Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 86


__ADS_3

Hayoo seneng kan 3 chapter hari ini, jangan lupa like dan komen yang banyak ya buat othornya ❤️


.


.


"Eeh ... Nia gak mau! Buat apa? Sama aja Om masih nganggap Nia itu sugar babynya Om iya kan? Dan Om akan berlagak menjadi sugar Daddy. Enggak ... pokoknya enggak! Lagian Om gak kapok apa kasih begitu aja dengan gampangnya! Ditipu lagi baru tahu rasa!"


Zian tergelak, "Memangnya kamu sudah berniat menipuku?"


"Bisa saja! Gimana kalau emang bener Nia mau menipu Om!" sahutnya dengan mata membulat.


"Aku rasa kamu tidak akan melakukannya, uang pria beristri saja kamu kembalikan! Kalau orang lain atau temanmu sudah pasti tidak akan melakukannya."


Gadis itu mendengus kesal, menyambar kartu berwarna hitam itu dari tangan Zian lalu memasukkannya kedalam tas begitu saja.


"Lagipula, jika memang kamu mau menipuku! Aku tidak masalah!"


Agnia mengernyit, "Kenapa begitu! Ooh ... aku tahu, karena uang mu banyak kan? Makanya sombong begitu!"


Zian tergelak, "Bukan itu, tapi karena aku akan mengejarmu sampai dapat!"


"Mana bisa begitu! Om membiarkan mantan pacar Om begitu saja, Om gak ngejar dia!"


Zian menggelengkan kepalanya, "Ternyata kau belum mengerti juga!"


Agnia terdiam, "Maksudnya apa?"


Zian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, " "Pokoknya aku tidak akan membiarkanmu pergi membawa uangku begitu saja, aku akan mengejarmu kemanapun!"


"Dasar curang!"


Zian terkekeh, dengan mencubit lembut pipi Agnia, bertepatan dengan mesin permainan biang Lala yang berhenti, membuat percakapan mereka terhenti, keduanya kemudian keluar.


Mereka pun kembali berjalan, dengan Agnia yang memeluk boneka Teddy bear.


"Anggapanmu tentang Sugar Daddy bagus juga! Aku belum pernah mencobanya." ucapnya dengan terkekeh, sementara Agnia mendengus kesal lalu memukul lengan Zian dengan keras.


"Enak saja! Udah aja sana sama Cecilia atau Nita!"


Zian tergelak, "Aku tidak mau dengan mereka! Aku maunya sama kamu!"


"Ngarep banget!!"


Masih dengan tergelak Zian menarik tangan Agnia, sementara Agnia merengut kesal.


"Sekarang kamu mau naik apa lagi?"


"Aku lapar...!"


"Kita makan dulu kalau begitu!"


Agnia tanpa malu mengangguk, dia menunjuk tempat makan dengan tenda yang berada tidak jauh dari tempat itu. Terlihat beberapa orang duduk dikursi plastik dan menunggu pesanan mereka.


"No ... kita cari tempat lain!" ujar Zian dengan menarik kembali tangan Agnia.


"Tapi aku mau makan itu Om!"

__ADS_1


"Kita ke restoran seafood saja! Kau tidak tahu bagaimana mereka menyajikannya kan?!"


Agnia merengut, berjalan dengan langkah yang sedikit diseret, dengan terus menatap pedagang tenda tersebut. Mereka berjalan dan masuk kedalam mobil lalu melaju ke arah restoran yang tidak jauh dari sana.


.


.


Zian menepikan mobilnya, lalu keluar dari dalam mobil, disusul oleh Agnia yang sudah sangat lapar.


"Padahal kamu sedari tadi banyak makan! Belum juga jajanan yang tidak jelas itu."


Agnia menyusul langkahnya, "Aku kan sedang masa pertumbuhan Om, wajar saja kalau aku banyak makan."


"Iya ... kau benar! Jadi sekarang kau harus makan dengan baik! Agar cepat besar."


Agnia mengernyit, "Cepat besar apanya? Nia kan udah besar!"


"Menurutku masih belum besar!" ujar Zian dengan tergelak.


"Apa maksudmu! Dasar mes sum!"


Keduanya duduk dengan saling berhadapan, dengan Agnia yang masih mencebik kan bibirnya. Sementara Zian mengulum senyuman. Tak lama seorang pelayan menghampirinya dan membawa buku menu.


"Berikan apa yang dia inginkan!" Ucap Zian.


Agnia memesan banyak sekali menu untuk makan malamnya, perutnya terasa keroncongan menahan lapar.


Zian terlihat mengotak -atik ponsel miliknya, tak berselang lama pelayan itu kembali dengan menyajikan pesanan mereka.


"Makan pelan-pelan, kau bisa tersedak nanti!"


Agnia hanya mengangguk, tapi tidak menghentikan kegiatannya menyantap makanan itu dengan nikmat.


"Aku ke toilet dulu!" ujarnya saat selesai makan lalu bangkit dari duduk dan berlalu menuju toilet. Sementara Zian mengotak-ngatik kembali ponselnya.


