Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 59


__ADS_3

"Kalau gitu lo ikut gue! Ayo...!" ujar Regi dengan mengambil tas milik Agnia, dan berjalan menuju tempat parkir dimana motornya berada.


"Tapi gue bawa motor! Lo gak apa-apa kan?"


Agnia mengangguk begitu saja, lalu mengikuti Regi berjalan.


Dia pun naik ke atas motor yang dikendarai Regi, tidak biasanya, Agnia hanya mengangguk atau pun menggeleng saat Regi bertanya, hingga mereka berhenti di satu bangunan apartemen tinggi juga mewah "Untuk sementara lo tinggal di apartemen gue ya! Gue juga jarang nempatin soalnya."


Agnia mengendahkan kepalanya melihat bangunan apartemen mewah itu, "Gak lah, gue lebih baik nyari apartemen biasa aja, atau kos-kosan gitu lah! Gue ada tabungan kok!" tolaknya.


Regi turun dari motor, dan berdiri dihadapannya, "Untuk sementara, setelah lo dapet tempat, lo boleh pindah! Gue khawatir sama lo Nia!"


Tatapan mereka beradu, Regi yang memang menyimpan rasa terhadapnya, menatapnya dengan nanar, "Please, terima tawaran gue! Dari pada tempat ini diisi setan kan ya!" kelakarnya membuat Agnia akhirnya tertawa.


"Ya udah, tapi buat sementara ya! Sambil gue nyari tempat lain, yang deket sekolah!"


Regi mengacak rambut Agnia, "Gitu dong, kali-kali lo nerima bantuan gue! Masalah ke sekolah, lo kan bisa bareng sama gue,"


Agnia mengangguk, "Thanks ya Gi, lo selalu ada buat gue!"


Regi hanya mengangguk,


Karena gue cinta sama lo Agnia.


Dia hanya mampu berbicara dalam hati, ungkapan itu mungkin tidaklah tepat untuk saat ini, dan dia tidak ingin menambah beban fikiran dari gadis yang terlalu banyak masalah hidup itu.


"Ya udah yu turun!!"


Akhirnya Agnia bisa tinggal sementara di apartemen milik Regi,


Sementara saja Agnia, lo gak boleh ngerepotin orang lain, lo harus mandiri.


Pintu terbuka, Regi mempersilahkan Agnia masuk, lalu dirinya yang menyusul dari belakang.


"Lo boleh tinggal sampai kapan pun lo mau! Itu kamar lo," tunjuknya pada sebuah pintu berwarna coklat.


"Lo juga bakal tinggal disini?"


"Kali-kali ... gue sih lebih sering tidur di studio, gue jarang ke sini."


Agnia mengangguk lagi, "Kalau gitu gue ke kamar dulu ya Gi ... gue capek!!"


.


.


Zian termenung seorang diri, memikirkan ucapan Agnia juga Kim, namun tidak ada alasan untuk percaya pada mereka, baginya Dita itu sempurna, calon istri dan ibu bagi anak-anaknya, dia lah yang hadir saat dirinya terpuruk. Kehilangan istri dan calon anaknya yang meninggal saat melahirkan.


Butuh waktu bertahun-tahun untuk bangkit, dan selama itu pulalah, Anindita yang menemaninya.


Tak lama kemudian Iyan datang, dia membawa berkas-berkas dari kantor untuk Zian tanda tangani, setelah bibi pelayan membukakan pintu, dia masuk dan menghampiri Zian di ruang kerjanya.

__ADS_1


Tok


Tok


Iyan mengetuk pintu, dan membukanya setelah Zian terdengar menyahutinya dari dalam.


"Bos ini berkas yang kau minta!"


"Simpan saja di situ!" ujarnya.


Iyan mengangguk, lalu menyimpan berkas itu ditempat yang telah Zian katakan.


"Bagaimana hotel?"


"Aman bos! Semua terkendali dengan baik!"


"Bagus! Lalu orang yang kau suruh melihat Dita bagaimana?"


Iyan mendudukkan dirinya di atas sofa, "Maaf bos ... untuk hal itu, dia masih terus mencari cara untuk bisa melihat Dita, berhubung acara itu acara besar di New York, dan semua talent mendapat pengamanan yang ekstra ketat.


"Tapi bagaimana mungkin seketat itu? Sampai dia tidak bisa menghubungiku setiap hari?"


Drett


Drett


Ponsel Zian berdering diatas meja, sekilas Zian menatap layar ponsel dan segera menyambarnya setelah tahu siapa yang meneleponnya.


