Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 190


__ADS_3

Kim keluar dari kamar dan duduk disofa single, disamping Dave yang tengah terduduk dengan melihat langit langit ruangan.


"Are you Ok now?" tanya Dave tanpa melihat ke arah Kim.


"Aku rasa aku harus meluruskan sesuatu padamu Dave!"


"Lupakan ... aku akan menganggap tidak tahu apa-apa, tidak mendengar apa-apa. Kau tenang saja aku juga tidak akan memberitahukannya kepada Zian mengenai hal ini!"


"Tapi ini bukan hanya masalah perasaanku saja Dave! Ini mengenai___" Kim menjeda ucapannya dia tidak tahu apa yang harus dia katakan mengenai apa yang terjadi di antara mereka,


"Apa? Ciuman kita tadi?" Dave menolehkan kepalanya, "Anggap saja itu suatu ketidak sengajaan, kau baru saja mabuk dan aku faham hal itu Kim! Tidak usah kau permasalahkannya! Aku juga ikut bersalah dalam hal itu Kim."


Kim tertegun, dia sedang tidak baik baik saja saat ini, semua rahasia yang dia simpan rapat rapat selama ini telah dia ungkap pada Dave, seseorang yang justru teman Zian dan sekaligus ayah mertuanya.


"Kau tidak ada niatan untuk mengatakan nya pada Zian?"


"Untuk apa? Tidak akan merubah keadaan apapun Dave, yang ada justru akan merusak hubungan yang selama ini aku jaga dengan baik!" lirihnya.


"Sampai kapan kau bisa bertahan?"


Dave menatap Kim dengan penuh keraguan tersirat di kedua maniknya.


"Kau harus percaya padaku Dave, aku tidak mungkin merusak hubungan mereka berdua, aku juga tidak mungkin mengatakan semua pada Dave, terlebih utama ... aku tidak akan merusak kepercayaan yang kakek Mahesa berikan padaku, untuk menjaga dan tetap berada disamping Zian untuk selalu membantunya."


Kim mengatakan semua itu dengan tegas, di batas sadar nya, dia kembali pada sosok Kim yang sebenarnya Dave lihat.


"Bahkan jika kau terluka sendiri?"


"Itu konsekwensi yang harus aku terima Dave, karena tidak mampu mengendalikan perasaan ini!"


"Apa kau fikir perasaan seseorang bisa kau kendalikan dengan mudah Kim!! Bahkan kau belum mencoba mengatakannya pada Zian."


Kim kembali menyorotinya dengan tajam, "Ke arah mana kau ingin tahu sejauh mana tindakan olehku Dave? Jika apa yang kau takutkan adalah merusak hubungan mereka dan mengorbankan putrimu, kau salah besar!" tegasnya lagi.


Dave menghela nafas panjang, dia bukan hanya ingin melihat sejauh mana Kim mengorbankan perasaannya, namun juga menyakinkan dirinya sendiri jika Kim tidak akan melukai putrinya. Namun sejauh ini Kim begitu meyakinkan, bagaimana selama ini dia menjaga perasaannya sedemikan rupa agar tidak bertindak gegabah.


"Aku salut padamu Kim! Baiklah kau bisa mempercayaiku sekarang! Rahasiamu akan tersimpan rapat."


"Thanks Dave! Aku juga minta maaf dengan kebodohanku tadi malam ...!"


Dave terkekeh, "Haiissshh padahal aku sempat percaya diri saat kau tiba tiba menyerangku dengan ganas, dan aku sudah membayangkan akhir seperti apa tadi malam! Ternyata salah...!"


Kim mengerjapkan kedua matanya, lalu menundukkan sedikit kepalanya, "Sekali lagi aku minta maaf!"


"Santai saja Kim ... aku tidak kecewa, walaupun baru kali ini ada wanita yang nyatanya tidak menyukaiku!" Kekehnya lagi. "Ku fikir kau memang menyukaiku," ucapnya lagi.

__ADS_1


"Maaf jika kau kecewa tapi aku memang tidak menyukaimu Dave ... aku bahkan tidak ingin terlibat lebih jauh denganmu dalam urusan apapun! Karena aku menganggapmu tidak lebih dari seorang pecundang Dave!" ujar Kim dengan jujur.


Pria berusia 37 tahun itu terperangah, "Hah ... aku? Pecundang?"


Kim mengangguk seraya menangkup kedua tangannya sebagai permohonan maaf karena telah lancang berbicara hal yang buruk terhadapnya. Namun tiba tiba Dave tergelak.


