Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 297


__ADS_3

Agnia mengambil satu bungkus dan membukanya, membuat Zian semakin menutup hidungnya. "Baby! Kalau kau suka, makan disaat sendiri saja, jangan di depanku."


"Kau bener bener harus mencobanya Hubby."


"Tidak Agnia!!"


Agnia tergelak, saat pertama kalinya lagi Zian memanggil namanya jelas dari sekian lama. Dia pun melihat Zian lebih khawatir dari apapun saat ini hanya karena kulit ikan atau apapun yang berbau ikan.


Agnia mengurungkan niatnya untuk mengemil, dia kembali memasukkannya ke dalam tasnya karena Zian benar benar kepayahan. "Kenapa Om gak suka sama ikan atau hal hal berbau ikan! Padahal ikan itu protein paling tinggi dibandingkan jenis protein lain."


Zian mengerdik, dia memberikan tissu basah pada Agnia, "Bersihkan tanganmu,"


Agnia terkekeh dengan mengambil tissu yang disodorkan padanya, sementara Zian mengambil permen dan mengemutnya.


"Kenapa hubby makan permen sendirian?"


"Kau mau?"


"Bukan itu! Magsudku kenapa gak nyuruh Nia ngelakuin kayak kemaren." ujarnya dengan menunjuk permen dengan dagu yang dia gerakan ke atas berulang kali. "Katanya harus dari mulut Nia!" ujarnya lagi dengan kembali terkekeh.


"Aku tidak mau! Mulutmu bau ikan."


Agnia berdecak, "Iih dasar."


Tak lama mobil berhenti di hotel berbintang, di ikuti oleh beberapa mobil lain di belakangnya. Dokter Irsan, dokter Siska, Kim, Laras dan tentu saja Dave.


"Wah tinggi banget. Ini hotel siapa? Punya mu?"


Zian menggelengkan kepalanya, "Aku tidak memiliki hotel di negara ini."


"Ooh ... terus kenapa seorang Zian bisa terpilih jadi The Best Asian Business di negara ini, padahal kan gak berkontribusi secara langsung di negara ini?"


Zian membuka pintu mobil dengan terkekeh, "Mungkin karena aku tampan, jadi terpilihlah aku."


"Iiishh ... bos sombong! Sombong terus."


Zian bergegas berjalan memutar dan membuka pintu mobil untuk Agnia, "Benarkan? Aku memang tampan baby! Itu sebabnya kau mencintaiku bukan? Hem...?"


Zian merekatkan tangan di pinggang Agnia, membuat gadis itu sedikit tersentak.


"Iya ... kau memang tampan."

__ADS_1


Dave dan Laras keluar dari mobil, dan melihat mereka berdua yang tengah berpelukan.


"Hei ... jangan karena kalian berada di negara bebas jadi kalian bisa melakukan hal seenaknya sendiri." Seru Dave mendengus kasar.


"Ayahmu mengganggu saja! Ayo baby kita ke kamar saja."


Agnia terkekeh, mereka pun masuk ke dalam hotel yang sudah di siapkan.


"Kau lapar baby?"


"Aku ingin makan ikan bakar." jawabnya terkekeh.


"Baby!"


"Ah ... aku hanya bercanda Hubby. Aku gak laper, kan udah banyak makan tadi."


"Kalau begitu kita langsung ke kamar saja?" ujarnya menekan tombol di pintu lift.


Lift terbuka, semua orang masuk tanpa kecuali. Begitu juga dokter Siska yang akan teeus memantau kesehatan Agnia dan kandungannya.


Sementara Dave yang berdiri sejajar dengan Kim juga Laras, menoleh pada Kim,


"Kim ... maafkan aku."


"Kim ... kau dengar aku?"


Tak lama lift terbuka, semua orang keluar dan menuju kamar nya masing masing. Termasuk Kim yang pada awalnya berencana satu kamar dengan Dave. Namun dia urungkan, Kim memilih mengatur kembali jadwalnya dari pada harus sekamar dengan Dave yang membuatnya kesal.


"Kim tunggu aku!" ujar Dave, dia terus bergegas menyusul Kim, namun lagi lagi Kim mengabaikannya. Laras melihat keduanya dengan pandangan sulit diartikan.


Agnia menoleh pada Kim dan juga Dave yang berjalan lebih cepat dari semuanya. "Kayaknya mereka lagi ada masalah ya?"


"Tidak usah di fikirkan, mereka sudah sama sama dewasa dan pasti bisa mengatasinya. Lebih baik kita fikirkan masalah kita saja baby."


Agnia menatap Dave yang terus mengejar Kim yang tidak peduli, dia terus berjalan hingga sampai di nomor kamarnya. Dave menahan lengannya saat Kim hendak membuka pintu.


"Kim ... biar aku jelaskan dulu semuanya. Kau mau mendengarkanku kan? Maafkan aku Kim, aku tida---"


"Pergilah Dave, kamarmu nomor 118, berada di sana." tunjuknya kearah kiri dengan wajah tanpa ekspresi.


Dave tidak ingin menyerah, dia terus berusaha menjelaskannya agar Kim tidak lagi marah.

__ADS_1


"Kim ... dengarkan aku, bisa kan?"


"Maaf Dave, aku ingin beristirahat, aku sangat lelah malam ini."


Laras menghela nafas saat melewati keduanya. Dia berdiri didepan kamar dan menunggu Agnia tanpa menoleh ke arah Kim maupun Dave.


"Sebentar saja Kim,"


"Sudahlah Dave, jangan terlalu memikirkannya, Aku sudah lelah. Besok pagi saja kita bicarakan hal ini."


Dave menghela nafas saat Menatap punggung Kim yang mengilang di balik pintu kamar bernomor 90 itu.


Tak lama kemudian Dave beranjak pergi,


Entah bagiamana caranya dia harus menjelaskan semuanya pada Kim, karena Dave sadar, kata kata darinya lah yang membuat hati Kim terluka..


"Maaf kan aku Kim!" lirihnya dengan kepala tertunduk, dia melewati Agnia dan juga Laras begitu saja, termasuk Zian.


"Good Night Daddy." ujar Agnia namun dia mendapat jawaban dari Dave.


Agnia menoleh pada sang ibu yang berdiri di sampingnya, dia memang masih penasaran kenapa ibunya berada di sini padahal dia mengatakan jika ada pembukaan cabang baru.


"Oh ya Mom, Kalau Momy di sini. Gimana dengan pembukaan cabang baru disana?"


Laras melirik pada Zian, lalu melirik Agnia disampingnya.


"Kau mau Momy mu ini menceritakannya?"


"Tidak usah ... Kami istirahat saja! Kau juga Laras, Istirahat semuanya. Kau harus menjaga seseorang." sela Zian.


"Jika saja semua berjalan sempurna, ini tidak akan berantakan dan aku bisa pulang." desis Laras pada Zian,


"Tadinya lancar! Dan semua terjadi sebelum insiden hilangnya Agnia, kau tidak becus menjaganya!" Desisnya lagi lebih ketus.


Zian menghela nafas, dia juga tidak ingin ada masalah, dia juga ingin semua berjalan lancar tanpa kendala.


Laras berbalik. Dia pun mendorong pintu kamar. "Good night sayang."


"Good night Mom!"


"Sekarang kita juga harus masuk ke dalam kamar." ujar Zian menggoda Agnia.

__ADS_1


"Tapi kenapa? Nia masih ingin disini."


Zian menarik lengannya dan merengkuh kedua bahunya, "Ayo sayang! Kau juga memiliki sesuatu yang harus kau selesaikan sampai tuntas."


__ADS_2