Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 117


__ADS_3

"Oh my God!"


Agnia terdiam saat berada di ambang pintu, lalu kembali berbalik, "Kita gak salah masuk kan Serl?"


"Ada apa sih? Enggak kok ... ini beneran kelas kita!" Jawab Serly lalu melangkah masuk, dan tidak bereaksi apa-apa, berbanding terbalik dengan Agnia yang tersentak kaget.


"Serly ... gue gak salah lihat kan?" gumamnya dibelakang Serly.


Serly kali ini yang menarik lengan Agnia agar kembali masuk, "Lo gak salah lihat! Udah ayo masuk."


"Enggak Nia, itu beneran Om lo! Dia udah ngajar disini sejak lo gak ada, dia juga yang ngasih pelajaran tambahan buat anak-anak yang terdaftar dilist."


"Lo serius? Dia ... jadi guru kelas tambahan? Gak mungkin!"


Agnia tidak menyangka sama sekali, akan melihatnya dikelas, terlebih menjadi gurunya pagi ini, apaan nih maksudnya?


"Masuklah ... kelas akan segera dimulai!"


Suara itu akhirnya terdengar, kepala yang sedari tadi tertunduk itu kini tegak ke arahnya, kedua manik tajam nan meneduhkan itu menatap Agnia yang masih berdiri, namun kakinya terasa menempel di lantai yang dia pijak, dan sangat berat untuk dilangkahkan. Hingga sebuah tarikan dilengannya, barulah dia tersadar dan bergegas duduk dibangku miliknya.


"Baik anak-anak! Seperti biasa, untuk siswa yang mengikuti pelajaran tambahan, kerjakan soal yang saya kirim di classroom kalian."


Suara bariton yang dia kenali itu terdengar tegas, wajahnya yang serius tidak menampakkan wajah yang tempo hari dia lihat.


Semua orang terlihat membuka laptop miliknya masing-masing, ataupun ponselnya. Sementara Agnia seperti anak ayam yang tertinggal induk nya, dia celingak-celinguk dan tidak tahu apa-apa.


Ini serius? Gue gak lagi mimpi kan, lihat dia lagi dan jadi guru, what the fu ck apa apaan?


"Agnia, karena kamu baru saja masuk! Saya tunggu diruang guru!" ujarnya dengan mengayunkan kaki keluar dari kelas, membuat Agnia berkali-kali tersentak.


"Sialan!! Dia gak bilang apa-apa sama gue!" gumamnya, "Lo juga Serl ... Lo gak ngomong tadi ke gue? Cecil dan Nita juga gak ngomong apa-apa! Kurang ajar!" gumamnya lagi.


"Gue kira lo udah tahu, secara dia kan om lo Nia!"


Eeh bener juga, Serly belum tahu kalau dia bukan om gue, tapi Cecilia dan juga Nita tahu! Dan mereka gak heboh kayak biasanya, ngeselin.


Agnia beranjak dari duduknya dan keluar menyusul Zian ke ruang guru, kesal. Tentu saja, kenapa harus bertemu dia disekolah. Tak lama dia sampai, mengetuk pintu lalu masuk, dan anehnya tidak ada orang lain disana, jika biasanya guru-guru berkumpul disana kali ini hanya ada Zian sendiri.


"Om sengaja ya! Kenapa sih harus kesekolah?" selorohnya tanpa basa-basi pada Zian yang tengah duduk di kursinya.


Zian mengulum senyum, "Aku sudah disini sejak kamu menghilang Nia, dan aku tetap disini sampai akhir ujian nanti sebagai guru kelas tambahan khususnya, dan alasananya kamu tahu sendiri. Bukankah kita sudah sepakat?"


"Tapi gak gini juga caranya!" tukas Agnia dengan mendaratkan bokongnya dikursi dihadapan meja Zian.

__ADS_1


"Kamu tidak bilang caranya harus bagaimana bukan?" Zian terkekeh melihat Agnia yang tengah kesal.


"Dengar ya Om, semua anak-anak disini tahu kalau Om itu wali sekaligus Om Nia, jadi jangan membuat masalah! Apalagi mereka sampai tahu kalau Om itu ....!" Agnia menggantung ucapan nya sendiri, dia melirik ke arah pintu sebentar lalu kembali menatap Zian.


"Aku itu apa? Calon suamimu?" jawab Zian dengan bibir mengembang.


"Iiihh ... pokoknya awas aja kalau bikin masalah baru!"


Zian merogoh ponsel lalu mengetikkan sesuatu didalamnya.


