Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode.62


__ADS_3

Beberapa orang menggotong tubuh Iyan yang lemah, mereka membawanya ke rumah sakit, untung saja nyawanya tertolong, walaupun dia sempat kritis akibat luka-luka berat di sekujur tubuhnya, Dita mau tidak mau harus ikut ke rumah sakit, dan menungguinya.


Setelah dokter memastikan kondisi Iyan stabil, akhirnya dia masuk ke dalam ruangan dimana Iyan dirawat, dia menghempaskan tubuhnya di kursi, dengan menatap Iyan yang terbujur lemah di ranjang.


"Ternyata kau selemah itu Iyan, kenapa kau mengatakan semua padanya! Kau menghancurkan rencanaku Iyan ... dasar brengsekk!" gumamnya pelan.


"Sekarang bagaimana caranya agar Zian memaafkanku? Dan tidak membatalkan rencana pernikahan....!"


Lamat-lamat terdengar suara Iyan memanggilnya, dengan kesal Dita mendekatinya. "Maafkan aku, lebih baik memang kita sudahi saja rencana ini, kita pergi jauh dan hidup tenang sayang."


"Enak saja kau bicara Iyan, bisa-bisa hidupku berantakan saat itu juga! Memangnya kau mampu menghidupi aku melebihi Zian? Tidak bukan? Jadi jangan mengaturku."


"Jika bukan karena kebodohanmu, Zian tidak akan meninggalkan aku, dan bisa menikmati semua hartanya, bukankah kau juga akan ikut menikmatinya. Dasar bodoh!!" sambungnya lagi.


Iyan yang masih lemah itu menghela nafas, sementara Dita menyambar tas di kursi lalu berjalan ke arah pintu.


"Mau kemana?"


"Bukan urusanmu!" ucap Dita menutup menutup pintu kamar.


Dita merogoh ponselnya dan menghubungi Becky, managernya. Dan dia menyusulnya saat tahu Becky sedang berada disebuah kafe.


.


.


Dita menghempaskan bokongnya di kursi, didepannya Becky tengah mengutak-atik ponselnya,


"Jika sampai rumor ini tersebar ke semua media, kau akan hancur!" Ujarnya tanpa menoleh sedikitpun pada Dita.


Dita menangkup wajahnya dengan kedua tangan, "Jangan biarkan itu terjadi Becky! Lakukan sesuatu."


Seketika Becky mendongkak ke arahnya, "Heh ... aku kan sudah bilang! Kau tetap di hotel, biarkan tamu-tamu mu yang datang! Ini malah keluar dengan sengaja, ditambah berduaan dengan si Iyan kere." Becky menghela nafas, "Sekarang begini kan kejadiannya."


"Itu karena Zian ada dihotel, dia malah melihatku masuk ke kamar hotel, untungnya ada si Jennifer! Lagi pula Zian yang biasa tidak pernah datang ke hotel, tiba-tiba saja datang!"


"Kau masih mencari pembenaran, sudah tahu ini kesalahan yang fatal, tidak hanya karier tapi juga hidupmu princes, kau kehilangan sumber uangmu, lalu apa yang kau dapat dari si Iyan, dia saja bergantung darinya."

__ADS_1


"Bodoh ... benar-benar bodoh!!" umpatnya lagi.


"Pokoknya kamu harus membantuku meyakinkan Zian! Dan membereskan semua ini."


"Hey ... kenapa aku?"


"Kau managerku, kau yang mengatur pekerjaanku sekaligus tamu-tamu ku! Jadi kau juga harus ikut bertanggung jawab dong, enak saja kau mau lepas begitu saja!"


Becky mendengus kesal, "Selalu saja begitu, giliran punya masalah, aku lagi ... aku lagi kan??"


"Pokoknya aku tidak tahu, titik!!" ujarnya dengan menenggak minuman milik Becky.


.


.


Sementara Zian terbaring diatas kasur, dia tidak sadarkan diri setelah menghabiskan 5 botol minuman jenis wine itu sendirian, Kim mencoba menghubungi Irsan namun nomornya tidak aktif. Mereka hanya berdua saja, sementara bibi asisten rumah tangga sudah pulang sejak sore hari.