Tidak lama Agnia kembali dan Zian tidak terlihat lagi di kursi dimana dia duduk sebelumnya, Agnia mencarinya dengan mengedarkan kedua bola mata kesegala arah, dan melihat Zian yang tengah berdiri dengan ponsel yang menempel ditelinganya.


Agnia mematung menatap nya, Zian yang tegap terbalut pakaian santainya itu terlihat gagah dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.


Untuk sepersekian detik Agnia terpesona, ditambah seorang pria menghampirinya dengan menyerahkan sebuah gitar kepadanya. Zian memasukkan ponsel kedalam saku celananya, lalu menerima gitar yang diberikan pria tersebut.


"Eh ... dia mau ngapain!" gumam Agnia yang takut- takut Zian akan bertingkah norak seperti dipasar malam.


Zian duduk disebuah kursi didepan, lalu memetik gitar dengan lembut, suaranya juga cukup bagus, begitu cocok dengan penampilannya, Zian menyanyikan sebuah lagu, yang Agnia sendiri dibuatnya terpana. Namun dia mencoba untuk membuat suasana terlihat biasa saja.


Tidak pernah lepas kau dari ingatanku,


Ku jatuh cinta pada orang yang salah..


Cinta bagaikan ilusi ...


Ooh cinta mengapa singgah dihatiku, kau salah memilih tempat dan waktu...


Oohh... tak tahan aku menahan rasa ... aku tersiksa..


Zian menatapnya dengan sumringah ketika bernyanyi, membuat degup jantung Agnia berdetak kencang, dan sebagian orang yang tengah menikmati santapannya masing-masing mulai melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Anj ... malu banget!!" gumam Agnia.


Dia bersembunyi dibawah kolong meja, "Sumpah, kelakuannya kayak ABG, malu banget gak sih!" gumamnya.


Kedua manik Zian mencari sosok gadis, berharap dia bisa melihatnya. Dengan sikap yang baru saja dia tunjukan secara impulsif itu.


Namun sosok yang tadi melihatnya kini menghilang begitu saja. Hingga aksi bernyanyinya selesai dan tepuk tangan riuh dari pengunjung yang lain terdengar.


Agnia memejamkan mata, saat Zian tiba-tiba duduk dan menyibakkan kain alas penutup untuk meja.


"Sedang apa?"


Agnia terkekeh, melihat wajah Zian yang sumringah dengan kedua pipi yang terlihat kemerahan.


"Lagian Om ngapain sih nyanyi-nyanyi begitu! Bikin malu tahu!" ujarnya perlahan keluar dari kolong.


"Kau ini ada-ada saja, aku hanya mencoba menguji suaraku, bukan bernyanyi untuk seseorang apalagi itu kamu!" ujarnya menohok.


"Eeeh ... jangan-jangan kamu merasa kepedean. Iyakan?" ucapnya lagi.


"Tidak ... Om memang bernyanyi kan! Dan itu untuk siapa coba! Aneh ... kelakuan Om itu lebih-lebih dari alay tahu gak!"


Zian mengernyit, "Alay ... apa itu?"


"Sudahlah Om tidak akan mengerti!"


Tak lama kemudian seseorang menghampiri mereka, lalu menjabat tangan Zian dengan penuh hormat.


"Bos ... lama tidak pernah kemari!" ucapnya pada Zian.


"Bagaimana kabar Resto?"


Pria itu mengangguk, "Sejauh ini berkembang bagus! Sekretaris anda sering kemari untuk membuat laporannya, mungkin Anda sudah menerima nya?"


"Tentu saja ... kalian bekerja dengan baik!"


"Dan saya akan segera mencari home band yang sesuai dengan keinginan Anda Bos." ujarnya lagi.


"Baguslah! Kau bisa diandalkan."


Pria itu mengangguk, lalu pamit undur diri, membuat Agnia melongo tidak percaya.


"Jadi Om pemilik resto ini?"


"Kau fikir? Aku akan mempermalukan diriku sendiri dengan asal bernyanyi seperti tadi? Itu hanya contoh untuk home band murahan yang mereka sewa selama ini! Mereka membuatku kecewa!"


Agnia menelan salivanya sendiri, lalu untuk apa dia bersembunyi tadi, Lo fikir Zian bernyanyi untukmu Nia? Kepedeean sih Lo. batin Agnia.


Zian memicingkan kedua matanya, "Apa kamu berharap aku bernyanyi untukmu?"


"Enggak ... bukan gitu!"


Zian mencubit pipi Agnia lalu menggusel nya lembut, "Ayo jujur saja, kau ingin aku bernyanyi untukmu!"


Agnia menjadi salah tingkah dibuatnya, dia tidak berharap, namun juga mulai merasa perhatian-perhatian kecil yang Zian berikan untuknya. Ditambah sikap Zian yang menurutnya semakin berubah menjadi lembut itu.


"Bagaimana kalau band nya Regi saja yang bermain di sini? Suara Regi bagus lho Om!"

__ADS_1


__ADS_2