
"Tidak bisa! Sudah kuputuskan untuk menyewamu lebih lama."
Agnia terhenyak mendengarnya, dia menutup pintu dengan keras, "Kau fikir aku apa hah? Dasar Om-om gila, me sum, tua!! Seenaknya saja pada orang." ucapnya dengan suara lantang dengan kedua tangan yang berkacak pinggang.
Membuat Zian semakin murka, dia berjalan kembali naik ke atas dan menghampiri Agnia.
Kedua tangannya mencengkeram kedua pipinya, "Dengar gadis liar, kau tidak tahu apa-apa tentang pria gila, me sum dan tua ini! Aku bisa melakukan apa yang aku mau padamu, jika kau tidak menurut padaku, dasar anak kecil!"
Kedua netra mereka saling memancar, menyorot dengan sama-sama tajam, tidak ada ketakutan dari Agnia, membuat Zian semakin mencengkeram kuat.
Kilatan kedua netra saling beradu, keduanya tidak ada yang mau mengalah.
"Lepaskan! Dasar pria tua ... kau bisa bersikap jahat dan galak pada orang yang kau bilang anak kecil ini, tapi kau tidak berkutik didepan pacarmu itu! Menyedihkan...." tukas Agnia yang berhasil menepiskan tangan Zian, walaupun dengan susah payah, lalu mendorong dadanya. Agnia berlari dan kembali masuk ke kamar, dengan cepat dia mengambil 2 tas yang berisi baju dan buku-buku sekolah miliknya. Setelah itu barulah dia kembali ke luar, dan menutup pintu dengan keras.
"Gadis yang kau bilang anak kecil ini akan pergi dari sini! Dan jangan sampai kita bertemu lagi Om...." ujarnya saat melewati Zian yang kini duduk di satu sofa single.
Dia sendiri terpaku ditempatnya dengan tatapan ke arah Agnia, lalu dengan sekali gerakan Zian mengangkat tubuh Agnia yang ringan itu, dan memanggulnya bak sekarung pasir.
"Hei ... dasar bangkotan! Turunin ... gue mau dibawa kemana!" teriak Agnia dengan kedua kaki yang meronta, serta tangan yang sibuk memukul bahkan menjambak rambut belakang Zian.
"Heh ... turunin gue, lo bisa gue laporin ke komnas perlindungan anak! Zian ... turunkan gue!" Serunya kembali.
Namun Zian tetap membawa tubuh Agnia yang terlihat seperti bantal guling baginya ke area belakang.
"Kau panggil aku hanya nama? Benar-benar tidak sopan!"
Sialan, dia bawa gue ke belakang? Apa dia mau kurung gue di gudang? Atau digantung di pohon mangga.
"Ziandra Maheswaraaaaa ... pria tua, me sum turunkan gue sialan!"
"Kau bilang seperti itu lagi? Kau memang harus aku beri pelajaran, tidak punya sopan santun, tidak punya tata krama, liar sekali!" Tukas Zian yang terus berjalan tanpa peduli Agnia terus meronta.
Pintu yang menuju area belakang dia buka dengan satu tangan, lalu dia membawa Agnia keluar, suasana hening dan desir angin malam mulai terasa, dan menuju ke kolam renang.
Haa ... dia mau membawa ku kemana, gudang sudah dilewati, apa jangan-jangan dia mau ceburin gue ke kolam renang.
"Namamu memang Ziandra kan? Cepat turunin gue!"
"Oke ... aku akan menurunkanmu! Tapi kau harus mengikuti perkataanku." ujar Zian menghentikan langkahnya.
"Oke ... oke, terserah!? Dasar pria tua!" gerutunya.
Zian menurunkan tubuh Agnia, begitu saja, membuat Agnia yang tidak siap dengan tubuhnya itu limbung dengan sendirinya, hingga dia hampir terjatuh ke kolam renang,
__ADS_1
"Aaaaagghhh...." pekiknya.
Zian dengan cepat melangkah maju hendak menangkap tangan Agnia, namun dirinya malah tersandung pinggiran kolam hingga terhuyung dsn mmbuat tubuhnya ikut limbung dan menabrak tubuh Agnia.
Byurrrrr
Mereka berdua jatuh ke kolam renang yang kedalamannya 2 meter, dengan suhu air kolam yang sangat dingin.
Agnia berusaha menggapai Zian untuk berpegangan, karena dalamnya air sebatas hidungnya.
"Dasar tua bangka, banyak gaya! Nia sudah bilang turunkan dari tadi. Kecebur kan jadinya."ujarnya dengan perpegangan pada lengan Zian.
Zian menarik pinggangnya yang ramping dengan satu tarikan, membuat tubuhnya kian merapat, "Jangan cerewet!"
