
"Pantas saja, kelakuan mu sama seperti ibumu Laras. Tukang cari masalah dan gara-gara dengan orang lain!"
Agnia terhenyak, keluarga Vina dapat menilai hal itu dari mana, "Apa maksud tante?"
"Tante mengenal Mami aku?"
Ibu Vina berdecih, "Siapa yang tidak kenal dengan ibumu Laras, si tukang main serong!"
Deg
Sebagai seorang anak, hati Agnia merasa perih, saat ada yang berbicara buruk tentang keluarganya, terlebih jika membicarakan hal tersebut di depan umum.
"Maaf Tante, jaga omongan tante! Itu sudah masuk dalam kasus pencemaran nama baik!"
Ibu Vina menggerakkan jari telunjuk ke kiri dan ke kanan, " No ... Saya bicara kenyataan!"
"Mi ...!" sang suami menepuk lengannya, "Kita bicarakan saja tentang anak kita Vina!"
Ibu Vina mendengus kasar, kedua bola matanya menajam ke arah suaminya lalu beralih pada Agnia.
Adam menghampirinya, "Lebih baik kita pergi dari sini Nia!" namun Agnia mengabaikannya, hingga Ayah Vina bertanya padanya,
"Apa benar kamu yang ada di dalam video itu?" tanya Ayah Vina.
Agnia mengangguk, "Benar! Itu aku." ucapnya dengan datar.
"Hey dengar yah, Vina tidak mungkin sebrutal itu jika tidak ada pemicu! Dia anak manis dan juga lugu, tidak mungkin bersikap arogan seperti itu, apalagi tiba-tiba menyerangmu!" ungkap Ibu Vina dengan berapi-api.
"Tapi itu kenyataannya Tante!"
"Lagi pula, kejadiannya di samping rumah Tante, apa Tante dan Om sudah periksa CCTV?" sambung Agnia lagi.
"Lalu untuk apa kamu datang malam-malam menemui anak Tante! Pasti kamu yang menyerangnya duluan."
Agnia memejamkan mata sejenak, percuma rasanya membela diri, jika orang tua Vina tidak tahu sikap anaknya di luar rumah.
"Apa kamu terluka parah? Adikku memukulmu dengan brutal, tapi kenapa kamu tidak melawannya sedikitpun? Hem." ujar kakak Vina.
Jelas gue gak ngelawan karena butuh video itu, kalau gue lawan, si Vina sendiri yang babak belur. Terus gue nanti kena masalah lebih gede lagi, apalagi keluarga Vina ini sarkas semua, keputusanku ternyata tepat, untuk membiarkan Vina menghajarku, tanpa aku melawannya.
Sopian yang melihat Agnia ter-intimidasi pun menghampiri mereka.
"Maaf Ibu dan Ayah Vina, alangkah baiknya kita melihat kondisi Vina terlebih dahulu, dan masalah ini kita bicarakan secara kekeluargaan."
Astaga, kekeluargaan ... berarti pak Sopian akan memanggil Mami.
__ADS_1
"Tapi ini tidak bisa dibiarkan! Keluarga nya saja berantakan, bagaimana Laras dan Dave akan mengurus masalah ini."
"Biar ini akan menjadi urusan saya!"
Semua menoleh pada sumber suara, sosok wanita dengan pandangan tajam berjalan mendekat.
"Sekretaris Kim!" gumam Agnia.
Ibu Vina membulatkan mata, menatap Kim dari atas sampai bawah,
"Anda siapa?"
Sekretaris Kim tersenyum ramah, "Perkenalkan saya Kim, untuk saat ini menjadi wali dari Agnia, apapun yang ingin Anda bicarakan, bicaralah pada saya! Agnia masih belum bisa memberi mengambil keputusan perihal dirinya sendiri. Ini kartu nama saya, kapanpun Anda membutuhkan, jangan sungkan menghubungi saya! Ayo Nia, kita pulang!" ujarnya dengan menarik lembut tangan Agnia.
"Heh ... aku belum selesai dengannya!" seru Ibu Vina.
"Apa Om dan Tante akan melaporkan hal ini pada polisi?" tanya Adam,
Keduanya saling pandang, tidak mungkin mereka melaporkannya kepolisian, jelas terlihat dari video, jika anak mereka lah yang menyerangnya, serta melakukan perundungan.
Mereka melengos masuk ke dalam ruangan, untuk melihat putri mereka, meninggalkan Adam dan 2 teman lainnya.
Sementara Kim dan Agnia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan pergi sebelum menemui Vina. Kim terlihat datar dengan wajah serius, sementara Agnia masih belum percaya jika Kim menemukan nya di sini.
