Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 204


__ADS_3

...Hati hati bocil dilarang baca!... ada yang kembali tipis tipis geli ... wkwkkk, othor gak ikut tanggung jawab ya kalau makin penasaran ..kapan sih ini bakal goal!! Hihihi...jangan lupa like dan komennya bestie.. lope lope buat kalian...


.


.


.


Agnia mengulum senyuman, dia semakin merekatkan lingkaran tangannya pada pinggang Zian, begitupun Zian yang merengkuh tubuhnya lebih erat. Kedua sahabat yang melihatnya pun hanya mendelik kesal, hingga ponsel Cecilia berdering.


Dia merogoh ponsel miliknya dan melihat siapa yang menghubunginya.


'Yes ... Daddy!' ucapnya dengan berjalan menjauh, agar pembicaraannya tidak terdengar.


Agnia menatap Nita, begitu pun dengan Nita, mereka sudah menduga apa yang akan pria hidung belang itu katakan.


Zian melihat gelagat aneh dari keduanya, dia lantas menarik tangan Agnia agar ikut masuk ke dalam rumah.


"Aku tidak mengijinkanmu terlibat apapun dengan mereka kecuali belajar!"


"Siapa juga yang punya urusan selain belajar dengan mereka!" jawabnya dengan terus mengikuti langkah Zian.


"Tadi itu apa? Kalian saling menatap satu sama lain saat Cecilia mendapat telefon, dan aku dengar dengan jelas kalau dia memanggil Daddy pada orang yang menelefonnya.


Agnia terkekeh, jelas karena dia tengah menutupi sesuatu hal dari Zian perihal Serly. "Suami ku ini selain mesum juga sangat jeli."


Dari belakang Cecilia dan Nita muncul mengagetkan mereka, dengan cepat Cecilia dan juga Nita membereskan buku buku yang hanya di buka buka itu kedalam tasnya,


"Nia ... kita harus pergi sekarang! Biasa ada panggilan dadakan." Cecilia menaik turunkan kedua alis tipisnya.


"Lho ... Daddy Lo emang suruh kita kesana?" Tukas Nita yang tidak mengerti, karena Cecilia belum mengatakan apapun padanya.


"Udah deh buruan! Entar gue jelasin di mobil!"


"Lho kenapa buru buru? Kita belum selesai belajar lho!" sela Agnia.


"Kita kesini lagi nanti, oke Nia! Bye ... pak Zian kami pulang dulu," Cecilia pamit dengan Nita yang hanya mengikuti langkah nya saja.


"Ada apa sih Ce?" Tanya Nita saat keduanya masuk ke dalam mobil.


"Serly Nit ... dia mengacau!" jawabnya dengan melajukan mobilnya.


"Hah ... serius?"


"Hem ... dia mabok parah! Daddy gue gak sanggup handle, suruh bawa pulang, karena dia terus meracau katanya!"


"Gawat ... kita harus kesana sekarang Ce!"

__ADS_1


"Ya ini gue lagi ngapain bego!!" tukasnya dengan menginjak pedal gas lebih dalam, hingga kendaraan itu melaju dengan kencang.


Sementara Zian melirik Agnia yang kini membereskan buku serta laptopnya, dia mencondongkan tubuhnya dan memeluknya dari belakang.


"Teman teman mu sudah pergi! Waktunya kau menemaniku!"


"Eeh ... apaan, emangnya nya mau kemana minta ditemenin segala."


Zian enggan memberikan jawaban, dia sudah menarik tangan nya dan membawanya naik ke atas tangga.


"Bi ... bi Nur!" serunya memanggil asisten rumah tangga yang tengah berada di belakang.


"Ya tuan!" ujarnya dengan berlari.


"Apa bocah nakal itu sudah tidur?"


Bi Nur mengernyit, "Bocah nakal?"


"Aya!" terangnya lagi.


"Oh ... sudah tuan, dari tadi!"


"Bagus! Kalau Dave?"


"Daddy bilang Daddy pulang ke apartemen karena ada yang harus Daddy urus!" jawab Agnia yang berdiri di samping Zian.


Agnia mengernyit, dadanya tiba tiba berdebar, dengan langkah pelan mengikuti Zian yang tidak sedikitpun melepaskan tangannya.


"Kenapa emangnya?" tanya Agnia polos.


"Tadi aku kan sudah bilang waktunya kau menemaniku! It's your time baby!" Tukas Zian yang dengan sekali gerakan menggendong Agnia dan membawanya masuk ke dalam kamar. Dengan memastikan pintu kamar dia kunci dengan benar, tanpa menurunkan tubuh Agnia.


