Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 156


__ADS_3

"Nia gak mau ... untuk apa kasih dia support? Yang ada dia makin besar kepala, harusnya dia bisa sadar! Semua terjadi karena kesombongannya, gitu juga dengan kakek Arkhan. Keadaan mereka hancur baru ingat Nia, sok peduli!" seloroh Agnia, dengan mengikuti langkah Zian yang duduk di sofa, begitu juga dia yang mendaratkan bokong disampingnya.


Zian menghela nafas, tidak mudah memang mengobati hati yang tengah kecewa, namun dia yakin suatu hari nanti hubungan keluarga mereka akan membaik.


"Perih?" tanyanya dengan melihat Zian menyusut ujung bibir menggunakan ibu jari.


"Iya ... sedikit, ini harus segera di obati!" jawabnya tanpa menoleh.


"Kotak obat P3K disimpan dimana? Biar aku ambil."


"Ada obat antiseptik yang lebih manjur."


Agnia mengedarkan kedua manik hitam dengan bulu mata lentik itu ke seluruh arah, "Dimana? Biar aku ambil!"


Zian menunjuk bibir Agnia dengan telunjuknya, "Disini!!" ujarnya dengan tergelak.


"Luka ku diujung bibir, obatnya dengan bibir lagi!" lanjutnya semakin tergelak, namun kemudian meringis karena luka itu tertarik sendiri.


Agnia seketika membola tajam, dia juga memukul lengan Zian dengan keras, "Iihh Apaaan sih!! Bisa bisanya berfikir mesum, padahal lagi sakit!"


Zian masih tertawa, dengan tangan menahan bibirnya yang sedikit sobek, sementara Agnia mendengus kesal dengan kedua mata mendelik ke arahnya.


"Padahal aku sedih tahu!"


Zian menariknya perlahan, "Uuh ... sayang! Aku kan hanya menghiburmu, maaf yaa! Aku hanya bercanda."


.


.


Sementara Kim masih mengikuti Dave yang keluar dari kantor dengan sangat marah, dia tampak menyedihkan dengan rambut berantakan dan juga pakaian yang semrawut.


Sangat berbeda dengan terakhir kali dia melihatnya saat di rumah Bi Nur.


Dave berlari ke tengah jalan, fikirannya kalut dan juga frustasi, Arkhan bahkan terus menyalahkannya atas apa yang diperbuat oleh Karina.


Kim melihat kearah berlawanan, dimana mobil melaju sangat kencang, dan Dave seakan tidak melihatnya.


"Awasssss!!!" teriaknya.


Brukk

__ADS_1


Bunyi klakson terdengar nyaring, dengan teriakan supir dari dalam mobil yang marah namun tetap melesat dengan cepat. Dave berguling ke tepi jalan, dengan nafas terengah engah. Begitu juga Kim yang berlari sekuat tenaga dan berhasil menariknya.


"Kau sudah gila! Mau mati konyol!"


Dave beranjak bangun, "Apa pedulimu Kim! Semua orang pergi, tidak ada yang peduli padaku, hidupku juga hancur, untuk apa lagi aku hidup."


"Kau memang bodoh tuan Dave! Harunya kau sadar setelah semua ini terjadi, otakmu seharusnya dipakai untuk berfikir!" ucap Kim yang menatap sikut dan lengan Dave yang berdarah.


"Obati lukamu, atau pergilah ke rumah sakit! Paling tidak kau mati ditempat lain, jangan mati di depan sini, akan sangat merepotkan jika tuan Zian atau putrimu sendiri melihat mayat mu tergeletak dengan sangat menyedihkan disini." Sarkas Kim dengan berbalik masuk kembali kedalam gedung, ucapannya sangat menohok, dan dia memang sengaja.


Dave tertegun, baru sekarang dia mendengar kata kata larangan namun sedikit menyindir dan menyentil dirinya sekasar itu, terlebih dari seorang wanita.


Dave terduduk dianak tangga dengan kedua tangan membasuh wajahnya dengan kasar, "Dammn apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Kim kembali masuk kedalam ruangan Zian, dimana Zian tengah memeluk Agnia, rasanya dia ingin kembali keluar dan menghilang dari muka bumi, namun kedua manusia berbeda generasi itu sontak mengurai pelukannya, dia hanya mengulum senyum.


"Lain kali, pastikan pintu terkunci, aku tidak mau melihat adegan seperti ini untuk kedua kalinya." ujarnya dengan meletakkan kotak obat di atas meja, lalu kembali keluar dari ruangan.