Dia pun mencoba menghubungi Agnia, dering terdengar tapi tidak ada yang mengangkatnya,


Prang


"Astaga ... apa yang kau lakukan Zian?"


Kim masuk dan melihat Zian, "Pergi Kim ... aku tidak membutuhkanmu!!"


Kedua mata Kim kembali membulat setelah melihat darah yang mengalir dari telapak tangannya, "Zian kita ke rumah sakit!"


"Pergi Kim ... aku tidak butuh siapa-siapa!!"


Kim memejamkan mata, dia ingin marah dan kalau bisa, dia ingin sekali menoyor kepala Zian berkali-kali, dengan mengumpat tentu saja, melihat keadaannya yang kacau seperti ini!"


"Tanganmu terluka Zian, lepas kaca itu!!"


Zian menatap kearah Kim dengan tajam, "Pergi Kim ... pergi!!!!"


Kim melonjak kaget, karena suara Zian yang menggelegar, namun dia juga tidak bisa meninggalkannya seperti ini.

__ADS_1


"Aku akan tetap disini!"


Zian mendengus, itulah Kim, perempuan yatim piatu yang sudah di anggap adik sendiri oleh Zian, walaupun berkali-kali Zian mengusirnya, dan kerap kasar, Kim tidak pernah meninggalkannya.


"Kenapa kau tidak pernah menurutiku Kim!" Lirihnya kemudian.


"Kau selalu berlagak paling mengenalku diantara yang lain, padahal kau tidak mengenalku dengan baik!"


Kim menghela nafas, dia duduk disamping Zian yang terduduk dilantai dan bersandar pada dipan ranjangnya, "Karena aku satu-satunya keluarga yang kau punya Zian, aku mengenalmu dengan baik, bahkan aku yang selama ini mengurus segala keperluanmu!"


Zian tertunduh lemah, setetes air mata jatuh tanpa bisa dicegah, Kim mengikuti jejaknya dengan bersandar seperti yang dilakukan oleh Zian, "Kau boleh perlihatkan air mata padaku Zian, aku akan menyimpan rahasia ini."


Zian meraup wajahnya dengan satu tangan, seolah baru sadar tangannya mulai terasa perih karena luka dari serpihan kaca.


"Ku fikir akan lebih baik aku menyusul anak dan istriku Kim! Aku benar-benar tidak tahu arah saat ini, fikiranku juga kacau Kim!!"


Kim tidak menjawabnya, dia memilih bangkit dari duduknya dan "Aku akan membawa obat untuk lukamu, jangan berani melakukan hal yang akan membuatmu semakin menyesal."


Kim keluar dari kamar, dia turun dan melangkah ke arah dapur, membawa baskom dan mengisinya dengan air hangat lalu mengambil kotak P3K yang terletak di sudut ruangan, kemudian dia kembali ke kamar Zian.


Zian masih duduk di posisi yang sama, dengan kepala yang tertunduk, telapak tangan yang sering mengeluarkan tetes demi tetes darah, tanpa banyak kata Kim membersihkan tangan Zian. Memberikannya antiseptik lalu membalutnya dengan perban.


"Jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi Zian, kau hanya akan merugikan diri mu sendiri, sekarang istirahatlah."


"Aku ingin mencari Agnia Kim!" lirihnya.


Kim tidak menjawab, dia membereskan kotak P3K lalu menyimpannya di atas meja.


"Aku sudah mencoba menghubungi no ponselnya, namun sepertinya dia sudah tidur Zian, jadi lebih baik kau juga istirahat, besok barulah kita cari dia."


"Aku menyesal mengusirnya dari sini Kim! hanya karena dia mengatakan kebenaran yang selama ini aku tidak tahu, aku terlalu bodoh ...bahkan sangat bodoh!"


"Sudahlah ... kau tidak usah memikirkannya lagi, mungkin karena kau punya cinta yang teramat besar pada Dita, kau terlalu baik padanya!"


"Aku menyesal Kim! Benar- benar menyesal, Agnia pasti tidak akan memaafkanku Kim!"


Kim menarik perlahan tubuhnya dan membawanya ke atas ranjang, Zian menurut bak seorang anak kecil yang patuh pada ibunya saja.

__ADS_1


"Kim ... cari dia secepatnya!!"


__ADS_2