"Kita mau ngapain?" tanyanya dengan kedua tangan yang melingkari leher Zian, dia hanya menatap Agnia yang terlihat bingung, lebih tepatnya tiba tiba bingung dengan teduh.


"Enaknya menurutmu kita ngapain?"


"Ya aku nggak tahu!"


Zian mengulas senyuman, "Kalau begitu biar aku yang memberi tahumu, dan aku berharap hari ini tidak ada gangguan lagi!"


Tanpa menunggu lama, Zian meraup bibir Agnia yang saat itu hendak bicara, hingga jantungnya tiba-tiba berdebar lebih kencang. Benda kenyal mendorong masuk kedalam rongga pengecapnya dengan lembut, menyisir setiap bagian bagian yang ada didalamnya dengan lembut.


Zian membawa Agnia ke sofa, dia duduk dengan Agnia yang berada dalam pangkuannya, tanpa melepaskan tautan bibirnya,


"Eemmpphh!!"


Agnia berhasil melenguuh, ketika kedua tangan Zian masuk kedalam t-shirt yang dikenakannya, melepaskannya hingga tereksposlah tubuh bagian atas yang hanya tinggal penutup dua benda kenyal.

__ADS_1


Tangan Zian semakin menjalar, menyentuh kulit mulus dengan terus melummat bibirnya, semakin lama semakin dalam. Tak sampai situ, dia dia melepaskan tali pengaitnya, hingga dua benda kenyal membusung sempurna.


Eeughhh


Lenguuhan itu kembali lolos dari bibir mungil Agnia saat Zian mencecap nya bak seorang bayi, dengan satu tangan yang bergerak lembut dibenda satunya lagi, merremasnya kuat hingga tubuh Agnia semakin membusung, kemudian memilin tonjolan kecil berwarna pink pelan pelan namun pasti.


"Baby!!!"


"Hmmm....!!"


"Aaah ... baby!! Kali ini aku tidak akan melepaskan mu." racaunya dengan terus bergerak.


Tak hanya Zian, Agnia yang merasakan desir demi desiran di aliran darahnya, tanpa sadar membenamkan kepala Zian lebih dalam di dadanya, dengan tubuh yang mulai bergelinjangan.


"Baby ...! Aaahhhkkk!! Aku harap tidak ada yang datang mengganggu!"


"Don't talk anymore!" gumam Agnia dengan menggigit bibirnya.


Perlahan namun pasti tangan Zian semakin bergerilya, dan berhenti dia pusat inti milik Agnia, mulai bergerak lambat dan membuat Agnia semakin bergelinjangan, dessahan bibir nya lolos begitu saja, saat tangan menyibak sedikit kain penutup berwarna merah itu. Perlahan gerakannya semakin pasti saat jemari Zian menyentuh benda kecil yang semakin terasa berdenyut dan mampu membuat Agnia memejamkan mata disertai desa hhan manja.


"Baby ... Oh God!!" Zian tidak berhenti meracau, pria yang sudah lama menantikan nya itu, semakin bergerak bebas, memandu Agnia yang mulai mengikuti ritme permainannya.


Agnia berdiri hingga Zian menatapnya heran, namun tidak berlangsung lama karena ternyata Agnia hanya merubah posisi duduknya yang kini menghadap Zian dengan kedua kaki terbuka dan membelit pinggangnya.


Hingga senjata Zian yang menegang dibalik celana pun berada tepat di pusat inti miliknya.


Tubuhnya semakin bergerak meliuk liuk membuat Zian semakin bergelora.


"Baby hentikan."


"Eeeuhhhggghh ... baby!! Kau akan menyesal!"


Agnia hanya sedikit bergerak, menggerakkan pinggulnya karena geli saat tangan Zian meremmas daging di belakang sana.


"No ...!!! Baby ...jangan bergerak seperti itu!!"


Agnia mengulum senyuman, hingga merasa tubuhnya melayang karena Zian menggendongnya lagi.


"Baby ... kau sangat nakal!"


Zian melucuti semua kain yang menutupi nya melemparkannya begitu saja hingga keduanya sama sama polos, hingga tidak ada waktu memikirkan rasa malu lagi.


Pria bertubuh kekar itu kembali **********, dengan kedua tangan yang terus bergerilya naik turun, bergerak maju dan membuat Agnia kelimpungan dan jatuh perlahan tepat di atas ranjang.


Zian tidak membuang kesempatan, dia mengungkung tubuh kecil sang istri, kali ini bibirnya bergerak menyusuri setiap inci tubuh polos itu, mengecup cuping telinga hingga leher bagian depan dan semakin turun.


"Eeeuuhhhhgggkkk!!"

__ADS_1


__ADS_2