"Kau sih! Jadinya kan gak enak sama sekretaris Kim." Agnia memukul paha Zian,


"Aku hanya memelukmu Nia, bukan mencium mu apalagi menindih mu, dia saja yang repot sendiri," jawab Zian dengan menggosok paha yang dipukul oleh Agnia.


Gadis itu kembali mendengus, lalu mengambil kotak obat dan membukanya.


Membasahi kassa itu dengan antiseptik lalu menempelkannya pada luka di ujung bibir Zian dengan sedikit ditekan.


"Obati lukanya pelan pelan suster! Nanti pasien kabur tidak mau diobati." gumam Zian menahan tawa.


"Siapa juga yang mau jadi suster!" jawabnya dengan kembali menekan luka itu.


"Aww ...!"


"Lukanya juga gak seberapa, lebai banget sih! Aku hanya bersihin biar gak infeksi!" gerutunya lagi.


"Iya aku tahu ini gak infeksi, orang kita bertukar Saliva saja tidak membuat infeksi kan? Hem ...?" ujar Zian menahan tangan Agnia lembut.


"Iiihhh ....!!! Nih obati sendiri aja! Dasar mesum! Yang harusnya diobati itu bukan luka dibibir, tapi otakmu!" Agnia bangkit dari sofa, menyambar paperbag yang diberikan oleh Kim lalu masuk kedalam toilet.


Zian tergelak, dengan kassa ditangannya, kedua matanya mengikuti langkah Agnia yang sampai gadis itu menghilang di balik pintu toilet, membanting pintunya dengan sedikit kasar.


"Bisa bisanya otaknya penuh dengan ke mesuman." gumam Agnia yang menyandarkan punggungnya di balik pintu, namun bibirnya sedikit melengkung.

__ADS_1


"Udah tahu dia mesum, tapi kenapa juga gue suka sama dia! Kan aneh lo Nia!" ucapnya pada pantulan diri sendiri didepan cermin.


.


.


Zian hanya mengantar Agnia sampai ke basement, dia akan pulang dengan diantar oleh Kim, sementara Zian harus kembali menghadiri rapat penting yang tidak bisa diwakilkan nya.


"Pulanglah, aku akan menemuimu setelah urusanku selesai." ucapnya dengan mencubit lembut pipi Agnia.


Agnia mengangguk, dia lantas masuk kedalam mobil, sementara Kim sudah berada di belakang kemudi. Zian mencondongkan tubuhnya, mengetuk kaca mobil.


"Apa lagi?" tanya Agnia menurunkan kaca mobil hingga setengahnya terbuka.


"Aku lupa sesuatu!"


Agnia mengernyit, "Apa?"


Zian dengan sengaja memasukkan kepalanya kedalam, dan mencium pipi Agnia lalu dengan cepat keluar dan kembali tergelak, membuat Kim berdecak lalu menekan klakson, bagaimana tidak, dia melihatnya dengan jelas dari ujung matanya. Membuat Agnia membulatkan kedua matanya lalu menutup kaca mobil dengan cepat.


"Dasar norak!"


Kim melaju setelah memastikan kaca tertutup rapat, meninggalkan Zian yang semakin aneh menurutnya itu tengah tertawa lalu melambaikan tangan.


"Aku tidak pernah melihatnya seperti itu!" gumam Kim yang masih terdengar jelas oleh Agnia yang duduk disampingnya.


"Benar juga! Dia itu galak dan juga kasar, kenapa lama lama jadi aneh gitu ya!"


"Mungkin karena Nia! Tapi aku senang melihatnya seperti itu!"


"Sekretaris Kim gak risih?"


Kim menggelengkan kepalanya, "Aku pernah melihat hal yang lebih buruk di masa lalu, tapi aku tidak pernah merasa sentimental seperti aku melihat kalian, padahal hanya berpelukan." ucapnya dengan melihat Agnia sekilas lalu tersenyum.


Semburat merah terlihat jelas diwajah Agnia saat ini, terus terang dia sangat malu walaupun hanya ketahuan berpelukan, bibirnya kelu, dia hanya mengulas seutas senyum lalu membalikkan wajahnya kearah berlawanan.


Mobil melaju keluar dari basement, cahaya redup dari basement berubah menjadi terang benderang saat mereka tiba di ruas jalan yang ramai.


Dave masih terduduk di tempatnya sedari tadi, dengan wajah tertunduk lesu, dan Agnia melihatnya.


"Sekretaris Kim?"

__ADS_1


"Ya Nia! Kau mau berhenti?"


__ADS_2