Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 103


__ADS_3

"Yang aneh, suaranya gak asing ditelinga gue, tapi gue mesti pastiin sendiri, ditambah tadi gue lihat Dita keluar dari sini."


Karena evaluasi akan berlangsung lama, pihak kantor mengijinkan mereka bertiga untuk pulang lebih awal. Dipastikan evaluasi itu akan berlangsung sama malam ataupun keesokan paginya.


"Syukurlah, dengan gitu gue bisa kerumah siang ini juga!" gumam Agnia.


"Kita seneng-seneng yuk Nia! Sekalian bikin laporan."


"Eeh ... kan udah dia bilang, dia mau kerumah dulu! Udah ayo, gue udah eneg sama kantor ini!" Cecilia menarik tangan Nita dan juga Agnia.


Mereka bertiga keluar dari kantor dan bisa melepas lega. Kemudian mereka berjalan masuk kedalam mobil milik Cecilia, dan melaju dari sana.


"Turunin gue didepan aja! Nanti gue nyusul kalian ditempat biasa ok!"


Nita menoleh, "Udah Lo kita anter aja! Sekalian kita pengen tahu juga rumah lo Nia! Iya gak Ce?"


Cecilia mengangguk, "Huum ... masih siang juga Nia! Abis itu kita bisa pergi bareng."


Celaka, gue kan mau ngomong masalah gue mau nikah, masa iya mereka tahu! Bisa mampus gue!


"Kalian tunggu aja ditaman, nyokap gue suka rese kalau gue bawa temen ke rumah, lagian gue cuma bentar doang kok." kilah Agnia.


Dia tidak ingin siapapun tahu jika Zian mengajaknya menikah. Terlalu riskan jika temannya mengetahui jika dia berencana menikah.


"Ya udah kita tunggu aja Ce!" Nita mengerling ke arah belakang.


Tak lama mobil yang dikemudikan Cecilia itu berhenti di depan rumah Agnia, namun saat gadis berambut panjang itu hendak turun, mobil Laras keluar dari gerbang rumah, Agnia terpaku setelah melihat ibunya keluar dengan pria yang tidak dia kenal.


Tangannya yang menempel dihandle pintu pun membeku, seiring tawa wanita yang melahirkannya terlihat dengan tangan menyentuh wajah pria disampingnya, Agnia melihatnya dengan jelas, karena jendela mobilnya terbuka.


"Nia ...!"


Cecilia menatap dan memanggil namanya lirih, "You ok?"


"Ce ikuti mobil itu!"


Entah dari mana ide itu muncul begitu saja, Cecilia tampak mengernyit, namun juga tetao melajukan kendaraannya, mengikuti kendaraan mewah berwarna putih didepannya.


"Jangan terlalu deket Ce, jangan sampai Mommy gue liat kita!"


Nita menoleh, "Itu mobil ibu Lo?"


Agnia mengangguk, "Iya ...!"


"Yang nyetir itu?" tanyanya lagi.


Agnia menghela nafas, "Mungkin pacar barunya?"


"Ya ampun Nia, sorry!"


Agnia hanya diam, sementara Cecilia menyuruh Nita untuk tidak bertanya lagi.

__ADS_1


Mobil yang dikemudikan pria itu masuk kedalam basement sebuah hotel mewah, Cecilia menoleh, "Gimana Nia? Kita kesana juga?"


"Gak usah ... kita pergi aja!"


"Lo yakin?"


"Hum ... kita pergi Ce!"


"Nia ...!" lirih Nita yang tidak menyangka Agnia masih terlihat baik-baik saja, dia bisa membayangkan bagaimana keadaan Agnia sampai gadis itu keluar dari rumah.


"Lo yang kuat ya Nia!"


"Apaan sih lo, gue gak apa-apa kok!" Agnia memang pantang memperlihatkan masalah pada orang lain, dia menyembunyikan kesedihan yang dialaminya.


Gue udah ambil keputusan, gue gak peduli Mommy akan marah atau keberatan, gue bakal nikah secepatnya sama Om Zian. Gue gak bakal minta pendapat nya, karena dia juga gak mikirin gue.


"Kita putar arah?" ucap Cecilia dengan menatap Agnia dari spion.


Cecilia tidak berani mengatakan apa-apa, selain dia juga dapat memperkirakan apa yang terjadi pada temannya itu.


"Ya ...!" lirihnya.


