Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 235


__ADS_3

Warna lampu lalu lintas sudah berubah, motor sport berwarna merah itu melesat dengan cepat, begitu juga dengan mobil yang dikemudikan oleh Cecilia, Agnia menatap lurus ke arah ruas jalan, berharap dalam hatinya Regi mendapat kebahagiannya sendiri.


"Nia ... lo gak penasaran apa sama mereka?" tanya Nita menoleh ke arah belakang, Agnia hanya terdiam.


"Semoga aja Regi gak macem macem Nit!" Timpal Cecilia yang mewakili apa yang ada dalam hati Agnia.


Gadis berambut panjang itu mengangguk, "Tuh bener kata Cecilia! Positif thinking aja, karena gue tahu gimana Regi."


"Alah ... lo juga tahu Serly kan, bahkan dia sahabat lo! Tapi buktinya justru dia yang mati matian jatohin lo Nia! Segala cara dia lakuin, itu yang namanya sahabat, kan setan!" Gerutu Nita kesal, karena melihat sahabatnya yang selalu menganggap orang lain itu baik.


"Udah lah Nit! Kenapa juga lo yang sewot, orang si Nia gak ada alesan buat larang Regi, dia udah punya yang ganteng, tajir melintir, dewasa, apalagi coba! Lagian, lo malah jadi kompor sih!! Sama sama setan juga!" pungkas Cecilia tanpa mengalihkan pandangannya dari ruas jalan yang tengah di belahnya.


"Iya deh iya ... yang tersegalanya, tapi gue bener bener heran sama Regi tau gak! Ngaku sibuk padahal sibuk sama si codot itu. Nyebelin banget kan."


Agnia terkekeh, "Lo suka sama Regi? Emosi amat bu!"


Nita kembali menoleh, "Eeh kampret ... gue belain lo! Malah nuding yang enggak enggak, gue gak doyan sama anak sekolahan, duitnya gak ada, kalau ada juga itu juga duit orang tua! Mending sama daddy, di nafkahi segala macem."


"Iya ... tapi mau sampe kapan lo hidup kayak gitu?" ujar Agnia menohok, tepat pada saat mobil berhenti karena telah sampai di PT Maheswara.


Belum sempat Nita menjawab, Agnia telah membuka pintu mobil dan keluar. "Gue cabut ya ... thanks Ce udah drop gue."


"Oke Nia bye!" Cecilia menginjak pedal gas dan melajukan kembali mobil dari sana, membuat Nita mengkerutkan dahi.


"Sampai kapan Ce katanya? Sialan gue ke distrack dan gak bisa ngomong apa apa." gumam Nita dengan menatap pantulan Agnia dari spion samping yang tengah melambaikan tangan.


"Ya bener kali ... gak salah kan dia ngomong!"


Nita menoleh ke arahnya, "Lo setuju sama ucapannya? Terus lo mau tobat?" tanyanya dengan wajah penasaran.


"Kagak lah! Gue udah bosen jadi orang miskin, gak mau balik lagi miskin gue!" Cecilia tertawa.


"Sialan ... gue fikir lo mau tobat dan ninggalin gue."

__ADS_1


.


Agnia berjalan dengan punggung dan bahu yang tegak, pandangannya lurus ke depan penuh percaya diri, dengan menjejakkan kaki jenjangnya berjalan bak seorang model masuk ke dalam kantor. Senyuman tipis terlempar saat berpapasan dengan beberapa orang staff, membuat mereka bertanya tanya siapa gadis muda yang mengenakan setelan rok span dengan belahan dibelakangnya serta dipadukan dengan blazer. Tampak anggun dengan rambut panjang yang terombang ambing angin serta wajah segar tanpa riasan berlebihan, natural namun kecantikannya terpancar. Kedua manik hitamnya bercahaya mampu menghipnotis orang lain untuk sekedar berlama lama menatapnya.


Agnia melewati meja resepsionis, bertanya apa Zian berada di ruangannya atau tidak. Dan mengangguk serta bibir yang tetap melengkung hangat, saat wanita di balik meja resepsionis menyuruhnya menunggu.


Tak lama kemudian, seorang pria menghampirinya, tidak terlalu tua juga tidak lebih muda dari Zian. Pria itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya saat melihat Agnia berdiri dari duduknya.


"Non Nia?!" ucapnya dengan mempersilahkan Agnia mengikutinya.


"Aah iya pak...?" Agnia tidak sempat bertanya siapa nama pria yang juga menjemputnya tadi pagi di rumah.


Pria itu mengangguk, lalu berjalan lambat dan membiarkan Agnia berjalan di depannya beberapa langkah.


