Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 274


__ADS_3

Zian termangu mendengar sosok dokter disampingnya yang mengenal Agnia. Tak lama seorang suster terlihat menghampiri dokter Sam dan menyuruhnya segera ke ruangannya karena ada pasien yang tengah menunggu. Sam terlihat buru buru pergi dan Zian mengurungkan niatnya untuk bertanya padanya perihal Agnia.


Apa mereka saling kenal, atau itu yang jadi alasan Nia tidak mau diperiksa oleh dokter itu karena mengenalnya? Zian membatin seiring langkah kakinya yang mengayun ke luar dan menyusul Agnia yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Ampir aja ... untung gue buru buru pergi, kalau sampe papa nya Serly sadar kalau gue pernah ngerjain dia. Dan gue juga dalang di balik rumor itu. Bisa mampus gue." Gumamnya terengah engah menutup pintu.


Beberapa lama Agnia hanya duduk di dalam mobil dan menunggu Zian. Dia merengut saat melihat Zian berjalan lambat menyusulnya, entah bawaan si jabang bayi atau apapun itu Agnia tidak tahu, yang jelas dia sangat kesal namun juga ingin dikejar oleh Zian.


Gue kenapa sih! Mood swing banget, gue kan kesel sama dia, tapi lihat jalannya yang lambat nyusulin gue juga tambah kesal, kan harusnya dia itu cepet cepet nyusul dan bujukin gue. Agnia terus membatin dengan kedua manik hitamnya yang terus mengikuti gerak Zian hingga pria itu masuk ke dalam mobil.


"Lama banget!"


"Maaf baby, aku kan harus mengambil vitamin untukmu agar anak kita sehat selalu," tukas Zian mengelus lembut pucuk kepalanya.


Sentuhan lembut itu berhasil membuat Agnia tenang, perasaan kesalnya seakan sirna seiring gerakan tangan Zian yang berpindah di pipinya.


"Jangan kesal lagi ya, kalau kamu kesal ... bicaralah padaku! Aku tidak mau anak kita terganggu karena maminya terus terus marah sama papi nya."


Agnia mengangguk kecil, lalu berhambur memeluk Zian. Begitu juga dengan Zian yang kembali merengkuh tubuh Agnia.


"Maaf yaa ... aku yang membuatmu harus menjalani situasi ini diusia muda mu baby! Tapi aku janji, aku akan selalu menemani. Maaf juga jika kehamilan ini membuat cita citamu tertunda. Tapi aku juga janji akan selalu mendukungmu."


Mendengar semua ucapan suaminya, Agnia semakin merekatkan dirinya kedalam dada bidang Zian.


Perlahan ibu jari serta telunjuk Zian mencapit dagunya dengan lembut, hingga kepala Agnia menengadah ke arahnya. Dengan lembut Zian menempelkan bibirnya di bibir semanis cherry itu dan menyapunya perlahan. Agnia terkesiap namun juga membiarkan benda tak bertulang itu masuk begitu saja, membelitnya dengan sangat lembut hingga Agnia hanya mampu memejamkan matanya dan menikmatinya.


"I love you baby ... more and more!" bisik Zian di akhir ciuman penuh kelembutan itu.


Zian kembali menarik dan menciumnya, kali ini lebih lama dan lebih dalam. Perlakuan yang membuat kekesalan Agnia berubah menjadi letupan letupan bahagia, beriringan dengan perasaan nya yang semakin membaik. Dan menerima sepenuhnya kehamilan yang sama sekali tidak dia duga sebelumnya.


Menjadi ibu diusianya yang masih teramat muda, segala kerisauan dan bahkan jika harus mengubur cita citanya, entahlah. Yang pasti Zian pun tidak akan mengingkari apa yang telah dia ucapkan dan Agnia percaya itu.

__ADS_1


Mobil kembali melaju, dengan satu tangan Zian yang memegang stir kemudi dan satunya menggenggam erat jemari Agnia. Agnia menatap hasil USG yang berwarna hitam putih, hatinya mengharu biru dengan perasaan bercampur aduk. Walaupun sebenarnya hanya dokter yang mampu melihat dimana letak bayi yang masih sebesar kacang polong dalam selembar foto USG itu.