Deg
Saat keduanya kini berhadapan dengan tubuh yang merapat tanpa jarak. Zian menatap wajah Agnia yang basah, rambut panjangnya yang di ikat di atas membuat leher jenjangnya terlihat sempurna, terutama saat air kolam menetes hingga ke ceruk leher Agnia yang putih, serta bibir mungil yang mulai bergemetar karena kedinginan.
"Kau kedinginan?" tanyanya lembut.
Membuat Agnia yang berpegangan pada bahu kekar milik Zian itu menggelengkan kepalanya namun dengan cepat mengangguk, membuat Zian menarik sudut bibirnya.
Kedua netra saling menatap, menelisik kedalaman keduanya tanpa berkedip sedikitpun.
Batin Agnia.
"Apa yang kau fikirkan gadis liar?" gumam Zian.
"Mikirin bagaimana bisa ada pria sudah tua tapi tetap bodoh!" sentaknya.
"Kau berani berkata seperti itu padaku? Kau fikir kau siapa? Hem ...."
"Gue Agnia, dan gue emang berani! Bener kan Om itu bodoh!" ujarnya dengan sedikit memukul bahu yang keras milik Zian.
Mendengar hal itu Zian kembali menarik tubuh Agnia hingga sedikit keatas dengan kasar, namun tanpa sengaja malah menampilkan tubuh bagian depan milik Agnia yang basah. Dua gundukan dibalik kaos putih itu tercetak nyata dan jelas, seketika Zian harus menelan saliva berkali-kali. Tatapan matanya seakan menjurus ketempat yang sama walaupun dia berusaha menghindar, ditambah, dua gundukan itu kini menempel pada dada nya, dan tentu saja Agnia menyadari hal itu.
"Gue bilang juga apa, Om ini pria tua me sum!!"
Agnia segera melepaskan diri dan berenang hingga ke sisi kolam dengan susah payah, lalu naik dan meninggalkan Zian seorang diri.
"Sial ... kenapa aku berharap gadis kecil itu tidak bisa berenang!" gumam Zian dengan tangan memukul air, dan hanya melihat Agnia yang berlari masuk kedalam.
Brukkk
__ADS_1
"Awwww....!"
Agnia terpeleset hingga jatuh, karena lantai menjadi basah karena ulahnya sendiri yang berlari.
"Perasaan, gue jatoh mulu deh!" ucapnya dengan beranjak bangun.
Greppp
Agnia merasa tubuhnya melayang, sebuah tangan kekah yang dipenuhi bulu-bulu halus menempel dipinggangnya.
"Heh turunin gue! Doyan banget gendong-gendong srmbarangan." ucapnya dengan memukuli bahu.
Zian tiba-tiba menggendongnya, kali ini menggendong ala bridal style dan membawa Agnia naik ke atas.
"Turunin, gue bisa jalan sendiri!"
"Jangan berfikir macam-macam, aku menggendongmu agar tidak terjatuh lagi,"
"Modus banget!"
Zian baru menurunkan tubuh Agnia didepan pintu kamarnya, "Sudah sana bersihkan dirimu, setelah itu turun, aku akan menyiapkan makan malam."
Agnia pun masuk dan menutup pintu dengan keras, ingin sekali Zian masuk dsn langsung menerkamnya saat itu juga, namun dia bergidig setelah memikirkan otaknya yang kotor.
.
Setelah peristiwa tersandung hingga menyebabkan mereka berdua tercebur, keduanya berada dikamarnya masing-masing. Agnia hanya berganti pakaian saja, karena menurutnya mandi akan lebih lama lagi, lagi pula, dia baru saja basah, jadi tidak perlu basah lagi.
Sedangkan Zian, dia masuk kedalam kamar mandi, dan mengguyur kepalanya di bawah shower, menikmati air hangat yang mengalir membasahi tubuhnya.
Fikirannya melanglang buana, mengingat sosok Agnia dengan baju yang basah, dan kedua gundukan yang dia lihat, Zian hanya mampu menelan saliva, bohong jika dia tidak terpancing, jiwa petualangnya kembali membara.
"Gila ... mana mungkin aku bisa lebih tertarik pada gadis kecil itu!" gumamnya dengan memejamkan kedua mata.
Tidak ... tidak, Zian please jangan bodoh! Kalau kau melakukan hal gila, dan ketahuan Dita, hidupmu akan kelar.
Dia pun segera menyelesaikan ritualnya, tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi, mengambil pakaian dan memakainya, lalu keluar dari kamar.
Bertepatan dengan Agnia yang juga keluar dari kamarnya.
Keduanya kembali saling menatap, lalu Agnia membuang wajahnya ke arah lain.
"Mana makan malamnya, gue lapar!"
__ADS_1