
"Let me start."
Perlahan Agnia naik ke atas ranjang, dia naik ke atas tubuh Zian yang kini terlentang. Pria itu berkali kali menelan saliva dengan kedua mata tak lepas dari wajah Agnia.
"Baby!"
"Hm ...!" Agnia meloroti celana Zian hingga semua terlepas, hanya tinggal under we ar nya saja yang tersisa, gadis itu memejamkan matanya. Tersadar apa yang dilakukannya benar benar membuat dirinya malu namun juga enggan berhenti.
"Baby! Eeugghh ...!" Zian menggeram saat jari Agnia dengan lembut menyisir daging dengan urat urat yang kian menegang nyata.
Tangan Zian menarik pinggangnya, hingga kulit ari saling berbenturan dimana Agnia kini berada di atas tubuh Zian.
"Eeuhhhggk ... baby!"
Tangannya bergerak maju mundur dengan lembut, seirimg dengan Zian yang semakin menahan geraman. Tak lama Agnia mencondongkan tubuhnya dia terus mundur hingga tepat berada di depan senjata milik Zian yang semakin berdiri tegang.
"Aaahhggk ... shiittt!!" ujarnya saat Agnia mrmbenamkan senjata itu ke dalam rongga pengecapnya, dengan lidah menari kaku di dalam sana, mencecapnya hingga hampir sepenuhnya masuk membentur dinding langit langit mulutnya.
"Baby ... shiittt!!!"
Sekali lagi Zian mengumpat, has ratnya semakin bergemuruh hebat, menegang di kedua pangkal paha. Sepertinya tidak hanya senjatanya saja yang menegang, namun juga seluruh persendiannya yang ikut menegang.
Agnia terus memaju mundurkan kepalanya, sesekali menatapnya dengan mata genit dan membuat Zian semakin tidak berdaya.
"Eeeuummmpp!!"
"Eeuhhgg baby! Jangan lakukan itu!" cegahnya saat sang istri terus mengulum dengan sesekali mengeluarkannya lalu kembali mengulumnya.
"Gak suka?"
"Bu--bukan eeughhh!!"
Kepala Zian bahkan semakin berdenyut, entah dari mana Agnia belajar teknik seperti itu, yang jelas benar benar membuat Zian kewalahan.
Tak berhenti sampai situ, Agnia kini duduk di atas pangkal paha Zian, dengan masih terus bermain main dengan senjata yang kian membesar lalu mengarahkannya pada pusat inti miliknya. Hingga benda panjang tak bertulang namun kokoh itu melesak masuk.
__ADS_1
"Eeeugghh!!"
Keduanya sama sama mengelenguuh, saat kedua pusat daging saling bergesekan, bahkan suara suara indah keduanya kini memenuhi ruangan kamar itu.
"Baby!! Euuuhh you so beautyful!" ujarnya dengan menarik tengkuk leher Agnia hingga dia dengan mudah menyambar bibir tipisnya yang tidak berhenti mendesaah.
Agnia mulai menggerakkan panggulnya, dengan kedua tangan Zian yang meremaas gumpalan daging dibelakangnya, terus menggeram saat penyatuan dirinya semakin dalam dan terus melesakk masuk.
"Aahh ... baby! Indah sekali!" gumam Zian yang tidak berhenti meracau melihat tubuh Agnia yang meliuk liuk diatas tubuhnya, bahkan kedua benda bulat yang kian membusung itu ikut menari didepan wajahnya. Membuatnya tidak serta merta meremassnya dengan lembut, lalu mencecapnya.
Tubuh Agnia semakin bergelinjang, dan dia semakin lihai bergerak diatas.
"Shiittt baby! Eeuuggghhh ... kau membuatku gila!" racaunya lagi diakhir pelepasannya, dengan sigap dia membalikkan tubuh Agnia hingga dia kini berada di atasnya, memacu kedua pangkal paha hingga ssmakin bergerak cepat. Bahkan keduanya semakin bergunjang hebat.
Suara Agnia mengeraang hebat saat Zian terus memompa dengan kecepatan tinggi, membawanya melayang bahkan berputar putar diangkasa.
Lolongan panjang dari Zian menjadi tanda jika keduanya telah sampai dipuncaknya bersamaan. Hingga tubuh Zian melemah dengan sendirinya lalu ambruk memeluk Agnia.
