kedua pupilnya melebar, saat melihat Kim juga disana dengan memegang sebuah berkas.


"Apa apaan ini?" Desis Agnia.


"Om kan sudah bilang, gak daftarin pernikahan sekarang, kenapa kita masuk kesini, ada sekretaris Kim juga!"


"Memang iya ... aku tidak berniat mendaftarkan pernikahan sekarang tapi langsung menikah!"


Kedua matanya terbelalak tiba tiba, dengan isi kepala yang kosong.


"Hah ... apa? Menikah? Sekarang?"


"Huum ...! Dengan begitu, kamu tidak perlu khawatir dengan seseorang yang akan membuat gosip murahan itu, juga tidak perlu khawatir dengan sekolah, karena kita hanya menikah di kantor sipil, setelah kau lulus ... baru kita gelar pesta pernikahan. Tidak ada ada yang tahu pernikahan ini! Yang tahu hanya Kim dan kedua orang tuamu!" jelas Zian membawa Agnia menuju sebuah meja.


Agnia semakin tidak percaya dengan mulut mengangga, "Mommy and Daddy tahu soal ini?"


Kim mengangguk, "Aku sudah mengatakannya bukan! Dia bisa melakukan hal tanpa kita duga, Nia!"


"Hanya karena kesal, dia langsung menikahiku? God ...!!!" desis Agnia dengan menatap Sekretaris Kim.


Sekretaris Kim hanya mengulum senyum, seolah berkata 'Aku tidak ikut campur! Dia tidak bisa dihentikan. Aku juga tidak bisa berbuat apa apa selain menurutinya.'


Kim menyerahkan berkas kepada petugas, lalu beberapa petugas memeriksanya, tak lama kemudian, mereka menyuruh Zian dan Agnia menandatangani beberapa surat.


Setelah beberapa prosedur dilakukan, akhirnya giliran mereka untuk berfoto, Agnia masih tidak percaya, prosedur pernikahan begitu mudah dilakukan jika di kantor catatan sipil.


"Ayo Nia!"


"Bagaimana mungkin berfoto! Aku saja hanya memakai baju ini!" ujarnya dengan menunjukkan pakaiannya,


"Tidak masalah! Ini hanya untuk foto dalam buku nikah kita! Kau bisa memilih gaun pernikahan yang kau inginkan nanti." Sahut Zian dengan senyuman khas miliknya.


Sementara Agnia sudah tidak sempat menjawab lagi, dia sudah ditarik kedalam ruangan dimana satu set kamera terpasang dan siap mengambil foto mereka berdua.


"Bisakah kalian duduk lebih dekat?" fotografer menyuruh mereka.


Zian menggeser tubuhnya hingga jarak tidak ada lagi jarak diantara mereka berdua, sedangkan Agnia maaih terlihat kebingungan.


"Lihat kamera, saat aku bilang buncis ... kalian juga bilang buncis." Goda fotografer itu bersiap siap dengan kameranya.


"Buncis apaan?"


"Dia hanya bergurau Nia ... kau tegang sekali! Ayo berikan senyuman terbaik untuk buku nikah kita!"

__ADS_1


Agnia terdiam, dia benar benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


Setelah semua selesai, mereka bertiga keluar dari kantor catatan sipil. Zian menggenggam tangan Agnia dengan erat, "Sekarang kau sudah menjadi istriku Nia! Kita akan pulang ke rumahku."


"Tunggu ... kita udah nikah gitu aja? Udah selesai?"


"Ya ... memangnya mau apa lagi? Kita hanya tinggal mengadakan pesta pernikahan nanti."


"Aku kan punya pernikahan impian ku sendiri, bukan seperti ini! Gak seru...!" desisnya lalu masuk kedalam mobil.


"Ada yang lebih seru nanti!" kedua alis Zian naik turun berulang kali.


Kim masuk dan langsung tancap gas, dia melajukan mobilnya ke rumah Zian.


"Gak ada pesta ... gak ada tamu, gak ada hadiah! Bahkan mommy dan Daddy gak lihat aku nikah!" gumam Agnia yang merasa tidak puas dengan penikahannya yang mendadak.


Zian hanya mengulum senyuman, lalu mengangkat tangan gadis yang hari ini jadi istrinya, lalu mengecupnya.


