
Pintu elevator kembali terbuka di lantai ke empat, dimana semua orang yang berada di dalam satu persatu keluar. Namun tidak dengan Regi. Dia menarik temannya yang memakai topi agar menggeser tubuhnya ke samping, memberikan jalan pada semua orang yang keluar termasuk Agnia dan kedua sahabatnya.
Agnia menatapnya, namun Regi menatap ke arah lain, seolah menghindari tatapan Agnia. Cecilia menepuk lengannya, "Lo gak keluar Gi? Kita mau nonton bioskop lho."
"Enggak Ce! Gue ke atas!" jawabnya dengan jari telunjuk menunjuk ke atas, lantai lima yang berisi permainan.
"Yakin lo?" tambah Nita, saat ketiganya berada diambang pintu elevator.
"Hum ... gue ditungguin temen temen gue di atas Nit."
Agnia menatapnya, namun entah kenapa lidahnya kelu. Dia sebenarnya ingin menyapa, namun tenggorokannya seolah tercekat, ditambah dengan sikap Regi yang dari tatapannya saja terlihat menghindari dirinya.
Agnia berjalan melewatinya, dengan terus menatap Regi hingga posisi mereka bersampingan.
"Have fun Nia!" gumamnya dengan suara sangat kecil. Entah apa yang dia fikirkan saat ini, rasanya Regi lebih baik tidak bertemu dengan Agnia dari pada harus kikuk seperti ini.
Gadis itu telah menjadi milik orang lain, dan tidak akan pernah dia gapai. Langkahnya berhenti sejak malam itu. Kini Regi hanya bisa menatap pinggungnya.
"Thanks Gi!"
Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Agnia, dia juga tidak tahu harus bersikap seperti apa. Agnia tidak ingin lebih melukai Regi walau sebenarnya dia masih sangat ingin hubungan pertemanannya tidak pernah berubah. Namun semua tidak akan pernah sama, ada hati yang harus dijaga dan ada hati yang akan terluka juga.
Ketiganya keluar dari elevator, berjalan ke arah Bioskop tanpa menoleh lagi, sementara Regi menatapnya dari jauh sampai pintu tertutup.
"Gi ... lo kenapa? Kita ditungguin di kopi shop di lantai ke empat ini, bukan ke atas, lo mau naik odong odong kayak bocil?" tukas teman Regi disampingnya.
"Bentaran doang! Gue mau ngecek ke atas, abis itu kita turun lagi!"
"Kenapa sih? Itu temen lo yang sekolah di Harapan Bangsa internasional school kan?"
"Hum!!"
"Lo ada masalah sama mereka?"
__ADS_1
"Salah satunya!"
"Jangan bilang lo di tolak!" tuduh temannya dengan kedua mata tajam ke arahnya. Regi terdiam, dia bukan hanya di tolak, tapi tidak lagi punya kesempatan sedikit pun. "Serius lo? Anjim cowo terpopuler di sekolah Tunas Bangsa ditolak cewe! Kebangetan itu ... Dia gak tahu segimana kerennya lo Gi? Parah... parah! Parah banget!" sambungnya lagi dengan kepala yang bergeleng berulang kali.
"Bisa diem gak bacot lo Ris! Lo kayak cewek ... berisik banget!" ujarnya memukul bahu Aris.
Bertepatan dengan terbukanya pintu lift, Regi segera keluar di ikuti oleh Aris, namun keduanya hanya diam. Karena di Lantai empat telah penuh anak anak kecil berlarian.
"Ayo lo mau ngecek apaan? Adik lo?"
Regi melirik jam tangan di pergelangan tangannya, Kira kira 10 menit cukup untuk mereka membeli tiket sampai masuk ke studio bioskop. batin Regi berbicara, menghitung waktu yang diperlukan Agnia dan kedua temannya itu agar dia tidak perlu melihatnya lagi, hingga dia bisa turun kembali dan masuk ke coffe shop yang letaknya memang di samping bioskop.
"Woi malah ngelamun ... buruan! Kita udah ditunggu pihak label!" Aris menepuk bahunya sangat keras membuatnya kesal dan membalasnya, namun kekesalannya bukan hanya tepukan keras di bahunya, dia kesal karena hatinya kembali sakit saat melihat Agnia.