"Baby ... kau benar benar luar biasa! Aku benar benar gila karenamu." ujarnya dengan suara yang semakin melemah lalu menggulingkan dirinya ke samping.
Nafas keduanya masih memburu dengan dada yang turun naik, Zian menarik selimut unyuk menutupi tubuh polos sang istri, lalu memeluknya dan keduanya terlelap begitu saja.
Agnia bangun dari tidurnya dan lagi lagi mendapati ranjamg sebelahnya sudah kosong, Zian tidak pernah membangunkannya, bahkan hanya untuk memberi Agnia kesempatan menyiapkan pakaiannya saja tidak.
Agnia kembali menutupi wajahnya dengan selimut. Dengan bibir yang terus tersenyum saat sadar seberapa gila dirinya semalam sampai menggoda suaminya itu sedemikian rupa.
Hingga dia kembali terlelap sampai satu gedoran keras di pintunya.
"Biasanya kak Nia udah bangun kok kak!"
Terdengar suara imut Aya yang berbicara dengan disusul oleh suara ketukan lwbih keras lagi.
Agnia mau tidak mau turun dari ranjang dengan kedua mata yang masih menyipit. Membuka pintu kamar yang bahkan tidak dikunci.
"Astaga Nia! Lo baru bangun jam segini!" seru Nita dengan melesat masuk. Kedua matanya berkeliaran di seputaran kamar, entah ala yang dia cari.
__ADS_1
"Ya elah ... repot amat sih lo Nit! Wajah aja lah si Nia bangun siang! Abis berapa ronde semalam non?" tanya Cecilia dengan menyibak rambut Agnia yang masih berantakan.
"Apaan sih kalian! Rese banget deh!" ujarnya dengan kembali berjalan naiknke atas ranjang dan menarik selimutnya lagi.
Cecilia dan nita terkekeh, melihat Agnia yang begitu jelas terlihat kelelahan, beruntung sekali Zian membereskan pakaian yang semalam teronggok begitu saja bahkan memakaikan Agnia pakaiannya walaupun tidak lengkap.
Dia hanya memakai dress tidur pendek tanpa memakai kain penutup untuk dua benda kenyal miliknya.
"Ngapain sih kalian pagi pagi kesini?" gumamnya dengan kedua mata yang masih menyipit.
"Gila lo! Pagi dari hongkong! Gak lihat tuh matahari silau banget!"
Agnia menoleh ke aeah tirai jendela yang memang sudah terbuka, membuat kedua matanya semakin menyipit.
"Oh!! Gue kira masih pagi! Jam berapa sih ini?"
"Jam sebelas!!" tukas Aya yang juga masuk dan duduk di kursi meja rias, entah dari kapan dia duduk disana mengolesi bibirnya dengan liptin milik Agnia.
"Astaga ... tuh bocah kapan masuk?" tanya Nita dengan menunjuk ke arah Aya yang merapatkan bibirnya. Membuat liptin yang dia pakai pun berantakan di sekitar bibirnya.
"Aya!! Sini Nak! Jangan main disitu!" tukas Bi Nur yang masuk dengan membawa nampan berisi tiga gelas minuman. Dua gelas berisi orange juice untuk dia berikan pada Nita dan juga Cecelia sedangkan satu gelas berisi susu rasa vanila milik Agnia.
"Buset ... minum susu hamil lo?" seru Nita dengan suara menggelegar, membuat semua orang disana terkaget tidak terkecuali dengan Agnia yang langsung membuka matanya sempurna.
"Apaan susu hamil? Emang bener Bi Nur itu susu hamil? tanyanya pada asisten rumah tangga yang masih berdiri dengan nampan di tangannya.
Wanita paruh baya itu tersenyum tipis, lantas memberikan segelas susu itu pada Agnia.
"Bukan kok Non! Ini hanya susu biasa. Hanya saja bibi campur dengan bubuk jahe untuk stamina non Nia."
Kedua temannya tergelak, mereka memikirkan hal yang sama saat mendengar susu tersebut di campur dengan bubuk jahe untuk menambah stamina.
"Gue yakin sih! Laki lo perkasa ... iya gak Ce!"
"Otak lo mesum mulu Nit! Ya mana gue tahu .. emangnya gue pernah nyicip!"
__ADS_1
Gelak keduanya kembali terdengar, sementara Agnia berdecak kesal.
"Saraf emang lo berdua!"