Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 162


__ADS_3

Cukup lama Dave terdiam, ingatan nya kembali pada sosok Zian di masa lalu, hanya Zianlah yang selalu ada dan membantunya, walaupun jarak usia mereka bertaut empat tahun, tapi rasanya Zian lebih dewasa dari dirinya, mungkin pengaruh keadaan yang membuat Zian lebih dewasa, saat usianya baru menginjak belasan tahun itu, dia kehilangan kedua orang tuanya, dan hidup dengan kakeknya saja, sementara dirinya, selalu dimanja dengan segala kemudahan dari kedua orang tua.


Zian juga kerap dia jadikan alasan saat dia pergi keluar, bertemu dengan gadis gadis yang dia kencani, keluar masuk hotel, ataupun pergi ke klub malam.


"Daddy?"


Dave mengerjapkan kedua matanya, lamunannya buyar seketika, perlahan Dave mengenadahkan kepalanya ke langit langit ruangan. Tangannya kembali bergerak perlahan di kepala Agnia.


"Maaf Daddy!" gumam Agnia.


"No Nia ... tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah, begitu juga dengan Zian, hanya saja Daddy teringat masa lalu, Zian memang baik, Daddy akui itu, tapi Daddy masih egois karena tidak siap___"


Agnia mengganti posisinya, kini dia terduduk dengan menghadap ayahnya, seolah menunggu Dave menceritakan semuanya.


"Belum siap kenapa? Setahu Nia, diantara Daddy dan Om Zian tidak ada masalah, masalah kalian hanya tentang Jasmine kan?"


"Itu benar, Zian anak baik dan selalu menolong Daddy, tapi Daddy belum rela melepaskan anak Daddy yang cantik ini padanya, kenapa kamu tidak mencari laki laki yang seusia saja? Kenapa harus dia." Dave mengelus pipi Agnia dengan lembut.


Kali ini percakapan mereka sangat berbeda dari biasanya, bicara hati dari hati dan saling mendengarkan. Tidak ada teriakan dari Agnia ataupun bentakan dari Dave.


"Daddy merasa Tuhan sedang menghukum Daddy, dan satu satunya orang yang tahu keburukan Daddy hanya Zian, jadi Daddy merasa takut jika dia mendekatimu bahkan melakukan hal yang pernah Daddy lakukan di masa lalu." imbuhnya lagi.


Agnia mengangguk pelan, "Nia tahu Daddy takut dan khawatir kan! Tapi asal Daddy tahu, selama ini, hanya Zian yang peduli sama hidup Nia,"


Dave menoleh kearah wajah putrinya dengan tatapan sendu, seakan kembali tersadar kesalahannya membiarkan putrinya hidup tanpa ada yang peduli, "Tidak ada yang lain?"


Kali ini Agnia terlihat ragu, bukan tidak ada sama sekali, tapi rasa peduli teman temannya tunjukan sangat berbeda dengan apa yang Zian lakukan. Ahhhkk ... mana mungkin gue bilang juga kalau gue terpesona dengan Om Zian karena dia memperlakukan gue sangat lembut, bisa bisa Daddy mikir yang enggak enggak. Batinnya bicara.


"Ya ada ... tapi kan beda, kayak Regi, dia baik banget bahkan sampe nolongin Nia pas kabur! Ucapnya sambil terkekeh. "Tapi kan Daddy tahu kalau hati itu gak bisa Dad dipaksain!"


Dave mencubit hidung Agnia dengan lembut, "Ternyata gadis Daddy sudah paham sekali masalah hati Hem!"


Agnia tersenyum dengan menggosok hidungnya, "Pokoknya Nia harap Daddy dan Om Zian selesaikan masalah diantara kalian, masalah dimasa lalu ataupun masa sekarang! Kalau tidak...."

__ADS_1


"Kalau tidak apa Hem? Kamu mengancam Daddy?" Dave beranjak dan berkacak pinggang, disertai lengkungan di bibirnya.


Agnia pun melakukan hal yang sama, dia berdiri diatas sofa dan menghadap ayahnya, "Kalau tidak ... Nia yang bakal nyelesaikan masalah kalian berdua!" ancamnya walau dengan sama sama tersenyum.


"Bagaimana?"


"Ya Nia nikah aja sama Om Zian besok! Jadi Daddy mau tidak mau nerima dia jadi menantu Daddy... kan lucu yaa!" Agnia tergelak.


"Niaaaa...!!"


