
Semua orang telah meninggalkan gedung dimana kehebohan Agnia hilang terjadi, begitu juga Zian duduk di mobil, dia tengah memutar mutar kotak merah yang di bawanya. Anmin Zian segera memasukkannya lagi saat Agnia masuk dengan tersungut.
"Harusnya aku yang marah karena kau lagi lagi ninggalin! Kenapa jadi kebalikannya."
"Aku tidak pernah bisa marah padamu baby! Hanya saja aku tidak suka aroma ikan di tangan dan nafasmu. Aku mual."
"Ish ... kau tidak tahu saja rasanya gimana." ujar Agnia menghempaskan punggung pada sandaran mobil.
Zian memasukkan kembali ponsel ke dalam saku. Llau menoleh pada Agnia, "Ngomong ngomong, kenapa kamu bersembunyi di ruang penyimpanan dapur? Kau sengaja karena marah padaku?"
"Enggak!" Jawab Agnia disertai gelengan kepala. "Nia emang kesal, tapi Nia gak pergi dengan sengaja. Waktu keluar dari toilet, Nia lihat orang orang makan, karena Nia laper jadi Nia pergi mencari makanan. Tapi wangi dari dapur bener bener bikin Nia makin laper. Ya udah masuk aja."
"Kau tidak ketahuan?"
Agnia menggelengkan kepalanya, "Mungkin karena semua orang di dapur sibuk, jadi gak merhatiin Nia masuk. Jadi ya udah Nia terus masuk sampe ke ruangan penyimpanan. Dan nemuin camilan yang bener bener enak."
"Kau juga makan semangkuk kari? Tanpa semua orang menyadari kau masuk begitu saja?"
Agnia kembali mengangguk lagi, "Orang Kari itu ditaro di panci besar, Nia ambil aja."
"Tanpa ada yang sadar melihatmu berbeda dari staff lain?"
"Udah Nia bilang! Mereka gak tahu kalau Nia masuk, ambil mangkuk terus ambil Kari dan Nia cari tempat buat makan. Nah diruang penyimpananlah." terangnya dengan terkekeh.
"Maafkan aku! Gara gara aku terus fokus pada acara itu, aku jadi lupa memberi anak dan istriku sendiri makan. Sampai harus kriminal."
Agnia menepuk paha Zian dengan keras. "Kau bilang apa? Kriminal? Haissshh bener bener."
"Ya memangnya apa kalau bukan kriminal, mencuri curi makanan begitu." Zian mengulum senyuman.
"Kau kan sudah bayar tadi!" Agnia menekuk wajahnya, "Itu juga gara gara Om Zian. Ngapain ke sini ngajak ngajak. Gak ada spesialnya. Mau pamer doang kan? Iya kan?"
"Sebenarnya...."
Tok
Tok
Dave mengetuk kaca mobil disamping Zian, pria itu kemudian menoleh ke arahnya, dan menurunkan kaca mobil.
"Ada apa?"
"Keluarlah dulu! Aku ingin bicara."
Zian menoleh kembali pada Agnia, "Tunggu sebenar baby!"
__ADS_1
Agnia hanya mengangguk lalu melambaikan tangannya pada Dave. Sementara Zian telah keluar dan berdiri dihadapan Dave.
"Katakan!"
"Sepertinya Kim marah padaku, dia tidak ingin bicara pada ku juga mengabaikanku. Kau bisa membantu menyampaikan pesanku padanya?"
Zian mendengus, dia kembali membuka pintu mobil. "Urus saja sendiri! Aku sibuk."
"Kau ini dasar!!"
Zian kembali menutup pintu mobil, lalu menyuruh supir untuk menjalankan kendaraannya.
"Daddy bilang apa?"
Zian pun mengerdik, dia meraih tangan Agnia yang sudah tidak beraroma kulit ikan.
"Iisssh ... kau ini." Agnia menepiskan tangan Zian.
"Baby! Ayahmu yang bertanya hal yang tidak penting dan aku malas meladeninya."
Agnia terdiam, dia menoleh dan menatap wajah Zian dengan lekat.
"Hari ini Om Zian bener bener bikin kesel terus!"
Zian terkekeh, dia kembali meraih tangan Agnia dengan lembut. "Maafkan aku! Hanya saja ini di luar rencana."
