
POV Frans.
Frans seperti biasanya teman atau keluarga memanggilku maupun di lingkungan pekerjaan.
gue adalah laki-laki serta calon suami impian tapi sayang belum ada sampai sekarang gue menemui perempuan sesuai dengan kriteria gue yang bisa dijadikan sebagai calon istri serta calon ibu untuk anak-anak gue.
gue juga terkenal sebagai pengusaha muda berbakat dan berprestasi tapi semua itu gue dapat bukan dengan hal mudah ataupun dengan hal instan. semua itu kau dapatkan dengan penuh perjuangan dan kerja keras.
Bisa dengan memanggil tuan Frans atau pak Frans atau tuan muda Frans. Mereka akan memanggil gue dengan panggilan yang berbeda-beda tergantung niat dan tujuannya.
Gue memiliki sahabat yang bernama Farid yang sudah saling kenal sejak kecil dan sudah saling mengetahui sifat kami luar dalam satu sama lain, tapi bukan berarti tahu dia pakai dalaman apa ya.
Saja dulu hanya Farid lah sahabat gue dari dulu hingga sekarang yang paling mengerti gue.
Farid juga yang menjadi asisten sekaligus orang kepercayaan gue di kantor yang mana perusahaan ini gue bangun dengan jerih payah sendiri.
Bukan berasal dari keluarga yang kurang mampu hanya saja gue ingin menikmati uang dari hasil jerih payah sendiri. Orang tuaku memiliki perusahaan yang hampir sama besar dengan gue tapi gue nggak pernah mengandalkan harta orang tua untuk bergaya laki-laki akan dihargai saat dia memiliki harta sendiri dan tidak bertumpu pada harta orang tua.
Sejak dulu pun gue tidak ada memiliki kekasih ah dulu gue pernah menyukai seseorang tapi sayang kami belum sempat menjalin hubungan perempuan itu sudah memilih jalannya sendiri dan sampai sekarang gue belum pernah dekat lagi dengan perempuan, hanya saja banyak perempuan yang tergila-gila sama gue apalagi dengan ketampanan serta kekayaan yang gue miliki.
"Gue ingin memiliki pasangan yang menerima gue bukan karena ketampanan atau kekayaan tapi dari hati yang mana hati dia sendiri yang memilih dan tidak peduli siapa gue dan apa status gue,"
Tapi apa iya pada zaman sekarang masih bisa menemukan gadis yang seperti itu karena pada umumnya tanpa harta laki-laki itu tidak berharga.
Memang itu bukan rahasia lagi dan gue akui tanpa harta kita bisa apa tapi jangan jadi patokan harta untuk menyukai seseorang karena saat harta itu habis habis juga lah rasa suka yang dimiliki.
"Dan entah kenapa akhir-akhir ini saat gue bertemu gadis yang menurut gue seperti ulat cabe itu yang malah menari-nari di pikiran gue dan juga sifat dia sangat berbanding terbalik dengan gue dan dia juga jauh dari kata anggun serta lemah lembut sebagai seorang perempuan," gue juga bingung kok ada ya perempuan seperti dia di muka bumi ini.
Nama dia cukup bagus tapi sayang kelakuannya minus dan gue berharap tidak pernah bertemu lagi dengan gadis seperti dia.
Karena jika bertemu yang ada hanya kesialan yang gue dapatkan dan juga darah tinggi yang seketika naik saat baru saja melihat wajahnya.
"Hallo ma,"
Jika mama sudah menelpon maka pertanyaannya tidak akan jauh-jauh dari "kapan mama dikenalkan sama calon menantu?" Bukan masalah kapan ya hanya saja menemukan yang cocok dan bisa menerima apa adanya itu sangat sulit di zaman sekarang.
"Semua itu tidak mudah dan juga apa mama mau memiliki menantu dia hanya tahu foya-foya, jika mama mau saat ini juga bisa Aku bawakan,"
__ADS_1
Nah kan mama langsung ngomel-ngomel mendengar ucapanku karena apa Mama tidak suka jenis telah menantu seperti itu yang hanya bisa menghabiskan uang suaminya tanpa tahu tugas serta kewajiban sebagai seorang istri.
"Jika saatnya sudah tiba aku pasti akan membawa calon menantu idaman untuk mama tapi memang membutuhkan sedikit waktu untuk menemukan yang tepat, jadi Mama sabar ya,"
Gue juga tidak ingin memberikan menantu untuk mama yang bisa saja saat di belakang gue dia malah seperti menantu durhaka yang menyakiti mertuanya.
Jika jelek dikata pun tidak apa dia menyakiti gue asal bukan cinta pertama gue.
Mama segalanya bagi gue dan gue akan memberikan yang terbaik untuk mama termasuk seorang menantu.
Pertemuan kami nggak ada yang berkesan sama sekali.
Gue juga di buat kesal tiap kali bertemu tapi dia dengan lancang masuk ke dalam fikiran gue.
Gue benci keadaan seperti ini! Gue lebih suka kehidupan sebelumnya yang mana gue tidak perlu memikirkan seorang perempuan hingga membuatku kesal seperti ini.
"Benar-benar itu gadis pengen gue mutasi ke luar negeri biar nggak mengganggu pikiranku lagi," sungguh gue merasa nggak nyaman dan gue nggak suka kondisi yang seperti ini.