Agnia tertawa lantas berlari masuk ke dalam kamar, meninggalkan Dave yang menggelengkan kepalanya berulang kali, dengan tangan kanan dipelipisnya, dan tangan kiri berada dipinggangnya.


"Aku tidak bisa membayangkan, Zian menjadi menantuku! Astaga tuhan ...!"


Agnia masuk kedalam kamar Dave, kamar sederhana dengan sebuah kasur tidak terlalu besar, dibandingkan dengan kamar miliknya di rumah Laras, tentu saja kamar itu sangat kecil, namun bagi Agnia, kamar sederhana itu justru sangat nyaman.


Dia tidak berhenti tertawa, dengan menyambar ponsel miliknya yang diletakkan di atas ranjang, banyak pesan dari Zian ternyata, disertai panggilan tidak terjawab.


Agnia hanya membaca semua pesan itu, lalu mengirimkan Sherlock sebagai balasannya saja. Dan kembali melempar ponsel miliknya di atas ranjang.


Sementara itu


Zian yang tengah berada di kantor membuka pesan singkat yang dikirim oleh Agnia. Hanya sebatas lokasi terkini Agnia berada.


"Apa maksudnya dia ingin aku kesana?" gumamnya dengan membuka lokasi di mana Agnia berada, melihat jarak mereka yang lebih dekat dengan rumahnya sendiri.


"Ini kan dekat sekali dengan rumahnya sendiri, jadi dia tidak mungkin kabur lagi."


Zian sendiri belum tahu jika Agnia dan Dave sudah berbaikan, dia belum bertemu dengan Agnia, ditambah gadis itu tidak sekolah dengan alasan kepentingan keluarga.


"Tuan ... rapat mengenai perkembangan perusahaan yang baru akan segera di mulai!" Kim masuk kedalam ruangan seperti biasanya.


"Bisa kau atur lagi waktunya Kim? Aku harus segera pergi kesuatu tempat."

__ADS_1


"Apa itu lebih penting?" Kim mulai menatapnya tajam.


"Berkaitan dengan Nia, itu sangat penting untukku Kim!"


Kim hanya bisa menghela nafas, "Setidaknya, alasanmu harus lebih kuat Bos! Kalau hanya pergi pacaran saja dan mengabaikan pekerjaan, itu tidak akan bagus untuk karier mu!"


"Ayolah Kim ... kau bisa mengurusnya! Aku tahu itu." Zian membereskan berkas yang masih berantakan diatas meja, dia beranjak dari duduknya lalu memasangkan jas yang tersampir di kursi.


Kim mendekatinya, membenarkan posisi kerah Zian yang terselip berantakan. Tangannya terulur dengan cekatan di kerah kemeja pria yang sudah seperti keluarganya itu.


"Kakek bisa marah jika tahu aku terlalu longgar padamu!" ujarnya pelan dengan menepuk nepuk kedua bahu Zian.


"Ah ...ayolah Kim, umurku saja sudah kepala tiga! Kakek juga sudah tidak akan marah padamu atau padaku, dia sudah senang dan bahagia di surga bersama anak anaknya!" Giliran Zian memegang kedua bahu Kim, "Sudah saatnya kita yang mencari kebahagian kita Kim, aku harap kau juga begitu, temukan pria baik dan segera menikahlah, atau kerutan di wajahmu akan semakin terlihat." tambahnya lagi lalu berjalan ke arah pintu.


Kim membalikkan tubuhnya dengan mata menyalang, "Kalau aku sudah menemukannya! Aku pasti akan meninggalkanmu, dasar nakal."


Zian membuka pintu, lalu tergelak "Kalau begitu, temukan dia dan aku akan memberikannya hadiah!"


Zian keluar dan menutup pintu, dengan Kim yang tentu saja kesal mendengar ucapan nya, memangnya mudah mencari pria yang bisa menghadapi Kim yang keras dan disiplin, juga perfeksionis akut, selalu ingin semuanya berjalan sempurna sesuai keinginannya.


Zian melajukan mobil mengikuti maps yang sesuai dengan lokasi yang dikirim Agnia. Tidak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di titik lokasi tersebut. Zian mengernyit melihat bangunan apartemen sederhana, lebih cocok dikatakan rumah susun itu. Dan keresahan mulai menjalari hati dan fikirannya.


Zian turun dari mobil dan langsung masuk, dan masih mengikuti arahan dari maps itu.


Dan tiba di sebuah pintu berwarna coklat.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen, rate 5 juga gift atau vote. wkwkkw makasih ya, semuanya dengan dukungan yang wow luar biasa. lope lope buat kalian❤️

__ADS_1


__ADS_2