
"Baby! Maaf yaa ... Kita lupakan saja hal ini oke baby! Yang sudah biarlah sudah."
Agnia berbalik, "Enak aja ... iya gak bisa gitu dong, coba Om Zian bilang kalau udah jelasin ke sekolahan, Nia gak akan mungkin lakuin hal itu! Gimana sih."
Zian menghela nafas, harusnya dia yang lebih marah. Bukan apa, dia tahu Agnia selalu melakukan hal nekat yang cukup berbahaya. Walaupun apa yang dilakukannya selalu berhasil, namun sekarang justru terbalik, Agnia yang justru marah padanya.
"Iya ... aku salah. Aku minta maaf, tapi please jangan lakukan hal seperti itu lagi ya."
"Makanya jangan bilang Nia itu nekad lah, ini lah itu lah! Sendirinya gimana? Gak ngomong ngomong, mentang mentang berkuasa, bisa bertindak seenaknya!"
Agnia terus mendumel, moodnya benar benar naik turun tidak karuan, dan Zian hanya bisa memasrahkan dirinya tanpa ingin lagi berdebat. Semua yang dikatakan Agnia hanya dia jawab dengan kata iya dan maaf saja.
"Iya aku salah ... sudah dong marahnya! Lagi pula yang harusnya marah itu aku ... kenapa jadi kamu yang lebih galak." Zian terkekeh kecil.
"Ya karena aku gak salah lah! Aku lakuin itu juga karena terpaksa, Cecilia sama Nita aja gak terima kok aku di gituin ... ya udah bales aja!"
Cecilia dan Nita ... lagi lagi mereka.
"Tapi jangan salahin mereka ya ... ini ideku sendiri! Mereka cuma bantuin. Awas aja kalau sampe Om ngelabrak Cecilia sama Nita!" ujarnya yang tidak berhenti tersungut kesal.
"Iya kamu gak salah ... aku yang salah! Aku tidak akan mengatakan apapun pada teman temanmu. Udah yuk masuk, udaranya dingin, nanti anak kita kedinginan." Zian membawa Agnia masuk kedalam rumah dengan mendorong kedua pundaknya.
"Ada apa?" tukas Laras yang baru saja beranjak dari duduknya.
"Ini nih ... biang keroknya, selalu bikin Nia kesel."
"Baby! Kenapa jadi mengadukan aku?"
Laras menggelengkan kepalanya, saat melihat Agnia mrnghentakkan kaki lalu naik ke atas tangga.
"Kau lihat itu Zian? Apa mentalnya sudah siap jadi seorang ibu? Dan apa kau siap menghadapi moodnya yang berubah rubah setiap hari?" tukasnya pada Zian yang masih berdiri mematung menatap punggung sang istri yang masuk ke dalam kamar.
"Tidak masalah! Kau tenang saja. Aku bukan hanya siap ... tapi aku sangat siap." ujarnya sambil berlalu.
Kim dan Dave keluar dari ruangan kerja Zian, dengan berkas yang kini berada ditangan Kim.
"Ada apa?" tanya Dave berjalan maju dan melihat Zian yang berlalu begitu saja tanpa melihat ke arahnya.
Laras hanya mengerdik, "Aku pulang dulu Dave, Kim."
Kim mengangguk, "Dave ... ini sudah malam, lebih baik kau antarkan Laras pulang."
__ADS_1
Keduanya saling menatap ke arahnya, lalu Laras dengan cepat melarangnya.
"Tidak usah ... kalau dia mengantarkanku, bagaimana denganmu?"
"Aku bisa sendiri." jawab Kim tersenyum.
"Tidak usah ... aku juga terbiasa sendiri!"
Dave terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa.
"Dave ... aku duluan ya!" Ujar Laras mengayunkan kedua kakinya keluar.
Kim menatapnya, "Kenapa tidak mengantarkan pulang?"
"Dia kan sudah bilang bisa sendiri."
Kim berjalan ke sofa dan menghempaskan beban tubuhnya. "Aku rasa Laras masih berharap padamu. Dia terlihat berbeda saat Zian bicara tentang kita Dave."
"Tidak masalah kalau pun dia tahu!" Dave duduk di sampingnya. "Aku sudah putuskan untuk berusaha padamu Kim. Kau ingat kan?"
"Aku tahu ... tapi aku merasa tidak enak padanya."
Dave menghela nafas, "Kita sudah sepakat Kim!"
"Kenapa aku harus bicara pada Laras, dia memang ibu dari anakku, tapi dia sudah bukan siapa siapa lagi di hidup ku Kim! Kau ini kenapa?"
Kim menyambar tas miliknya dan beranjak dari sofa. "Aku hanya ingin memastikan jika Laras memang tidak lagi berharap padamu Dave, kau fikir hubungan kita akan berhasil jika ada seseorang yang membutuhkan kepastian? Bicaralah padanya mengenai hubungan kita Dave."
Dave tertegun dengan kata kata terakhir yang terucap dari mulut Kim. "Itu artinya kau menerima hubungan ki---kita su---"
Kim menoleh, "Kau ingin aku berubah fikiran?"
"Tidak ... tidak ... baiklah aku akan bicara pada Laras mengenai hubungan kita, walaupun aku sudah tahu jika dia tidak berharap lagi padaku. Tapi kalau kau ingin memastikan agar hubungan kita berhasil. Baiklah ... akan aku lakukan, kalau perlu aku akan merekamnya agar kau percaya." tukas Dave dengan wajah berbinar.
Kim mengulum senyuman, melihat Dave yang kegirangan membuatnya gemas. Dia lantas mengangguk kecil. Dave menangkup wajahnya dengan kedua tangan, lalu mengecup bibirnya sekilas.
Melihat Kim tidak bereaksi dia kembali merapatkan bibirnya dan mencecapnya lembut, hingga keduanya larut dalam buaian yang semakin bergelora.
Sementara didalam kamar, Agnia menelengkup diatas ranjang, dan Zian perlahan ikut naik dan memeluknya dari belakang.
"Baby ... maaf!"
__ADS_1
Agnia terdiam, dia juga menggeserkan tubuhnya menjauh. Zian bergerak lagi mendekatinya. Dan Agnia kembali bergerak, dia menepiskan tangan Zian dari pinggangnya dan beringsut turun dengan mengambil satu bantal.
"Astaga baby... mau kemana?"
"Tidur disofa! Nia gak mau tidur diranjang."
"Kenapa? Masih kesal hem?" Zian ikut beringsut dan mengikuti istrinya menuju sofa.
"Ya gak mau aja! Kenapa harus selalu ada alasan."
"Baby ... mana bisa nyaman tidur disofa. Kasian anak kita."
"Anaknya masih sebesar kacang polong juga! Mana tahu dia nyaman gak nyaman." sungutnya.
Zian menghela nafas, dia mulai kewalahan dengan mood Nia yang sedang tidak jelas itu.
"Kau benar benar ingin tidur si sofa?"
Agnia mengangguk, dia melemparkan bantalnya ke sofa lalu duduk.
"Baiklah kalau begitu! Kalau pegal nanti pindah oke baby!"
Agnia tidak menjawabnya, dia justru menatap Zian dengan wajah muram.
Lebih baik biarkan saja dulu, biarkan sampai tidur baru nanti aku pindahkan saja. batin Zian.
Tidak ada jawaban dari istri kecilnya, dia hanya menatapnya dengan wajah yang sulit diartikan. Dan Zian hanya bisa menghela nafas panjang. "I love you baby!"
Zian berbalik, namun baru saja akan mengayunkan kaki, Agnia berdiri dan menghentakkan kakinya berkali kali. Hingga Zian kembali menoleh.
"Kenapa? Hem ...?"
Agnia terdiam, perlahan dia merentangkan kedua tangannya ke samping dengan lebar, membuat Zian mengernyit menatapnya.
"Kenapa lagi baby?"
.
.
Wkwkwkw .... Hayo lho om, katanya sangat siap! Ngalah deh mendingan ngalah aja terus. wkwk.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yamg banyak yaaa.