"Aku tidak tahu! Ku fikir Om atau sekretaris Kim yang mengabari mereka aku hilang, makanya mereka ada di sini." jawab Agnia menyandarkan punggungnya.
Zian mengeluarkan kotak merah dari dalam sakunya dan menunjukannya pada Agnia.
"Karena kau baby! Aku hendak memberimu kejutan, memberikan hadiah ini tepat saat aku di atas panggung, semua sudah aku rencanakan. Bahkan Laras dan Dave telah lebih sampai di sini dari pada kita."
Agnia terbelalak dengan apa yang dia lihat saat ini, kotak merah dari telapak tangan Zian kini terbuka. Kalung berliontin dengan inisial Z dan juga A terukir indah.
"Ini buat Nia?"
"Huum ... aku ingin mengumumkan pernikahan kita. Tapi semua gagal karena kau menghilang baby. Jadi kita benar benar terlambat pergi ke tempat yang hendak aku tunjukan padamu."
Agnia masih tertegun, dengan manik hitam membola semnpurna serta mulut yang nyaris menganga.
Indah banget ... tapi tetep aja, harusnya kan dia lebih cepet gerak. Malah sambutan sambutan mulu, kan makin kesel. Ternyata. Eeh tapi tetep aja. Jadi bukan salah salah gue amat. batin Agnia terus bicara.
"Jadi semua salah Nia? Om gak salah gitu?"
"Baby? Bukan begitu, aku tidak menyalahkanmu."
__ADS_1
"Itu tadi? Semua gagal karena aku hilang! Padahal kan aku gak sengaja menghilang. Om Zian yang terlalu lama."
Zian hanya bisa menghela nafas panjang, berdebat dengan Agnia tidak akan menang, justru dia lagi dan dia terus yang harus mengalah dan meminta maaf.
"Apa? Om juga gak mau disalahin kan."
"Bukan begitu baby!"
"Udahlah hubby... semua ini sumbernya ada di hubby. Jadi hubby yang salah."
"Oke oke ... aku yang salah karena tidak mengatakannya padamu langsung, karena aku fikir aku akan mengejutkanmu baby! Eeh malah aku yang terkejut saat kau tidak ada."
"Jadi Om harus dihukum!" Agnia terkekeh.
Zian mengeluarkan kalung liontin itu. "Berhubung kita sudah terlambat, tapi hadiah ini tetap harus kau terima. Soal hukuman kita lupakan saja."
Agnia terdiam lagi, dia memang menginginkan kejutan, tapi menurutnya semua sudah tidak penting lagi sekarang.
"Kau mau kan memakainya untukku?"
Agnia mengulum senyuman, lalu mengangguk. Tak lama dia membalikkan tubuhnya membelakangi Zian dan menyibakkan rambutnya agar Zian memasangkan kalungnya dengan mudah.
"Maaf karena jadi memberikan nya padamu di mobil. Tapi aku janji, aku tidak akan mengulangi kesalahan seperti ini lagi ke depannya. Aku akan menjagamu dengan baik." ujar Zian saat memasangkan kalung dengan liontin dileher Agnia.
Agnia mengulum senyuman, dengan terus meraba kalung yang kini melingkar indah dilehernya.
"Terima kasih Hubby."
Agnia melingkarkan kedua tangan pada pinggang Zian dengan erat. Begitu juga dengan Zian yang terus mengecup pucuk kepalanya.
"Maafin Nia ... Karena Nia, hari ini semuanya berantakan, Nia egois. Hanya mikirin diri Nia sendiri."
"Hm ... termasuk makan camilan Skin Fish yang menjijikan itu."
Agnia mendongkakkan kepalanya, "Kau harus mencobanya sebelum bicara Hubby! Itu sangat enak dan aku udah pesen banyak banget buat di bawa pulang."
Zian bergidik, "Kenapa kau memesannya untuk di bawa pulang?"
Agnia merogoh sesuatu didalam tasnya, dan menunjukannya pada Zian, "Taraaaa ... aku juga bawa yang varian baru, katanya ini best seller, stok di ruang penyimpanan juga gak sebanyak yang lain. Om harus coba."
"Baby ... sudah simpan, hanya melihatnya saja aku mual." ujar Zian menyapit hidungnya, padahal Agnia belum membukanya sama sekali.
"Ini enak Hubby!"
.
__ADS_1
.
Yosh jangan lupa like dan komennya yaa .... dilarang bosan wkwkwk.