
Kini dua I itu lagi berjalan jalan setelah sepakat mengambil jatah libur dan mereka lagi santai di sebuah caffe sambil menikmati waktu senggang dengan nongkrong cantik bersama.
Caffe sederhana tidak terlalu sederhana tidak juga terlalu mewah.
Itu yang jadi pilihan mereka, biar tidak terlalu menguras isi kantong biar bagaimana pun mereka para mahasiswi yang perlu berhemat agar tak krisis di akhir bulan.
Walau dapat uang jajan dari rumah tetap saja mereka harus selalu mempertimbangkan apa yang mau di beli.
Selama itu butuh atau perlu maka tak salah buat di beli, namun walau hanya buat mengikuti tren yang dari masa ke masa tidak ada habisnya jadi buat apa ngikut.
"Berasa kayak orang kita ya Ndah kalau duduk cantik gini di caffe,"
Celetuk Ines yang lagi menyuruput minuman yang di pesan.
Ya mereka hanya pesan minum dan cemilan.
"Emang selama ini lo ngak orang apa Nes? kalau ngomong pakai doa Nes,"
Iya bener tuh Ndah, ngomong pake doa kalau bisa wudhu dulu biar bersih apa yang di ucapkan.
"Ngomong ya pakai mulut lah Ndah, gimana sih,"
Tidak terima sama Indah kalau dia bicara selalu di komen ya juri ajang cari bakat saja, salah dikit tidak boleh.
"Iya pake mulut tapi mulutnya asal nyeblak,"
Bukan perkara bagi Indah, tapi kalau di dengar orang kan tidak baik.
Mereka kan juga orang kenapa bilang kayak orang juga, apa selama ini ke orangannya di ragukan atau imitasi gitu, yah emas dong imitasi.
"Ngak tau ngak?"
Plis Nes kalau bicara langsung saja tidak perlu nanya segala.
"Tau,"
Di balas tak kalah.
"Apa?"
Balik nanya.
"Lo ngomong dulu, baru gue tau,"
Seratus buat Indah.
Mana ada orang yang bisa tau tanpa di kasih tau, ada ada saja Nes Nes.
"Oh iya pula gue,"
Menepuk jidat sendiri.
"Lupa bego, lama lama nih kepala gue rontokin dari atas,"
Geram sama sahabat satu nya ini.
"Kemarin ya Ndah pas gue sampai rumah mama nyuruh gue beli garam halus ke warung terus sampai warung lo tau yang gue gula halus alhasil mama marah marah sama gue sambil bilang gue di pecat jadi anak,"
Seperti nya ending bakal tidak enak kayaknya.
"Ya karna gue ngak terima gue jawab dong gini' gimana mau mecat sih aku kan ngak pernah lamar jadi anak mama,"
__ADS_1
Lanjut Ines dengan ekpresi wajah cengengesan.
Berkata seperti ini tiada beban lagi, dia fikir menjawab pertanyaan orang tua adalah perbuatan terpuji apa.
Apa dia bangga melakukan itu.
"Ini nih anak pantas buat di buang ke sarang buaya,"
Kesal Indian bego boleh bodoh jangan.
Tapi jangan di borong kedua nya juga ya meski gratis.
"Abis mama suka gitu, masa anak secantik ini ngak mau lagi.
Kalau bukan mama yang mengakui siapa lagi coba yang mau sama angkat gue jadi anak.
Eh Ndah jangan jangan nih ya gue anak yang tak di ingin kan kali ya,"
Makin ngak waras nih orang, kalau anak yang tidak di ingin kan buat di besar sampai kuliah juga lebih baik di buang sejak kecil.
"Sadar Nes sadar nyebut napa,"
Geram Indah entah mengapa dia masih betah sahabatan sama Ines.
Indah harus merefres lagi kepalanya supaya tidak ikutan bleng kayak Ines dan mereka berdua akan berakhir di rumah sakit jiwa.
"Kita bahas yang lain aja Ndah, yang lebih waras dikit ok,"
Siapa juga yang sedari tadi tidak waras, kamu kan Nes bukan aku fikir Indah di kepala cantik itu.
"Lo ngak ada yang mau di cerita kan gitu Ndah, misalnya saat lo antar pesanan kue apa,"
Desak Ines yang merasa tadi hanya dia yang cerita.
"Waktu ngantar kue hanya satu yang aneh sama orang yang pesan yaitu gue ketemu cowok yang ngajak debat waktu hari minggu.
Nah gue ketemu plus debat lagi sama dia hanya karna dia hampir nabrak gue dan bentak bentak lagi.
Malah bawa bawa harga diri lagi,"
Nah kan mulai emosi kalau di ungkit gitu.
Harga diri adalah hal yang sensitif jika di bahas sama seperti kita bilang sama cewek dengan kata, lo agak berisi sekarang maka secara tidak langsung mengatakan orang itu gendut.
Cewek kan paling anti di bilang gitu.
"Trus dia hargai berapa Ndah?"
Seru Ines yang merasa cerita Indah jauh lebih menarik.
"Gue bilang ngak akan ke beli sama dia sebab ngak gue jual,"
Sesimple itu saja tidak ada yang lain.
Gila Gila Ndah, Jawaban yang membingungkan buat para pendengar.
"Udah ah malas cerita itu, balik yuk,"
Sudah mau sore juga makanya putuskan buat pulang sebelum di cari kan sebab kelamaan pulang jika tidak kuliah.
"Yah ngak seru Ndah, kan cerita belum kelar,"
__ADS_1
Rengek Ines mengikuti indah berjalan setelah membayar pesanan tadi.
"Mual gue cerita itu Nes,"
Timpal Indah terus berjalan.
"Lo hamil Ndah?"
Sudah tidak perlu ajak bicara lagi nih anak atu, tidak bener isi kepala nya.
"Pala lo gue hamil, hamil sama siapa coba.
Gue masih ting ting kali,"
Ish siapa sih ini punya sahabat.
"Kayak lagu dong Ndah, seperti ini.
Saya masih ting ting, di jamin masih ting ting belum pernah pacaran,"
Ayo nyanyi semuanya jangan lupa saweran buat artist kita yang sama sekali tidak ada bagus bagus nya suara.
"Makin gila nih orang,"
Tuhan kenapa engkau berikan hamba sahabat yang kadar kewarasan dia di bawah standard gini.
Tolong kasih dia sedikit otak agar bisa di gunakan buat berfikir.
Masa dia tega nuduh sahabat sendiri hamil, gimana itu coba.
Ini bukan zaman nabi yang bisa hamil tanpa suami dan tanpa melakukan zina.
Doa tangis tragis Indah dalam hati, berharap sahabat satu satu nya ini punya sedikit otak biar bisa berfikir.
"Ndah tau ngak,"
Mengiringi langkah Indah yang sudah mau sampai di halte.
"Ngomong sekali lagi gue ngak mau kenal lo lagi Nes,"
Bosan sama kebodohan yang entah sengaja atau di buat buat gitu.
"Sorry sorry sekarang gue pake otak kalau mau bicara.
Ndah jangan marah dong, lo ngak sayang lagi sama gue apa?
Ndah ngomong dong,"
Indah memilih diam aja bosan dari tadi mendengar ocehan tak berfaedah.
"Ya udah kalau lo marah sama gue, nanti sampai rumah gue mau nyebur,"
Jeda Ines mau liat respon Indah bagaimana.
Tapi sayang Indah hanya cuek diam saja.
"Nanti gue mau nyebur dalam bak mandi,"
Serah Nes serah deh mau nyebur kemana, indah tidak peduli.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc