
"Kau gila? Maksudku ... aku!"
"Kenapa? Kau takut?" goda Zian lagi, entah kenapa makin sering dia menggoda makin menggemaskan wajah Agnia.
"Tidak siapa takut?" Agnia berkacak pinggang,
"Wah ... wah kau menantangku rupanya!" Zian merengkuh bahu Agnia, dengan sedikit tarikan, hingga menabrak dada bidangnya.
"Ayo buktikan kalau kau memang tidak takut!"
Agnia menelan saliva, Gue gak takut ... tapi gue takut banget.
Zian menarik tubuhnya hingga jarak mereka semakin dekat, desiran desiran aneh muncul saat kulit mereka saling bersentuhan, Zian menyambar bibir Agnia dengan lembut, dengan tangan yang menyusup dicelah lehernya, sementara satu tangan mendekap pinggangnya erat.
Agnia memegang ujung kaos yang dikenakan Zian, dengan kedua mata terpejam saat pria yang kini jadi suaminya menyusupkan tangan dibalik punggungnya, menyisirnya naik turun dengan perlahan.
Zian tidak berhenti sampai sana, dia melepaskan kaitan b ra berukuran 36B itu, dan perlahan tangannya menyusup masuk, sensasi berbeda yang baru dia rasakan saat tangannya bergerak kesana kemari dengan bergantian, me re mas dua benda bulat yang masih sangat kencang, tentu saja karena tidak ada yang pernah memegangnya.
Agnia semakin mendongkak, sentuhan lembut yang baru dia rasakan seumur hidupnya, dsn memberikan sensasi menggelitik dan juga membuat buku buku halus di kulitnya meremang.
"Sssshhhh ...." Suara ******* tertahan, saat bibir Zian turun menyusuri leher putih Agnia, dan mengecupnya berkali kali, hingga ke area cuping telinga yang membuatnya semakin menegang.
Gelanyar aneh kian menyeruak, Zian melepaskan resleting mini dress yang dikenakan Agnia, hingga hanya menyisakan pakaian dalam, Agnia kian merapatkan tubuhnya, dia merasa malu saat kedua mata Zian terpaku padanya, dengan tangan yang terus bergerak lembut.
"Aggkkhh ... Baby!" gumam Zian dengan sedikit memberikan gigitan pada cuping telinganya.
Dengan satu tarikan nafas, Zian menggendong sang istri dan membawanya ke ranjang, menarik selimut dan sama sama tenggelam didalamnya.
Dengan dada yang turun naik menahan desir demi desir, Agnia menatap wajah Zian yang berada di atasnya, begitu pun dengan Zian. Gadis itu menggelengkan kepalanya perlahan, rasa takut, rasa keingintahuan dan penasaran bercampur menjadi satu.
"Kau takut?!" tanyanya dengan suara serak. Agnia mengangguk pelan, "Tidak usah takut, aku akan melakukannya dengan pelan." Ujarnya lagi.
Kini Agnia berada di atas Kungkungan pria yang mulai kehilangan akalnya, dia menyentuhnya dengan sangat lembut, membuat Agnia terbuai dan semakin penasaran.
"Katakan kau juga menginginkannya?" Ucapnya dengan tangan terus menyusuri kulit mulus Agnia, bermain main di dua benda kenyal milik nya lalu turun dan semakin turun hingga berhenti di pusat area sensitifnya.
Gadis itu melenguh panjang, dengan kepala yang sedikit berdenyut, seolah menunggu gerakan selanjutnya dari tangan Zian yang justru berhenti bergerak.
"Katakan! Apa kau menginginkannya?" tanyanya lagi dengan tersenyum.
Sial ... kenapa harus bertanya? Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Aku tidak akan melakukannya jika kamu tidak menginginkannya." ujarnya lagi dengan suara semakin berat.
Agnia tidak menjawab, suaranya seolah tercekat, dia menginginkannya, namun dia benar benar malu.
Zian masih berhenti, dengan tidak melepas pandangan nya, menunggu persetujuan dari gadis yang dia cintai kemudian baru akan bergerak.
"Hem?"
"Aa___"
Tangan itu perlahan sengaja kembali bergerak dengan lembut dibalik kain tipis yang menutupi nya,
"Katakan Nia!"
