Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 288


__ADS_3

"Kau bercanda?" Zian tergelak dengan kelakar dari seorang pembisnis sekaligus pengacara yang dia tunjuk untuk mengurus perusahaannya yang kini ditangani Kim, begitu juga dengan Carl, pria mapan yang tidak pernah bisa setia dengan satu wanita dalam hidupnya.


Agnia hanya berdecak saat keduanya tertawa, "Jadi keluarga! Maksudnya apa?" Desisnya. Namun kedua manik hitamnya tidak beralih pada ponsel yang kini menyala di tangannya.


"Kau fikir kau jadi keluarga dari mana? Kim? Dia sudah punya kekasih! Jadi kau tidak mungkin jadi keluargaku. Kecuali...!" Ujar Zian melirik Agnia yang masih fokus dengan mengotak ngatik ponselnya.


Dia memang tidak ikut berbicara, namun telinganya dia pasang dengan tajam. Gadis itu mengernyit saat Zian mengatakan nya dan meliriknya, tak lama dia menoleh dengan kedua manik yang membola. "Kecuali apa?"


"Kau bilang ibumu sudah tidak berniat kembali pada ayahmu bukan? Bagaimana kalau kita jodohkan dia dengan Carl?" gumamnya ditelinga Agnia.


"Wait ... Wait!! Di jodohkan? Tradisi itu masih berjalan di sini? Oh god ... " Carl beranjak dari duduknya, memasukkan berkas yang tadi Zian tanda tangani. Lalu berdiri dengan satu tangan berkacak di pinggangnya.


"No thanks ... kalian tidak usah repot repot, aku sudah mempunyai incaranku sendiri. Aku pergi dulu! Kabari jika Kim sudah kembali." Ungkapnya lagi, tak lama dia beranjak pergi dari ruangan meeting.


"Hubby! Apa maksudnya dengan menjodohkan Carl sama mommy? Jangan aneh aneh deh! Kalau sampe di denger mommy. Bisa bisa dia marah besar." Agnia menghela nafas, dia tahu jika Laras tidak suka dengan perjodohan apalagi riwayatnya dulu saat perjodohan yang terjadi antara dia dan juga Ayahnya berakhir dengan perceraian.


"Lagi pula Nia gak bakal setuju kalau Carl sama Momy. Dia saja sering berganti ganti wanita." ujarnya lagi.


Zian terkekeh kecil, dia menarik kursi yang di duduki Agnia dan memutarkannya hingga menghadap ke arahnya.

__ADS_1


"Apa kau tidak percaya jika seorang pria brengsekk akan berhenti berlayar jika menemukan pelabuhannya? Hem ...?" tanyanya dengan tatapan nanar, dengan tangan yang menyematkan anak rambut di belakang telinganya.


"Berlayar? Emangnya nakhoda. Kau tahu kan Carl itu lebih parah dari Daddy?"


"Aku tahu ... Tapi tidak kah ada kesempatan untuknya?"


"Enggak!" Ujar Agnia dengan beranjak dari duduknya. "Nia gak mau! Lagian Mommy juga gak mau di jodoh jodohin kayak gitu!"


Zian mengedik, "Baiklah! Kita tidak usah membahas masalah itu lagi."


"Ya udah! Udah beres kan? Terus masalah berkas yang baru saja ditanda tangani berkas apa? Nia gak ngerti."


Zian mengulum senyuman, "Nanti kau akan tahu!"


"Intinya secara tidak langsung kau akan mulai menangani masalah bisnis."


Kedua mata Agnia membola, "Menangani gimana? Nia gak ngerti bisnis! Nia juga kuliah kan ambil Hukum. Bukan bisnis hubby."


Zian mengangkat bokongnya dari kursi, dengan bersandar pada meja dia menatap Agnia yang tengah membelakanginya.

__ADS_1


"Pantas saja kau suka sekali menghakimi orang lain dengan caramu sendiri baby! Kau pasti akan jadi pengacara yang handal, atau jadi hakim."


Agnia berbalik, dan menatapanya tajam, "Itu beda! Nia gak menghakimi mereka sesuka hati ya! Nia hanya membalas apa yang mereka lakukan aja. Dan itu gak ada hubungannya dengan apa yang baru saja Nia tanda tangani. Ini masalah pekerjaan tuan Ziandra."


"Tidak masalah ... kamu mau ambil kelas hukum atau apapun itu. Kau juga tidak harus bekerja. Dan aku pun tidak menyuruhmu bekerja."


"Lah terus??"


Zian meraih tangan Agnia, dia memegang jari telunjuk miliknya, "Kau hanya perlu gunakan jarimu ini, dan biarkan mereka bekerja untukmu."


"Mana bisa begitu sayang! Terus aku gak ngerti sama sekali, kalau ditipu gimana? Enak aja. Ya seenggaknya harus belajar biar gak di bodoh bodohi lah. Lagian ya ... Nia bisa ambil dua kelas sekaligus. Bisnis dan hukum."


"Tidak! Tidak perlu lakukan itu, kamu hanya akan mempersulit dirimu sendiri baby."


"Hubby ... hubby fikir Nia gak bisa?"


"Bisa, tapi bagaimana dengan bayi kecil kita?" ujar Zian mengelus perut rata Agnia. Gadis itu merekatkan gigi putih ke arahnya, "Hem ... cukup satu saja oke? Masalah kantor, biar aku yang mengurusnya, ada orang lain yang bekerja juga." tambahnya lagi.


"Sekarang kita pergi, meeting ke dua ada di hotel."

__ADS_1


"Hotel?"


"Hem. Karena ini kerja sama hotel."


__ADS_2