Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 101


__ADS_3

"Ya ... aku mencintainya dan akan segera menikahinya." ucapnya tegas dan menohok Dita saat itu juga.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Dia tidak cocok untukmu Zian, jalangg kecil yang hanya mencari kesenangan dan uangmu saja! Dia pasti akan meninggalkanmu juga!"


"Terserah apa katamu, aku tidak peduli lagi padamu! Yang pasti dia lebih baik dari mu, dia lebih pantas menerima cinta dan segalanya dariku dari padamu." Dengan gigi yamg bergemelatuk menahan marah, "Dan jangan pernah injakan lagi kakimu dirumah ini! Atau aku akan buat perhitungan denganmu."


Dengan air mata yang semakin berlinang, Dita menatap Agnia dengan tajam, menghentakkan kaki lalu keluar begitu saja.


Dia masuk kedalam mobil dan melajukannya dengan cepat, "Awas saja kau jalangg kecil! Aku tidak akan diam begitu saja, dan membiarkanmu memiliki apa yang seharusnya menjadi milikku!"


Dita mencengkeram setir kemudi dengan erat, dan semakin menginjak pedal gas hingga mobilnya melaju semakin cepat.


Sementara Agnia masih terpaku ditempatnya, dia menyaksikan bagaimana perlakuan dan tatapan Zian pada Dita, dan membuat keyakinannya bertambah jika Zian sudah benar-benar melupakan cintanya pada Dita.


Zian berjalan menaiki tangga dan menghampirinya, "Jangan kamu fikirkan apa yang di ucapkan wanita ular itu! Sekalipun tidak bertemu denganmu, aku tetap akan melupakannya, dia pantas mendapatkan semua kebencian yang membuat diri dan hidup sendirinya hancur."


Agnia melingkarkan tangan pada pinggang Zian, begitu pun Zian yang merengkuh tubuhnya, "Aku mencintaimu Nia!"


Agnia mengangguk, "Aku juga!"


Zian mengenadahkan kepala gadis yang masih bermuka bantal itu, "Benarkah yang kamu katakan Nia?"


Agnia mengangguk pelan dengan wajah yang memerah seketika, kekesalan Zian seketika hilang, berubah menjadi kebahagian tiada tara, dengan kedua tangan yang memegang pipi Agnia, dia merekatkan wajahnya hendak menyambar bibir mungil merah muda itu, namun Agnia melepaskan diri dan berlari masuk kedalam kamar.


"Nia ... kenapa?" serunya dengan heran.


"Aku belum mandi!" ujarnya membuat Zian tertawa.


"Dasar...! Mandilah, aku akan mengantarmu ke kantor."


Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar, Agnia sudah masuk kedalam kamar mandi.


.


.


Zian mengantarkan Agnia ke kantor Golden Globe, dengan tangan satu memegang setir mobil dan satunya menggenggam tangan Agnia, senyuman tidak lepas dari paras tampannya, membuat Zian semakin tampan jika tersenyum tanpa bicara.


"Aku akan mempercepat rencana untuk menikahimu Nia! Kalau perlu besok juga kita bisa pergi ke kantor catatan sipil untuk mengurusnya."


"Aku masih sekolah! Kenapa gak nunggu sampe lulus sekolah,"


"Kenapa harus menunggu, kita bisa menikah dulu, sekolah ya sekolah saja!"

__ADS_1


"Gampang banget kalau ngomong! Bagaimana kalau semua teman-temanku tahu, kalau aku sudah menikah!"


Zian tampak berfikir, namun tidak mengurungkan niatnya untuk mempercepat keinginannya, "Itu bisa di atur, kita menikah dulu dikantor catatan sipil, setelah kau lulus baru kita adakan pesta pernikahannya. Bagaimana Hem? Dan tidak perlu khawatir kalau kamu nanti hamil, kita bisa menunda kehamilan untuk beberapa bulan. Karena aku tidak akan memberikan kesempatan pada pria lain untuk mendekatimu, termasuk bocah ingusan yang suaranya jelek itu!"


"Regi maksudnya? Jelas-jelas suaranya lebih bagus!" gumamnya, namun masih terdengar oleh Zian.


"Jangan pernah memuji bocah itu, dan juga pria lainnya!" ujarnya dengan menarik tubuh Agnia hingga kepalanya terbenam didada bidang miliknya.


Agnia mencoba mencerna semua yang dikatakan Zian, "Tapi aku ingin kuliah dan bekerja!" ucapnya dengan mengenadahkan kepalanya.


"Untuk apa bekerja? Kamu bisa dapat semua yang kamu inginkan tanpa harus bekerja!" ujar Zian menarik hidung mancung Agnia.


"Iiihhh ... lalu bagaimana dengan cita-citaku, aku ingin kuliah hukum dan jadi pengacara."


