
Hampir dua jam mereka berada didalam pesawat menuju ke Singapura. Kedua Dokter yang sama sama ahli di bidangnya berada dalam mode siaga, memantau kedua orang pasangan suami istri yang sedari tadi duduk dengan saling memeluk, bak dunia hanya milik mereka berdua. Tidak peduli orang lain yang menatapnya dengan pandangan berberbeda beda.
Agnia merasa yakin jika perjalanan mereka ke negara yang cukup dekat itu adalah kejutan yang di siapkan oleh Zian untuknya, resepsi yang sebenarnya tidak terlalu dia inginkan, namun berbeda saat ini. Dalam fikirannya berseliweran pesta mewah dengan gaun indah membalut tubuhnya, beserta kejutan kejutan yang siap dia terima nanti.
Bibirnya tak berhenti mengukum senyuman, tatkala semua bayangan berputar di kepalanya. Dengan sesekali melirik wajah tampan Zian yang juga terus mengulas senyum.
"Sepertinya suasana hatimu sudah membaik baby?"
"Hm ... emang keliatan?"
Zian mengangguk, "Aku bisa melihatnya dengan jelas, kau senang?"
"Ya senanglah makanya senyum senyum juga."
"Sudah tidak kesal karena kita pergi mendadak seperti ini? Hem?"
"Udah enggak! Nia seneng bisa pergi dadakan gini."
"Hm ... baiklah! Kau akan memberikan hadiah apa padaku karena telah membuatmu senang hari ini?"
Agnia tersenyum, dia sedikit menengadahkan wajahnya lalu mengecup pipi Zian dengan lembut. "Hadiah kecil mu tuan Ziandra."
Zian tergelak hingga semua orang hampir ingin menoleh ke arahnya, namun mana ada yang berani melakukannya kecuali Irsan dan juga Dokter Siska.
Pria berkaca mata itu berdecak ke arahnya, "Tidak punya perasaan! Hanya dia yang membawa pasangan disini, sedangkan kita dilarang membawa pasangan sekalipun itu keluarga. Licik sekali dia!" desisnya dengan kedua mata terus mendelik ke arahnya.
Dokter Siska hanya mengulas senyuman saat mendengar desisan kesal dari rekan sejawatnya itu. Tanpa menoleh pada Irsan yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Jangan iri Dokter Irsan, gaji kita terlalu kecil untuk melakukan perjalanan spesial ini."
"Kau benar Dokter Siska! Kita terlalu sibuk dengan penyakit orang lain sampai lupa penyakit diri sendiri." ketusnya lebih kesal.
"Hubby! Ngapain ketawa begitu! Bikin semua orang kaget tahu!" gumam Agnia dengan mencubit pinggang suaminya itu.
Beberapa saat kemudian pesawat pun landing di airport yang bisa di bilang airport terbaik di dunia, beberapa mobil pun sudah menunggu untuk menjemput pengusaha hotel ternama di tanah air dan beberapa negara tetangga beserta jajarannya.
Tampak Kim berdiri tegak di samping mobil hitam panjang itu, sorot matanya tajam dengan beberapa gumaman dari bibirnya. Dia bicara dengan beberapa orang bawahannya melakui earphone yang terpasang di telinganya.
Zian turun dengan menggenggam tangan Agnia, mereka berdua berjalan ke arah Kim.
Ternyata sekretaris Kim sengaja di kirim duluan untuk mempersiapkan semuanya di sini. Bener bener rencana kejutan yang bagus, tapi sayang sekali, karena gue udah tahu duluan, kalau enggak gue pasti bakal kaget sampe pingsan.
"Sekretaris Kim?" sapa Agnia dengan senyuman dibibirnya.
Namun Kim hanya mengangguk dengan wajah datarnya. Tegang banget padahal ini kan mau pesta, tapi wajah wajah mereka serius sekali.
Kim mengangguk lagi, lantas dia membuka pintu mobil untuk Zian dan Agnia masuk kedalamnya.
"Acaranya dimana Hubby?" tanya Agnia dengan wajah antusias.
"Kau akan tahu nanti baby! Karena aku juga tidak tahu! Kim yang mengaturnya."
Bagus, teruslah berpura pura gak tahu Hubby. Padahal kau otaknya. Lucu, gue kayak maen drama detektif korea.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan bandara menuju sebuah gedung mewah.
__ADS_1
Ini pasti tempatnya, gue harus siap siap kaget saat masuk, atau gue pura pura pingsan aja supaya keliatan banget totalitas gue berakting?
Agnia terus sibuk membatin, dengan bayangan bayangan yang akan terjadi selanjutnya. Sementara wajah Zian tiba tiba mendatar. Kim sendiri duduk di depan di samping supir, dengan terus bergumam memberi perintah melalui alat yang terpasang di telinganya.
Mobil berhenti melaju tepat didepan pintu masuk gedung dengan red carpet yang terpasang hingga jauh ke dalam. Jantung Agnia tiba tiba berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Begitu pun dengan kedua manik yang lincah ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu yang semakin mencurigakan, kejutan, bunga bunga berhamburan, atau tepukan dari semua orang yang dia kenal muncul bersamaan saat lampu menyala. Kue pengantin yang tingginya hampir menyentuh lampu, atau bahkan orang orang yang dia tidak duga sebelumnya. Semua sudah terbayang di dalam benaknya tanpa hambatan.
"Baby ... jika di dalam nanti kau merasa lelah, bilang padaku atau Kim, karena dokter Siska akan menunggu di ruangan lain jika kau membutuhkannya."
Agnia mengangguk, Mana mungkin gue lelah, gue pasti semangat karena acara ini. Tapi gue belum lihat dress gue deh. Penasaran.
Pintu mobil terbuka, keduanya keluar dengan Zian yang terus menggenggam tangan Agnia, keduanya berjalan diatas red carpet untuk masuk kedalam gedung.
Dan kedua mata Agnia terbelalak sempurna saat melihat seluruh ruangan luas yang baru saja dia masuki. Kosong, hanya ada jajaran buket buket bunga dengan ucapan selamat diatasnya, juga balon balon berwarna putih dan biru.
Mana pestanya? Kok gak ada? Atau jangan jangan di balik pintu itu ada ruangan lagi, ah ngeselin, harusnya langsung aja sih.
"Ayo baby!"
Agnia mengangguk dan kembali melangkahkan kakinya, sayup sayup terdengar suara pengeras suara di balik pintu coklat berukuran besar yang teelihat seperti gerbang dengan dua bunga besar di samping kiri dan kanannya.
"Pasti di dalem!"
.
.
Sabar Nia sabar...
__ADS_1
Apaan sih othor lama banget! Ayo thor cepatan. wkwkwkwk
Readers juga sabar kan? Harus yaa. Chap udah panjang nih jangan bosen dulu pokoknya. Nanti othor ngambek. wkwk