Gue lebih suka sibuk memikirkan pekerjaan daripada memikirkan gadis yang gak jelas seperti dia tapi entah kenapa bayangan dia sulit gue halau dari pikiran gue.
"Apa jangan-jangan gue dipelet ya hingga gue kepikiran dia terus, ah iya bener itu pasti gue digunakan sama itu gadis," gue yakin seratus persen jika dia telah melakukan sesuatu sama gue hingga gue bisa terus memikirkan dia.
Belum lagi warnanya email yang masuk yang harus gue baca dan gue balas satu persatu. Awas kamu gadis akan gue kasih pelajaran satu pertemuan nanti seenaknya saja loh menerobos masuk tanpa permisi dan mengganggu konsentrasi gue.
Hingga dua jam lamanya aku fokus di depan laptop dan itu membuat pikiran gue sedikit tenang karena tanpa memikirkan dia pikiranku lebih plong rasanya.
Keesokan harinya.
"Kenapa tuh wajah kusut kayak pantat ayam?" Sahabat nggak ada akhlaknya seperti ini ngomong apakah filter.
Apa nggak ada perbandingan yang lebih baik gitu dari pantat ayam.
Perlu dipotong gaji kayaknya.
"Lu tahu kan jika gue marah bagaimana? Tinggal pilih saja mau potong gaji atau potong umur!" Gue berjalan masuk ke dalam ruangan karena kami bertemu saat mau menuju ke lift.
Beruntung nggak ada yang mendengar ucapan dia jika tidak maka nilai rebus arogan di kantor akan musnah begitu saja sebab mendengar ocehan Farid yang nggak guna itu.
__ADS_1
Farid mengikuti gue memasuki ruangan gue sendiri dan langsung duduk di kursi yang berada di depan meja lalu.
"Tampang kusut ini pasti kurang tidur karena memikirkan gadis itu kan! Gue tahu walaupun nggak di situ bukan masuk ke dalam kriteria loh tapi percayalah bukankah yang bertolakbelakang dengan sifat kita itu akan membuat sebuah hubungan akan jauh lebih berwarna," tahu apa jomblo karatan ini! Bukankah kita sama saja berdua nggak pernah pacaran dari dulu jadi tahu apa dia tentang sebuah hubungan?.
Kayak sudah berpengalaman saja dia.
Nggak sadar apa status jomblonya itu lebih awet dari salju abadi di puncak gunung Himalaya.
"Jomblo karatan seperti lo itu tahu apa? Mending kurus tuh gadis yang kata lo sukai itu. Sudah jelas mereka berdua itu nggak jelas masih saja lo bisa suka sama dia kayak nggak ada yang lain aja," seandainya pun di dunia ini hanya dia seorang gadis yang tinggal mungkin gue akan lebih memilih menjadi jomblo daripada harus memiliki pasangan nggak jelas seperti dia.
Karena hidup sendiri itu lebih enak daripada bersama dia yang ada hanya darah tinggi setiap hari.
Gue masih ingin hidup lama dan menikmati hidup.
"Susah ngomong sama lu tahu dan sifat mereka itu merupakan sesuatu hiburan yang akan membuat hubungan akan lebih berwarna, jangan lihat sesuatu dari sisi negatifnya tapi lihat juga dari sisi positifnya," sudah pintar ngomong dia seperti lagi merayu investor saja.
Lagian masih banyak di luar sana gadis yang berkelas yang tentu sesuai dengan kriteria gue.
Gue itu sukanya garis yang sopan termasuk dari cara berucap.
"Bodo amat apa kata lu yang jelas gue nggak bakal pernah suka sama tu orang dan dalam mimpi pun gua nggak akan pernah melakukan hal bodoh itu," gila saja gila gue sampai menyukai dia yang ada hidup gue bakalan kacau karena memiliki pasangan yang gak jelas seperti dia.
Jika masih banyak pilihan di luar sana mengapa harus dia yang disukai walaupun dia sudah lancang memasuki pikiran gue tapi percayalah gue bakalan berpikir seribu kali untuk memikirkan dia menjadi pasangan gue apalagi ini seumur hidup.
Gue masih ingin waras disisa hidup gue dan menikmati hidup bahagia bersama keluarga kecil gue tapi bukan dia orangnya.
Jelas memiliki pasangan seperti dia maka akan menjadi apa rumah tangga kami dan akan seperti apa anda pikirlah jika memiliki seorang ibu yang sifatnya jauh dari kata normal.
POV Frans end.
Walaupun kenyataannya semua sifat jelek yang dibilang Frans bukanlah yang sebenarnya tentang indah tapi percayalah kesan pertama mereka bertemu sudah meninggalkan kesan jelek di mata masing-masing.
benar kata Farid bahwa bahwa menilai seorang itu tidak boleh dari satu sisi saja.
jika kita menilai dari sisi negatifnya maka hanya hal buruk yang kita dapatkan begitu juga jika kita menyukai dari hal positifnya maka hal baik yang kita dapatkan.
sama seperti kita yang tidak menyukai seseorang dan bagaimanapun seseorang menceritakan kebaikan orang itu jika pada dasarnya mereka tidak suka maka mereka akan tetap memilih jadi pembenci daripada lalu kepikiran dan mencerna bahwa tidak semua orang memiliki sifat jelek dan tidak semua orang juga memiliki sifat baik, segala sesuatu itu pasti seimbang.
__ADS_1
Bersambung,,😘