Akhirnya mereka memilih pergi ke kafe langganan mereka, seperti sebuah kebiasaan mereka duduk dikursi yang sama dengan posisi yang sama, namun kali ini Agnia lebih banyak diam.


Setelah beberapa lama, mereka pun menikmati pesanan mereka masing-masing, namun tidak dengan Agnia, dia hanya memutar-mutar sedotan di gelas minumannya, dengan pikiran yang entah kemana.


"Nia ? You Ok?" tanya Nita kembali.


Agnia pun merogoh tasnya untuk mencari ponsel, namun tidak menemukannya disana.


"Eh ... ponsel gue kok gak ada ya!" ujarnya kembali membuka tas miliknya.


Namun ponsel yang di cari tetap tidak ditemukan.


"Apa ketinggalan di mobil?" tanya Cecilia.


"Gue gak ngeluarin ponsel dimobil Ce, pasti ketinggalan dikantor!"


"Mungkin sih iya, secara lo emang suka ketinggalan tuh benda." samber Nita.


"Iya kali ya!"


"Ya udah kita balik ke kantor aja dulu!"


"Gak usah, kalian balik aja, gue ambil sekalian nanti, rumah kita kan gak searah!"


"Lo yakin?" tanya Nita.


"Yakin gue! Udah gak apa-apa, kalian balik aja!"


.

__ADS_1


.


Agnia memasuki gedung perkantoran Global globe, suasana disana tampak lenggang, hanya satu dua orang yang terlihat berjalan. Itupun dengan raut wajah yang sedih.


"Mereka pasti belum selesai evalusia!" ujarnya melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.


Jarum jam masih menunjukan angka 5, namun evaluasi itu tidak kunjung selesai. Agnia memasuki lift untuk sampai ke ruangannya.


Tak lama kemudian lift terbuka, dia kembali mengayunkan kakinya ke ruangan dimana ponselnya diperkirakan tertinggal. Dan benar saja ponsel miliknya berada diatas meja.


"Nih dia akhirnya!" gumamnya.


"Lho Agnia belum pulang?"


Gadis itu membalikkan tubuhnya kearah pintu masuk, dan melihat ibu Wang berdiri disana.


"Aku terpaksa kembali karena ponsel ketinggalan." ujarnya dengan memperlihatkan ponsel ditangannya.


"Ya ampun ... kenapa bisa sampai begitu!" Ibu Wang terkekeh.


"Iya nih Bu ... jadinya aja aku balik lagi kemari, oh iya rapatnya udah selesai ya Bu?"


Ibu Wang menghela nafas, "Belum sih ... mungkin masih akan lanjut besok pagi, untuk saat ini sepertinya cukup membuat big bos kewalahan." Ibu Wang mendudukkan bobot tubuhnya di kursi.


"Bulan ini ada sepuluh orang yang dipecat, mungkin besok akan bertambah!" Ujarnya lagi.


Agnia terdiam, dia pun jadi bertambah penasaran dengan sosok yang dibicarakan oleh ibu Wang.


Drett


Drett


Ponsel Agnia berdering, dia baru sadar jika seharian ini memang tidak sekalipun memeriksa ponsel miliknya.


Dua pesan singkat dari Zian dan 1 panggilan tidak terjawab darinya, membuatnya menarik bibirnya melengkung.


"Dasar orang aneh!" gumamnya saat membaca pesan singkat yang dikirim Zian.


'Aku akan sangat merindukanmu hari ini, dan tidak sabar menunggu kabar dari mu tentang pernikahan kita.'


"Bisa-bisanya dia kirim pesan kayak gini." gummanya lagi dengan membalasnya hanya dengan emoticon. Tak lama kemudian, dia kembali memasukkan ponselnya kedalam tas.


"Kenapa Nia? Kok senyum-senyum begitu?" Ibu Wang mengambil dokumen dari dalam laci.


"Pasti pesan dari seseorang, pacarkah? Kamu sudah punya pacar? Gadis cantik seperti mu pasti punya banyak penggemar. Iya kan!" ujarnya dengan membuka lembar demi lembar berkas ditangannya.


Agnia menarik kursi dan duduk didepan meja Ibu Wang, dia tersenyum. "Banyak bu! Tapi gak ada yang nyangkut!" kelakarnya.


Ibu Wang membuka halaman terakhir dan membuat Agnia penasaran dengan tanda tangan yang tertera jelas diatasnya.


"Ibu Wang? Apa itu ...?"

__ADS_1


__ADS_2