"Kira kira tempat mana yang membuat kita berhasil mencetaknya baby?" Zian terkekeh dengan mengecup punggung sang istri yang kini terbeliak ke arahnya.


"Mungkin di kamar mandi!" jawabnya dengan ikut terkekeh namun juga mencubit lembut pinggang Zian. "Atau di mobil ini! Atau dikantor? Apa di kolam renang." sambungnya lagi menyebutkan tempat tempat mereka melakukan sesuatu yang menyenangkan itu dengan tergelak.


"Oh God!! Kita harus secepatnya beritahu ibu dan ayahmu, juga Kim ... kita akan melihat reaksi mereka bertiga yang berbeda beda."


Keduanya tertawa saat membayangkan adegan adegan menyenangkan yang disebutkan. Hingga bayangan Laras dan Dave yang sudah dipastikan akan kesal. Dan tanpa sadar rumah yang ditinggali pun sudah nampak.


"Kita harus mengulanginya lagi ditempat tempat yang kau sebutkan tadi baby!" ucapnya dengan menepikan mobil, lalu mematikan deru mesin.


"Eeh ... kenapa?"


Zian membuka seat belt yang membelit dirinya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah samping.


"Supaya anak kita tahu dimana dia dibuat!" ujarnya terkekeh.


Keduanya keluar dari mobil, dan masuk kedalam rumah. Zian membuka pintu dan mendapati Dave dan Kim ada disana, juga Laras.


"Daddy? Mom? Sekretaris Kim? Kalian ada disini?"


"Kalian? Kenapa kemari?"


Laras menghampiri Agnia, dia memegang kedua pundak putrinya dengan kedua mata yang berkaca kaca.


"You ok sayang?"


Agnia mengangguk, "Ok kok!"


Laras menghela nafas, "Momy tidak tahu apa harus menangis sedih atau bahagia. Yang jelas momy ingin memelukmu."

__ADS_1


"Momy!" Agnia tenggelam dipelukan sang ibu.


Dave pun menghampiri Zian, raut wajah yang tidak berbeda jauh dari Laras pun terlihat jelas.


"Jaga putriku dengan baik! Juga .... haissshhh apa aku harus menyebutnya cucuku sekarang?" ucapnya menengok kearah belakang dimana Kim berdiri dengan senyuman.


"Kemarilah ayah mertua, aku tahu kau terharu dan ingin memelukku kan sekarang, karena berhasil membuatmu jadi seorang kakek!" Ujar Zian menarik bahu Dave dan memeluknya.


"Itu masalahnya ... brengsekk aku akan jadi kakek diusiaku 38 tahun! Nanti bagaimana jika putriku punya adik, apa mereka akan bermain bersama."


"Tentu saja ... anakku akan menjaga adik ibunya dengan baik! Aku yakin itu."


Semua orang tergelak dengan kelakar mereka berdua, begitu pun dengan Bi Nur yang mendengarnya di dapur.


"Ada ada aja tuan Zian dan tuan Dave!" gumamnya.


Kim berjalan maju dan menyalami Zian. "Selamat ya ... akhirnya kau jadi seorang ayah! Aku turut senang mendengarnya."


"Terima kasih Kim! Katakan pada Irsan, jangan bergosip seperti wanita. Kalian sama saja. Kita saja baru berencana memberitahukannya pada kalian, ternyata Irsan lebih dulu membicarakannya. Malah kita yang terkejut ya kan sayang?" ujar Zian yang langsung menoleh kearah Agnia.


Gadis itu mengangguk dengan terkekeh. "Cepet banget berita ini nyampe nya."


Setelah ucapan selamat dari semua keluarganya, mereka kini berkumpul di meja makan dan menikmati makan malamnya dengan sekekali diselingi canda tawa.


Zian mengelap bibir Agnia dengan ibu jarinya. "Ngomong ngomong tengah dokter, apa kau kenal baik dengan dokter Sam? Aku sempat mendengarnya memanggilmu tadi!"


.


.


Komen yang banyak .... like juga yaaaa.... kalau banyak yang komen dan like othor siap up satu lagi nanti. xixxxixi

__ADS_1


__ADS_2