'Baby ... aku merindukanmu!! Maaf jadwalku padat sekali, dan aku jarang sekali bisa menghubungiku.'


'Kau tahu honey, aku hampir gila menunggu kabar darimu!'


'Baby ... jangan membuatku merasa bersalah, aku juga ingin setiap saat bisa memberi kabar padamu, tapi aku sibuk sekali. Maaf Baby.'


Zian menghela nafas, 'Honey ... kau tahu aku tidak bisa marah terhadapmu!'


'I know baby ... i will missed you!'


'Aku akan mengganti sambungan menjadi video, hold on.'


Dita terdengar gelagapan, 'No baby ... aku sedang meeting dengan produser, tunggu nanti malam ok Baby?'


Iyan menarik tipis bibirnya, melihat Zian yang terlalu mudah di bohongi, dan tidak sedikitpun menaruh curiga pada wanitanya itu.


Dialah wanita ... kau memang pintar sayang, lihatlah wajah bodohnya itu.


'Kapan kau akan kembali pulang Honey?'


'I'm so sorry baby, besok aku terbang ke singapore, aku mendapat tawaran iklan ... mungkin seminggu setelahnya aku kembali Pulang. Dan kita akan mulai mempersiapkan pernikahan. I'm ready to marriage with you beib.'


Wajah Zian semakin bersinar mendengarnya, dia pun terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.

__ADS_1


'Aku tidak sabar menunggumu!'


Sambungan telepon berakhir, Zian menatap layar yang telah menggelap itu, dia hanya perlu menunggu seminggu lagi, dan setelah itu mengatur waktu untuk persiapan pernikahan.


"Bagaimana bos? Kau bisa tenang sekarang?"


"Hm ... setelah menikah, aku tidak akan mengijinkan Dita bekerja. Dia harus ikut bersama ku kemana pun aku pergi!"


"Ide bagus! Bagaimana dengan gadis belia itu?"


Zian mendengus, "Dia sudah pergi! Dan aku tidak peduli lagi dengannya." ujarnya dengan menyandarkan punggungnya di kursi kerja.


"Sayang sekali, kenapa tidak bos berikan padaku? Aku kan sendiri dan kesepian."


Zian mendongkak ke arahnya, "Kalau kau mau, cari saja dia, mungkin saat ini dia tengah menemani pria-pria hidung belang."


Iyan terkekeh mendengarnya, namun tidak dengan Zian, walaupun dia mengatakan hal itu, kenapa hatinya merasa teriris.


Iyan bangkiit dari duduknya, "Kalau begitu aku pergi! Pekerjaan ku sudah selesai bukan?"


Zian mengangguk, "Pergilah."


Setelah kepergian Iyan, Zian larut dalam pekerjaannya, laporan demi laporan dia periksa, tak lama kemudian, Zian keluar dan melangkah ke kamarnya sendiri.


"Tuan ...!"


Zian menoleh ke arah suara, bibi pelayan rumah baru saja keluar dari kamar yang biasa Agnia tempati.


"Bibi menemukan ini di kamar yang di tempati non Agnia." ujarnya dengan menyerahkan kartu hitam yang dia berikan pada Agnia beberapa waktu lalu, dan juga sebuah flashdish berwarna merah.


Zian mengambilnya dari tangan asisten rumah tangganya itu. "Kalau pekerjaan mu sudah selesai, pulanglah dengan segera!"


Wanita paruh baya itu mengangguk, "Terima kasih."


Sementara Zian acuh dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia pun memeriksa laporan keuangan miliknya, dan menemukan jika Agnia tidak pernah melakukan transaksi apapun menggunaan kartu miliknya.


Sementara Flashdish itu kini dia tancapkan pads laptopnya,


"Nia ... apa yang kau inginkan?"


Flashdish itu kini tersambung dengan laptopnya, dia memeriksa satu per satu folder di dalamnya dan juga beberapa video, salah satunya video saat Vina menyiksanya.


Dan satu video yang membuatnya tercengang, video Agnia dengan pakaian seksi dengan sengaja mengoleskan lipstik di lehernya, wajahnya tampak tersenyum ke arah kamera, dan bisa dikatakan dia sengaja melakukannya.


Lalu berpose di samping seorang pria yang tengah tertidur di sebuah ranjang.


Zian mengambil foto yang Iyan berikan kepadanya, baju yang sama yang dikenakannya di dalam video.


"Agnia ... apa yang sebenarnya terjadi?"


Zian pun bangkit dari duduknya, dan melangkah keluar, dengan bergegas dia turun dari kamar dan keluar.

__ADS_1


"Aku harus mencari tahu!"


__ADS_2