"Aku sudah mengirimkan kode untuk masuk classroom dan semua tugasmu ke ponselmu! Jadi kerjakan itu tanpa terlewat, kirim linknya disana, tidak usah dicatat lagi, karena aku tidak ada waktu memeriksa dan membawa buku-buku kalian." ucap Zian dengan serius.


"Iiihhh ... gue lagi ngomong masalah lain, masalah tugas, itu gampang bisa nanti!" ketusnya.


Zian kembali mengulum senyuman, "Katanya jangan nyari masalah," Zian terkekeh, melihat Agnia yang bertambah kesal saat mendengarnya, " Dan aku disini masih Om dan walimu Nia, juga calon suamimu! Jadi kamu sekarang bicara sebagai apa? Muridku ... atau calon istriku? Hem....!" kembali terkekeh.


Betapa senangnya Zian saat mengetahui Agnia akan masuk hari ini dari pak Sopian, hingga dia masuk lebih pagi dan sangat bersemangat, ditambah melihat Agnia yang menggemaskan dengan wajah kesalnya kini.


"Ihh ... nyebelin banget sih!"


"Justru aku sebaliknya, aku merindukanmu Nia! Sangat...!"


"Iih apaan sih!"


Agnia mendorong kursi kebelakang, "Ogah, periksa aja sendiri! Nia mau kembali ke kelas dan ngerjain tugas!"


Zian menarik lengannya, "Tunggu sebentar!"


Deg


Deg


Jantung Agnia berdetak lebih cepat, saat posisinya kini berhadap-hadapan dan Zian menatapnya lekat.


"Aku serius, aku merindukanmu Nia!" ujarnya dengan menariknya lembut dan memeluknya seketika.


Untuk sesaat Agnia pun terdiam, dia bahkan dapat mendengar jantung Zian berpacu dengan cepat, dan dia pun merasakan hal yang sama.


"Kita sedang disekolah!" gumamnya kemudian dengan suara berat.


"Aku tahu, tapi biarkan aku memelukmu sebentar saja! Kau tahu, aku menahannya sejak tadi melihatmu dikelas."


"Awas saja sampe ngelakuinnya di depan umum!" gumam Agnia lagi.

__ADS_1


"Jadi kalau aku ingin memelukmu, aku akan memanggilmu ke ruang guru. Supaya tidak ada yang melihat!"


Agnia mendorong dada bidang milik Zian, "Jangan ngaco!"


.


.


Gadis itu lantas keluar dari ruang guru dan kembali ke kelas dengan langkah kaki yang menghentak keras, sesekali dia menendang udara dengan kesal.


"Gimana kalau semua orang tahu! Makin aneh dia!" gumamnya sendiri, sedetik kemudian senyumannya mengembang sangat tipis, mengingat Zian memeluknya lagi.


Sementara pria berusia 34 tahun itu berdiri dikaca jendela, dia menggelengkan kepalanya, menatap punggung Agnia yang semakin menjauh.


Agnia kembali ke dalam kelas, mengambil ponsel miliknya lalu memeriksa pesan yang dikirimkan Zian mengenai tugasnya, namun kembali terperanjat saat dibawah tugasnya ada pesan lain yang hanya berupa emotion peluk dan cium.


"Dasar aneh!" ujarnya dengan kembali memasukkan ponsel.


"Eeh ... malah dimasukkin lagi, kan gue mesti ngerjain tugas!" gumamnya sendiri.


Tanpa sadar Agnia merasa tidak bisa konsentrasi dengan baik, pikirannya terpecah- pecah tanpa dia bisa mengontrolnya.


"Nia ... Nia ... Om lo marah ya?" tanya Serly.


"Enggak, kok! Dia baru ngasih tugas ke gue!" kilahnya.


"Terus ngapain lo ngelamun?"


"Eeeh siapa juga yang ngelamun, orang gue lagi mikir!" kilahnya lagi, lalu kembali mengerjakan tugas miliknya.


Gimana gue mau konsentrasi, kalau disekolah ada dia? Yang ada malah kacau gini fikiran gue!


.


.


.


...Nah gimana tuh Om Zian udah ada disekolah aja, makin gampang deh bikin Nia luluh lagi. wokwokwok......


...(Dasar kang Bucin)...


...Jangan lupa apa... yes jangan lupa like, komen, dan gift, vote apalagi yaa reader tersayang inyong... lope lope deh buat kalian yang luar biasa....

__ADS_1


__ADS_2