"Kenapa mengawatirkan hal itu, apapun yang jadi cita-citamu aku akan selalu mendukungmu! Asal kamu tetap berada disampingku. Mengerti?"


Benar juga, Zian selalu mendukung apapun yang dilakukan oleh Dita, wanita itu saja yang bodoh karena menyia nyiakannya.


"Tapi aku harus bicara dulu dengan mommy!"


"Aku akan mengantarmu."


"Tidak usah! Aku pergi sepulang dari kantor, aku ingin bicara terlebih dahulu dengannya, sebelum nanti Om menemuinya."


"Sekretaris Kim pasti akan sibuk, kasian dia! Aku pergi sendiri saja. Please!" ujar Agnia dengan wajah menggemaskan.


Akhirnya Zian menghela nafas, "Baiklah ... tapi segera kabari aku."


Mobil berhenti tepat di kantor Global globe, Agnia turun dan melambaikan tangan pada Zian, sesaat mobil itu kemudian melaju pergi. Agnia pun berjalan ke arah pintu masuk.


"Itu kan big boss? Tapi dia tidak turun?"


"Untunglah tidak turun, kalau turun justru bahaya, kerjaanku belum selesai!"


Dua orang wanita berjalan dibelakang Agnia, tentu saja gadis itu mendengar obrolan mereka mengenai big bos yang sampai saat ini belum sekalipun dia melihatnya, hingga 2 orang staff itu melewatinya dan dia mengangguk pada mereka.


Agnia menoleh kearah jalan raya, namun tidak melihat siapapun kecuali kendaraan yang melintas dengan cepat. Dia mengerdik, lalu kembali mengayunkan kakinya untuk masuk.


"Nia ...!" seru Nita yang baru saja sampai, disusul oleh Cecilia dari belakangnya.


"Gimana? Lo udah mulai nyusun laporan belum?"


"Belum sempet Nit! Abis pulang gue suka langsung tidur!" ujar Agnia dengan tetap berjalan masuk.

__ADS_1


"Tidur apa di tidurin nih?" celetuk Cecilia yang menyamai langkahnya.


"Sialan bacot lo Ce! Nanti ada yang denger ... mampus si Nia!"


"Huum ... gue cabein juga tuh mulut!" ujar Agnia menarik bibir Cecilia.


"Iiihhh ... lip tint baru gue nih berantakan!" ujarnya dengan merogoh cermin kecil dari saku kemejanya.


Agnia dan juga Nita tergelak, "Eeeh iya ... nanti pulang dari sini kita kemana gitu yuk! Sekalian mulai nyusul laporan!"


"Tumben lo Nit semangat banget!" tukas Cecilia yang masih sibuk merapikan riasannya.


"Ini nih, gue juga gak tahu kenapa setan malas akhir-akhir ini jauhin gue!"


Agnia tergelak, dengan menyenggol lengan Nita, "Ati-ati lo ketemu setan beneran!"


Ketiganya lantas tertawa, kemudian masuk kedalam lift.


"Eh kalian masih penasaran gak sih sama big bos? Gue penasaran banget anj ... sampe hari ini gak nemu satu petunjukpun." Cecilia menekan nomor 4 di lift.


"Udah deh ... jangan nyari masalah terus! Waktu kita juga tinggal 1 minggu disini! Gak akan cukup kalau lo mau gaet big bos."


Agnia hanya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Nita.


"Gak seru ... gak ada tantangannya, padahal gue pengen rasain yang beda, jangan cuma megang doang yang udah gak bisa bangun!" seloroh Cecilia tanpa filter.


"Ya ampun! Temen lo tuh Nit, harus di cuci otak nya kotor banget!" Agnia menyandarkan punggungnya didinding lift.


"Sorry ... gue gak punya temen kayak dia! Temen lo itu Nia!"


Keduanya tertawa, sementara Cecilia menghentakkan kaki dengan kasar. Membuat tawa keduanya semakin kencang.


Pintu lift terbuka, Cecilia dan nita keluar, mereka kembali berjalan bersisian, tapi Nita dengan cepat menahan pintu agar tidak tertutup.


"Eh gimana Nia! Bisa kan nanti pulang nya?"


"Kalian duluan aja! Gue mau pulang dulu ke rumah nyokap, nanti gue nyusul!"


Mereka pun berpisah, lift kembali tertutup, ruangan divisi humas memang berada di lantai 5.


Agnia keluar saat pintu lift terbuka, dia lantas berjalan ke arah ruangan dimana selama ini dia mengerjakan apa yang menjadi tugasnya.


Langkah Agnia terhenti saat melihat seseorang yang baru saja keluar dari ruangan ibu Wang.

__ADS_1


"Itu kan Dita! Ngapain dia disini?"


__ADS_2