Gadis itu hanya mengangguk dengan rona merah dikedua pipinya lalu menelengkup menyembunyikan wajahnya pada dada Zian, pria itu mengulas senyuman, tak menunggu waktu lama, kedua tangannya bergerak dengan lincah, memberikan semua kelembutan untuk gadis yang baru melakukannya untuk pertama kalinya.
"Tapi pelan pelan kan Om?"
Om ... lagi? Ah terserah lah, aku tidak peduli untuk saat ini. Zian membatin.
Dia melucuti kain terakhir yang masih terpasang pada tubuh Agnia, tak lupa juga dia melepaskan pakaian yang dikenakannya.
Tok
Tok
"Kak Nia? Boleh Aya masuk?"
Gadis kecil itu menggedor pintu dengan kencang, membuat konsentrasi Zian terganggu, begitu juga Agnia yang menatapnya lalu menatap ke arah pintu.
"Abaikan saja!" Zian semakin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya juga tubuh istrinya.
"Tapi ... Aya pasti akan terus disitu sampai pintu terbuka."
"Tidak ... biarkan saja! Nanti juga dia bosan dan pergi dari sini." Jawab Zian menyusupkan kepala dibawah selimut.
Bak seorang bayi, dia mengecap manisnya benda yang kian membusung padat. Membuat Agnia berkali-kali tersentak dengan lenguhan memabukkan.
"Kak Nia!!! Buka pintunya ..."
"Kak Nia ... Om Zian, lama banget! Kalian sedang apa didalam?" teriaknya lagi dengan terus mengetuk keras, bahkan dia menggedor dengan menggunakan sandal Zian yang dipakainya sedari tadi.
__ADS_1
"Kak Nia!!" Suaranya semakin serak menahan tangisan. "Buka ... Aya mau kasih sesuatu buat kak Nia."
Agnia menahan kepala Zian bergerak turun dan bermain main di perut rata miliknya, rasa menggelitik yang kian membuatnya pusing.
"Om ... Aya kayaknya mau nangis!"
"Ayaaa!!!" Teriak Zian menyibak selimut yang menutupi kepalanya.
Kegiatannya terganggu karena ulah gadis kecil yang tidak pengertian itu, dia mengganggu seenaknya.
Agnia menarik selimut untuk menutupi bagian tubuhnya yang polos, dia terkekeh menatap Zian yang tampak kesal.
Zian turun dari ranjang dan menyambar pakaiannya yang teronggok sembarangan dilantai, memakainya lalu berjalan ke arah pintu.
"Heh ... gila aja! Nia masih belum pakai baju ini?" Ucap Agnia polos.
Tangan Zian yang sudah berada di handle pintu terhenti, dia membalikkan tubuhnya menghadap sang istri.
"Maaf ... aku lupa!"
Dia mengambil mini dress milik Agnia, lalu memberikannya, Namun Agnia justru berlari ke arah kamar mandi dengan balutan selimut, Zian menggelengkan kepalanya, "Hati hati terjatuh Nia?"
Setelah memastikan Agnia menutup pintu kamar mandi, Zian membuka pintu kamarnya dan mendapati Aya tengah duduk memeluk boneka.
"Mana ibumu?"
Aya mendongkak, lalu telunjuknya menunjuk kearah bawah, sebagai jawaban dari pertanyaan Zian tanpa mengeluarkan suara.
"Kak Aya mana?" Aya menyembulkan kepalanya melihat kearah kamar. Namun Zian yang tengah kesal justru menutup pintu.
"Masih berani bertanya, setelah menggagalkan usahaku!"
Aya mengernyit tidak mengerti, hanya terdengar suara tawa Dave yang berasal dari ruang tamu, Zian semakin berang, merasa tawa Dave karena menertawakannya.
Pintu kamar di belakangnya terbuka, Agnia muncul dan melihat Aya, lalu bergantian menatap Zian dengan malu.
"Kak Nia! Lama banget sih! Lagi apa?"
Agnia menggaruk kepalanya, "Tadi kak Nia la__"
Zian berbalik, dia mendengus pelan, "Bukan urusanmu! Sudah sana ... temui ibumu!"
__ADS_1