
"Tunggu!!"
Agnia mengurai pelukannya saat Dave dengan berat hati menyeret kakinya keluar dari kediaman Laras, dia berbalik kembali dengan bibir yang melengkung, betapa senangnya saat putri kecilnya menahan kepergiannya.
"Ada yang ingin aku berikan padamu Dave! Dan aku harap kali ini kau benar-benar menyesal!" ujar Agnia yang memasukkan dua kertas berwarna pink pada saku jas yang dikenakan Dave. Zian tersentak melihatnya, dia mengenal kertas itu, lalu sejurus kemudian bergegas maju namun Agnia menahannya.
"Aku menginginkan dia membacanya Om!" ucapnya pelan pada Zian, lalu kembali beralih pada Dave, "Baca dan pahamilah!" ujarnya lagi pada pria yang terpaku dengan bingung, putrinya ternyata bukan menahan kepergiannya, dia hanya ingin memberikannya surat.
Kenapa Agnia tidak bicara langsung, atau meneleponnya, sudah tidak pada zamannya menulis surat bukan. Batin Laras mengamati lipatan kecil berwarna pink yang Agnia masukkan kedalam saku jas Dave.
Dave tersenyum lesu, dengan tangan merengkuh memeluknya dan mencium pucuk kepalanya walaupun sekilas, "Daddy pasti kembali sayang!"
Setelah itu Dave baru keluar dari rumah Laras, berjalan dengan langkah kaki yang menghentak kasar dia masuk kedalam mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi, entah apa yang dia rasa dan fikirkan saat ini, sakit hati jelas, terlebih semua ini kembali terhubung dengan seorang Zian, bak terus mengingatkannya pada kejadian 17 tahun lalu. Jasmine yang berusaha 17 tahun, sama seperti Agnia, takdir ini seolah kembali terulang.
"Jasmine ... maafkan aku!! Tapi aku tidak bisa menerima jika putriku mengalami hal yang sama denganmu! Maafkan aku Jasmine, maafkan Daddy anakku!" ungkapnya dengan meraup wajahnya dengan kasar, mengingat anak dalam kandungan Jasmine yang sama sekali belum pernah dia lihat.
"Siapapun namamu nak, maafkan Daddy anakku!" gumamnya lagi.
.
.
"Nia ... kenapa kamu berikan surat itu padanya!" Tanya Zian heran, entah kapan Agnia mengambil surat itu dari tempatnya, padahal dia selalu berada dihadapannya.
__ADS_1
"Maaf Om ... Nia sengaja nyelipin surat itu, sementara amplopnya Om rebut lagi, sebelum dimasukkan dalam kotaknya." ujarnya dengan kembali menyusut air matanya.
"Aku hanya ingin dia menyesal karena mengabaikan anak-anaknya, bukan hanya aku." terangnya lagi.
Zian menghela nafas panjang, dia sendiri sedikit menyesal dengan tindakannya memberitahu Agnia tentang surat itu, tapi dia juga dapat mengerti kenapa gadis yang dicintainya itu melakukan hal itu, dia ingin ayahnya kembali, ayah yang menyayangi anak-anaknya, bertanggung jawab bukan soal materi belaka.
"Nia ... maafkan Mommy, entah harus bagaimana mommy meminta maaf padamu nak atas kesalahan mommy, tapi mommy benar-benar menyesal." ujarnya dengan mengulurkan tangan ke arahnya.
Agnia terdiam, dengan wajah sendu dan kedua mata sembab dan masih basah, dia justru menoleh pada Zian, seakan meminta pendapatnya. Pria berusia 34 tahun itu mengangguk, lalu tersenyum manis.
Agnia pun berhambur memeluk sang ibu yang bagaimanapun tingkahnya, dia tetap menginginkannya, seorang ibu yang bertarung nyawa melahirkannya, lepas dari kesalahan apa yang telah dia perbuat padanya, Agnia tetap membutuhkan ibunya.
"Nia gak ingin mommy lakuin apa-apa, Nia hanya butuh mommy ada buat Nia, sayangin Nia, peluk Nia ... dengerin Nia! Itu aja Mom!" katanya dengan kembali tersedu.
Agnia mengangguk dalam pelukan hangat sang ibu, pelukan yang kembali dia rasakan setelah sekian lama, pelukan menenangkan yang membuat pijakan hidupnya kembali.