"Sekretaris Kim, sedang apa di sini?"
"Salah satu nya iya, memangnya ada apa?"
"Bos Zian dilarikan ke rumah sakit! Dia bilang kau pergi sebentar."
"Sakit? Perasaan tadi pagi baik-baik saja!"
"Tapi nyatanya dia harus dilarikan ke rumah sakit ini Nia!"
Kalau ke rumah sakit, kenapa telepon gue? Emangnya gue dokter?
.
.
Sekretaris Kim membawa Agnia ke ruangan dimana Zian berada, ruangan VVIP di rumah sakit itu berada di lantai 4, tentu saja lantai 4 dirumah sakit ini hanya untuk kalangan atas saja, dan dilengkapi dengan fasilitas mewah.
Agnia sendiri sampai terperangah, saat memasuki ruangan Zian dirawat. Walaupun dirinya tidak aneh dengan kemewahan, namun Agnia tidak pernah masuk ke rumah sakit dengan pelayanan paling wow.
"Rumah sakit tapi berasa di hotel." gumamnya.
__ADS_1
"Masuklah, Bos Zian masih di periksa dokter!"
Agnia mengangguk, dia mendaratkan pantatnya di sofa, dengan iris mata yang bergerak kesana kemari.
Setelah dokter keluar dan berbicara sebentar dengan sekretaris Kim, Agnia menghampiri ranjang di mana Zian tergolek lemah, dengan Kedua mata nya yang terpejam.
Agnia menarik kursi, untuk dia duduki, lalu menatap wajah Zian yang tengah terlelap untuk beberapa saat, lalu sekretaris Kim yang baru saja bicara dengan dokter itu menghampirinya,
"Nia, aku akan pergi mengambil pakaian Zian, kamu tungguin dia disini ya! Tunggu aku, aku akan secepatnya kembali.
Sekretaris Kim akhirnya pergi ke rumah Zian untuk mengambil perlengkapan yang di butuhkan. Melihat Zian yang tengah tertidur, Agnia pun ikut memejamkan matanya dengan posisi menelengkup di tepi ranjang.
.
Zian membuka matanya perlahan, dan melihat Agnia yang tertidur dengan posisi yang dipastikan tidak nyaman.
"Dasar gadis liar! Sekuat apa kamu ini Nia! Dengan masalah hidup yang silih bergantian datang, tapi kamu selalu terlihat kuat." gumamnya.
Karena dirasa sakitnya berkurang, Zian turun dari ranjang, lalu berjalan ke arah sebaliknya dan menggendong Agnia, dia membaringkannya di ranjang pasien, sementara dia duduk di kursi dimana Agnia duduk sebelumnya.
"Dasar nakal, liar, pembangkang, keras kepala," gumam Zian menatap Agnia, lalu membenarkan anak rambut di dahinya.
"Kamu pemberani Nia, aku salut padamu!"
Waktu terus berputar, dan malam tengah merajai, menggantikan cahaya terang, dan mewarnai langit dengan bintang berkelip. Gadis kecil itu menggeliat dibawah selimut, merasai lelap tanpa dia sadar, ada seseorang yang tidak dapat memejamkan matanya.
Zian mencoba untuk tidur, namun dia tetap tidak bisa, hingga saat Kim datang untuk mengantarkan perlengkapan yang dibutuhkan olehnya.
"Kenapa tidak istirahat?" tanyanya heran, lalu melirik Agnia yang sudah menguasai ranjang pasien. "Pantas saja! Mau aku siapkan extra bed?"
Zian yang tengah terbaring di sofa dengan kaki yang menggantung itu mendengus, "Kau fikir ini hotel?"
Kim menarik tipis bibirnya, "Siapa tahu kau membutuhkannya."
"Bagaimana? Kau sudah tahu semuanya?"
Kim pun menceritakannya, juga memperlihatkan video yang semakin ramai di media sosial, membuat Zian tersenyum lebar,
"Dia mempesonakan bos? Di usia yang terbilang masih labil ini, dia justru membuat perlindungan diri yang kokoh. Dan aku melihatnya sendiri, saat aku datang ke tempat yang kau tunjukan tadi, dia sedang berdiri sendiri melawan 3 orang dewasa yang meng-intimidasinya!"
Zian melemparkan ponsel Kim ke sofa,
"Masih jauh mempesona kekasihku!"
Kim berseringai, "Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, Iyan akan kemari nanti!"
__ADS_1
Sekretaris Kim pun melangkah keluar dari ruangan itu, dan Zian menatap langit-langit.
"Harusnya aku yang menghampirinya tadi! Tapi dokter sialan itu justru membawaku pergi."