"Ini tidak akan lama, setelah kau lulus ... kita akan langsung mengadakan pesta pernikahan."


.


.


"Welcome home istriku!" ujar Zian membuka pintu rumah.


Sambutan meriah saat pintu terbuka, suara terompet dan juga balon dimana mana, Laras dan Dave ada disana, juga Bi Yum.


"Mommy? Daddy? Kenapa kalian ada disini?"


"Surprise party Nia! Selamat yaa ... Mommy senang karena hari ini Nia menikah, mommy juga tidak sabar ingin melangsungkan pesta pernikahan nantii."


"Kau harus sabar! Setidaknya tunggu sampai sekolahnya selesai! Itu kan sudah kita bahas bukan?" sela Dave pada Laras.


"Iya ... aku tahu!"


Laras mengurai pelukannya dari sang putri lalu menyalami Zian, "Tolong jaga putriku! Aku percaya kau yang bisa. Tu---"


"Haiissh ... kenapa formal sekali! Dia menantu kita sekarang, panggil saja namanya." celetuk Dave menyenggol Zian.


Kedua pria itu tergelak, disusul oleh Laras. Namun Agnia hanya terdiam memperhatikan, dia membayangkan bagaimana besok sekolahnya, pelajarannya dan kesehariannya dengan status baru nya sekarang.


Gila ... gue udah jadi istri aja! Nikah apaan ... ya tadi.


Seseorang berlari dari arah belakang, dengan bunyi sendal kebesaran dan juga suara nyaring khasnya.

__ADS_1


"Kak Nia!"


Agnia menoleh ke arah suara, gadis kecil yang selalu jadi teman bermain sekaligus teman bertengkar nya berlari dan hampir terjatuh.


"Aya ...?"


Agnia berlutut memeluk Aya, yang tertawa dengan gigi yang telah ompong.


"Kak Nia ... kok lama banget sih! Padahal tiap hari Aya nungguin kak Nia kesini tahu!"


Agnia mengernyit, "Nungguin tiap hari?"


"Iya ... Aya kan udah seminggu tahu tinggal disini! Emangnya Om Zian gak bilang ya!" ujarnya dengan polos.


Agnia menggelengkan kepalanya, "Enggak!" lalu beralih menatap Zian yang berdiri dibelakangnya. Pria tersebut hanya tersenyum lalu kembali mengobrol dengan Laras dan juga Dave.


"Ka Nia jadikan hari ini bobo disini? Nanti Bobonya sama Aya yah."


Agnia mengangguk, "Oke Aya ... Nanti kita tidur sama sama oke!"


"Tidak bisa! Kak Nia mu akan tidur denganku!" Zian tiba tiba muncul dan melingkarkan tangan dibahu Agnia, hingga gadis itu terperanjat kaget.


"Om ... apaan iih!"


"Kau lupa Syarat kedua? Mengganti panggilan itu Nia."


Aya hanya menatap keduanya bergantian, Agnia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, jangankan menyiapkan nama panggilan, dia saja dari tadi seperti orang bodoh yang tidak tahu berkata apa apa dan tidak tahu harus melakukan apa.


"Kenapa kak Nia harus bobo sama om Zian?" Celetuk Aya, membuat Dave tertawa.


"Dia benar Zian ... lebih baik kalian jangan tidur sekamar dulu! Aku takut kau khilaf."


Zian menoleh ke arah Dave, dia mendengus pelan lalu mengangkat tubuh Agnia dengan sekali tarikan. "Dia akan tetap tidur di kamar ku!"


Zian berjalan melewati Laras, juga Kim yang hanya menatapnya lekat, membawa Agnia yang meronta ronta dalam gendongannya menuju ke atas.


"Daddy!"


"Hei ... Zian, dia masih kecil!" seru Dave.


"Persetan dengan mu Dave! Dia milikku." Zian tidak menggubris pria yang kini jadi mertuanya, dia tetap melangkah menuju kamarnya, sedangkan Agnia kini melingkarkan tangan karena takut terjatuh.


"Om ...Nia bisa jalan sendiri!"


"Aku suamimu sekarang Nia. Jadi kau harus berada di sampingku selamanya."

__ADS_1


__ADS_2