"Aku memang pecundang Kim! Tidak banyak wanita yang mengenaliku sebagai pecundang, apalagi saat ini, saat aku sudah tidak punya apa apa. Bahkan istriku sendiri meninggalkanku."


"Sekali lagi aku minta maaf!"


Ternyata Dave lumayan menyenangkan juga, dia tidak seburuk yang aku duga. Kim membatin,


"Baiklah Dave, setelah mengisi perut aku akan pulang dan berganti pakaian, badanku rasanya bau sekali!" Kim terkekeh.


Dave bisa melihat Kim yang sedikit santai sekarang, dia juga bicara banyak hal mengenai dirinya yang Dave tidak tahu.


"Kau tidak ingin aku antar? Ah aku lupa ... kau bahkan seorang wanita mandiri."


Kim terkekeh lagi, "Kau bicara apa! Kalau kau ingin ke rumah Zian, aku akan mengantarmu Dave!" ujar Kim lalu masuk kembali kedalam kamar, mengambil tas dan juga high hills miliknya.


"Aku rasa aku akan kesana! Tugasku masih belum selesai, aku masih harus mengawasi agar Zian tidak menerkam putriku sekarang, karena dia masih sekolah, aku takut dia___"


"Apa kau gila Dave? Kenapa melakukan hal itu!" Kim berbalik mundur dan melihat kearahnya. "Lalu untuk apa kau merestui Zian menikahinya tempo hari? Kenapa kau tidak melarangnya!"


.


.


Hari mulai terang, setelah obrolan panjang lebar Dave dan Kim, mereka berdua akhirnya keluar dari apartemen milik Dave, keduanya masuk kedalam mobil dan segera melaju. Perbincangan mereka juga semakin banyak, bisnis, pekerjaan, peluang usaha baru bahkan disisipi candaan receh dari Dave.


"Aku senang mengenalmu Kim! Kau sangat terbuka dan juga berwawasan luas, menyenangkan bisa membicarakan banyak hal denganmu." puji Dave yang memang kenyataan.


Kim mengulas senyuman, "Sayang sekali Dave! Aku tidak suka dipuji, terlebih oleh seorang pria."


"Benarkah? Awas saja jika kau bertemu dengan teman temanmu dipesta semalam dan kau mencari ku untuk membantumu lagi." ancamnya dengan terkekeh.


"Itu tidak akan terjadi Dave ... aku akan mengatakan jika aku sudah putus denganmu!"


"Semudah itu?" Kim mengangguk,


"Haissh ... kau benar benar Kim!"


Mereka berdua tergelak, hingga tak terasa perjalanan mereka sudah sampai di rumah Zian, Kim menepikan mobilnya.


"Kau tidak ingin ikut turun?"

__ADS_1


"Tidak Dave ... aku sudah harus ke kantor!"


Dave turun dari mobil dan menutup pintu mobil lalu Kim kembali melajukan mobilnya. Dave sempat melambaikan tangannya, namun Kim hanya menatapnya dari spion dengan gelengan kepalanya.


"Aku harap kau memang menepati janjimu Dave!" gumamnya dengan helaaan nafas panjang.


Dave mengayunkan kakinya masuk kedalam rumah, bertepatan dengan pintu rumah terbuka, Bi Nur membawa kantong plastik sampah dan hendak keluar.


"Tuan Dave?"


"Bi Nur? Apa Zian sudah pergi?"


"Belum tuan ... Tuan Zian masih belum turun."


"Nia?"


"Non Nia juga masih belum turun Tuan!" jawabnya.


Dave menunggu bi Nur yang tengah membuang sampah, dia berdiri di ambang pintu menunggunya. Bi Nur melangkah masuk dan tersentak saat melihat Dave.


"Apa bi Nur mendengar sesuatu yang aneh semalam saat aku pergi?"


"Tidak tuan! Aku tidak mendengar apapun semalam."


"Seperti jeritan atau teriakan?"


"Tidak juga!"


"Baiklah kalau begitu! Oh iya ... apa kau akan mencuci hari ini?"


Bi Nur mengernyit, dia sedikit heran dengan Dave yang aneh padahal masih terlalu pagi.


"Memangnya kenapa Tuan?"


"Tidak ... kau beritahu saja aku! Aku hendak memeriksa sesuatu." ujarnya lalu melangkah masuk, meninggalkan bi Nur yang masih terlihat heran.


"Si brengsekk itu memang sengaja membuatku pergi dari sini agar dia bisa melakukan hal sesukanya tanpa gangguan!"


.


.


.


Seneng gak nih othor up banyak hari ini... wkwkwk, jangan lupa like dan komen nya yaa... lope lope badag buat kalian.

__ADS_1


__ADS_2