"Apa bapak bilang aku akan kemari?" tanya Agnia saat berada di depan pintu lift.


"Maaf belum Non, pak Zian sedang rapat saat saya tiba, jadi belum sempat bertemu dengannya!" jawabnya dengan kepala sedikit menunduk.


"Tidak masalah pak! Aku memang ingin kasih kejutan!" ujar Agnia tersenyum, membuat supir kantor itu bisa bernafas lega. Dia fikir akan menjadi kesalahannya jika tidak memberi tahu Zian sebelumnya.


Pintu lift terbuka, Agnia masuk ke dalam namun tidak dengan pria yang bekerja sebagai supir di kantor milik suaminya itu. Dia hanya mengantarnya saja sampai masuk di depan lift.


"Lho bapak gak ikut?"


"Oh tidak Non, bapak harus mengantarkan lagi barang setelah ini. Maaf non hanya bisa mengantar sampai sini!"


Agnia mengangguk, "Tidak apa apa pak! Maaf malah merepotkan."


Akhirnya Agnia menekan nomor lima dimana ruangan Zian berada, dan pintu lift pun tertutup.


"Gue harus belajar banyak tentang kosa kata yang formal, masa iya di kantor percakapan gue berantakan gini kan." gumamnya sendiri dengan tangan yang sibuk membenahi rambut.


Lift terbuka, Agnia keluar dengan jantung yang kian bertalu talu, bertemu dengan Zian tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

__ADS_1


Dia tersenyum dan melirik sebentar ke arah pintu disampingnya dimana itu ruangan milik sekretaris Kim, dan membenahi pakaiannya saat berada di depan pintu ruangan Zian, setelah itu barulah mengetuk pintu.


Setelah mengetuk beberapa kali dan mendengar suara Zian yang mempersilahkannya masuk, Agnia membuka pintu dan melangkah masuk.


Zian menoleh ke arahnya dan seketika kedua matanya membulat dengan kedua ujung bibir melengkung.


"Baby?"


"Yes I'm!" ujar Agnia yang berdiri bak seorang model dengan kaki kiri didepan kaki kanan dan kedua tangan berada di pinggangnya.


"Wow ... so beautyful and amazing baby!" Zian bangkit dari kursi kekuasannya, menghampirinya, menyambut tangannya dan Agnia berputar, Zian mengulum senyuman, menatap kagum gadis SMA yang kini terlihat lebih dewasa dan sangat anggun.


"Hari ini aku resmi umumkan, akan menjadi sekretaris pribadi tuan Ziandra Maheswara." Seru Agnia dengan suara yang tegas, tatapannya tajam disertai seutas senyuman manis.


Zian terpana, dia bahkan tidak melepaskan tatapan meneduhkannya pada sang istri yang mengikrarkan dirinya sendiri dengan penuh percaya diri, tangannya menarik tubuh Agnia menjadi lebih dekat. "Kau serius baby? Aku tidak menerima pelamar tanpa CV diri."


Agnia berjalan semakin mendekat, mengulurkan kedua tangannya pada dasi Zian yang berantakan. "Aku sangat serius ... Mengenai CV diri, aku sudah kirim ke emailmu? Apa kau tidak membacanya tuan Zian?"


Zian tergelak, "Mana bisa aku menolak sekretaris sepertimu, baiklah aku menerimamu walau aku belum melihat CV diri yang kau kirim, kau bisa menemaniku sepanjang hari sampai tidur lalu kembali bangun!"


Agnia ikut tergelak, "Kalau begitu gajiku doble dong pak! Menemani bos dikantor juga dimalam hari, pekerjaan sangat berat!"


Zian mencubit kedua pipi Agnia dengan gemas, "Kamu ada ada saja!"


"Nia serius, selama tidak ada sekretaris Kim, aku akan membantumu dikantor! Oke? Tanpa penolakan."


Zian mengangguk pasrah, namun tangannya sudah merekat erat dipinggang Agnia, menariknya hingga tidak ada jarak lagi diantara mereka.


"Oke ... tapi sekarang ada yang lebih penting!"


Agnia membulatkan kedua matanya saat Zian menyambar bibirnya tanpa aba aba, benda tanpa tulang itu menerobos masuk dan membelit lidahnya dengan rakus, lalu berubah menjadi gerakan lembut yang membuainya perlahan, kedua tangan Zian menyusup disela leher putihnya, menghadirkan desir demi desir diseluruh aliran darah.


.

__ADS_1


.


Yah Nia masih kalah strategi, malah keenakan kan tuh si Om Superman. Ah othor mau juga jadi sekretaris deh kalau bosnya Om Zian.


__ADS_2