Sementara itu, ketiga gadis yang sudah mendapatkan tiket film bergendre horror berjalan ke arah stand pop corn juga es boba.
"Si Regi ke atas ya?" tanya Nita,
"Tapi gue rasa dia gak beneran ke atas deh! Ngapain coba ke atas, kan cuma game buat anak anak ya kan!" balas Nita lagi, sementara Agnia terdiam, matanya sibuk melihat menu, namun telinganya tajam mendengar percakapan kedua sahabatnya. "Gue samain lo Ce!"
"Ya udah!" Cecilia kembali meralat pesanannya menjadi dua, sementara Nita memilih es boba lain.
Setelah menunggu beberapa saat, waktunya mereka masuk kedalam studio bioskop karena film akan dimulai,
"Eeh Ce ... gue ada yang lupa!" seru Nita yang menyerahkan makanan pada Cecilia, lalu berlari keluar. Dia mencari stand ciki untuk membeli beberapa cemilan lagi, dan bertepatan dengan Regi yang masuk ke area bioskop untuk ke coffe shop.
"Nah itu Regi! Dia ngapain kesini? Bukannya dia bilang ke lantai empat. Atau jangan jangan Regi ngehindar dari Agnia. Dia sengaja tuh!" gumam Nita.
Nita ingin menegur Regi, namun karena Cecilia keluar dan meneleponnya, dia akhirnya kembali masuk. Nita menoleh ke arah Agnia, lalu menghela nafas.
"Hidup gak rumit Nia!" gumamnya lalu duduk di kursi bioskop dengan nomor yang sama yang tertera di tiket.
Dua jam berlalu, lampu bioskop pun menyala, dan mereka keluar dengan terus tertawa, menertawakan adegan adegan seram yang membuat tenggorokannya serak dan juga kering karena terus menjerit kaget saat adegan film menakutkan.
__ADS_1
"Eeh Ce, Nia ... karaoke yu?" ajak Nita.
Agnia melirik jam tangan sebelum mengiyakannya, dia tidak ingin kembali mendapat masalah jika telat pulang, namun dia mengangguk setelah melihat waktu masih tersisa dua jam lagi.
"Beneran?"
"Ayolah ... kapan lag!" ujar Agnia membuang sampah minuman yang telah habis.
Mereka pun kembali berjalan kearah tempat karaoke yang tidak jauh dari sana. Dengan terus berjalan bergandengan tangan dengan tertawa. Nita menoleh sebentar ke arah coffe shop dimana Regi tadi dia lihat, namun ternyata Regi sudah tidak ada.
Cecilia bicara dengan petugas karaoke, untuk memesan room yamg berkapasitas lima orang, dan mereka pun diantar ke tempat yang di tuju.
Namun lagi lagi Agnia terpaku ditempatnya saat melihat Regi yang tengah berjalan ke arahnya, lorong sempit yang hanya memuat. dua orang hingga Regi maupun Agnia tidak bisa menghindar.
Regi tersentak saat melihat Agnia, walau gadis itu sudah mengulas senyuman tipis untuknya, namun Regi justru berjalan lurus tanpa melihatnya.
"Kenapa sih si Regi?" tanya Cecilia, "Dia kan udah paham dan ngerti keadaan Nia sekarang kan?" Tanyanya lagi pada Nita.
"Kayaknya Regi patah hati parah, dia bahkan harus ke atas dulu daripada terus melihat Nia, gue lihat dia keluar dari lift dan masuk ke coffe shop yang disebelah tadi.
"Masa?" Agnia memutarkan tubuhnya melihat punggung Regi yang berjalan semakin jauh.
Sorry Regi!! Lo pasti sakit banget, sampai segitunya lo ngehindar dari gue. Apa kita gak bisa berteman kayak biasa lagi?
.
.
.
Hem ... Ada cinta ada juga pengorbanan, Kim mengorbankan perasaannya buat Zian, Regi juga berkorban perasaan buat Nia ...
Othor nungguin daging kurban aja deh nanti....kwkwkwk. Oiya nanti othor up 1 bab lagi yuhuuuu ... buat kalian yang udah kasih othor semangat bertubi tubi...hihiihii ... seneng kan, kalau seneng jangan lupa like dan komen oke readers terlope lope akoh.
__ADS_1