Zian berdiri termangu melihat keduanya yang menangis sesegukan dengan saling memeluk, entah kenapa hatinya merasa damai saat melihatnya, seolah melihat Jasmine yang kini tersenyum dengan memegangi putranya.
.
.
...Dave sayang, hari ini aku baru saja pulang dari rumah sakit, selain memeriksakan kondisi ku, dokter juga melakukan USG pada anak kita. Dan kau tahu, katanya anak kita itu berjenis kelamin perempuan, aku sudah tidak sabar melihatnya lahir, apa dia sepertimu atau justru jelek sepertiku?...
__ADS_1
...Kalau aku cantik, kamu pasti tidak akan meninggalkanku dan memilih pergi, iya kan Dave? Tapi aku beruntung, karena ada pria baik seperti Zian, dia yang mengantarku ke dokter, dia juga yang telaten merawat ku Dave, aku bersyukur mengenal sahabatmu itu, bahkan dia harus bekerja dan belajar dengan lebih keras saat ini, aku merasa bersalah Dave, andai kamu tidak lari dan mau bertanggung jawab. ...
...Dave andai waktu bisa berputar kembali, bisakah aku memilihnya saja? Kau tidak akan marah kan Dave? Aku harap tidak. Hehe ... Tapi aneh, perasaan ku padamu tidak pernah berubah sampai detik ini. Aku masih sering mengingatmu dan juga memikirkan mu, apa kau juga begitu? Aku rasa tidak ya.......
...Kehamilan ini membuatku sedikit kesulitan, aku sulit mengontrol diri sendiri Dave, aku juga sering merasa tertekan, aku membuat kedua orang tuaku kecewa, juga membuat kakek Zian kecewa, sampai akhir hidupnya, dia tidak tahu kalau anak ini adalah anakmu Dave. ...
...Aku masih sering mengamuk tanpa sebab, dan aku baru bisa tenang setelah menulis surat untukmu. Kamu bisa bayangkan, bagaimana jika kamu yang menemaniku. Aku pasti akan bahagia. Tapi ya sudahlah....
...Kau tahu satu rahasia yang aku ingin katakan padamu dave, Zian ternyata tahu aku menulis surat untukmu, dia diam diam memperhatikanku dibalik pintu saat aku menulis, dia bilang apa aku ingin mengirimkannya?...
...Aku jawab saja tidak, aku tidak ingin menjadi duri dihidupmu, kalau memang kau mencintaiku, kamu pasti kembali, dan menjemputku juga anak kita. Eeh tapi aku lupa kalau aku istri Zian sekarang, hehehe, Walaupun dia tidak pernah meminta aku untuk melakukan tugasku sebagai istri. Baik kan sahabatmu itu Dave, kau harus berterima kasih nanti padanya....
...Semoga putri kita bertemu pria baik seperti Zian nanti. Dan kamu dilarang marah!...
...Jasmine with love...
Dave meremass kertas berwarna pink itu dengan kuat, seketika dia menelengkupkan kepalanya diatas setir mobil, bahunya bergetar dengan suara isakan lembut.
Hatinya tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya Jasmine dan juga anaknya saat itu, masa kehamilan dalam keadaan tertekan. Bagaimana kesehariannya, pendidikannya yang harus terabaikan begitu saja, akibat perbuatannya. Apa Jasmine mendapat support dari lingkungan, atau bahkan cibiran dan cemoohan karena kehamilannya dan pernikahannya diusia muda. Keadaan Zian yang harus kehilangan kakeknya, keadaan yang memaksanya untuk bersikap dewasa, bahkan dari dirinya yang notabene lebih dewasa darinya saat itu. Dirinya lah yang seharusnya ada, bukan justru menghilang lantas pergi meninggalkan mereka menanggung dosa yang telah dia lakukan.
Semoga putri kita bertemu dengan seorang pria baik seperti Zian.
"Kau benar Jasmine, putriku nyatanya bertemu dengan Zian, dan aku sekarang ini mendapat jawaban dari doamu Jasmine, aku tidak hanya tertekan karena putriku sendiri yang tidak mengakui ku, tapi menerima kenyataan bahwa putriku sendiri memilih Zian yang baik menurutmu. Ini sulit aku terima Jasmine ! Rasanya sulit sekali!"
__ADS_1