Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 258


__ADS_3

Zian kembali melajukan kendaraannya, benar apa yang di fikirannya, Dave memang mengetahui keberadaan Kim selama ini, dan keputusannya untuk kembali ke kantor Dave ternyata keputusan yang benar, karena disana dia melihat Kim. Wanita yang sudah di anggap keluarga satu satunya selama ini.


Zian melaju semakin cepat, menginjak pedal gas nya semakin dalam, melesat diruas jalanan yang mulai renggang.


Tak lama kemudian, dia telah sampai di rumah. Baru saja memasuiki car port, Agnia sudah berhambur keluar dan memburunya.


Zian mematikan kendaraannya seraya menggelengkan kepalanya. Tak lama dia keluar dari mobil.


"Bagaimana? Daddy ada dimana sekarang?"


Zian menutup pintu mobil kalu bersandar di depannya, dengan kedua tangan melipat di depan dadanya seraya menatap gadis yang tidak sabaran itu.


"Iih ... mana ngeliatin gitu! Hubby ... Daddy ada dimana?"


Zian mengulum senyumannya, "Cuma hanya ingin dengar kabar Daddy? Kau tidak menanyakanku baby?"


"Iih ... ngapain di tanya? Orang hubby ada di sini kok keliatan!" jawabnya dengan bibir mencebik.


Zian tergelak lalu merengkuh bahunya, "Daddy baik baik saja! Bahkan Daddy terlihat semakin baik baik saja saat ini."


"Ooh ya ... dimana emangnya?"


Zian berjalan masuk kedalam rumah, diikuti oleh Agnia yang dituntunnya.


"Kasih tahu tidak ya!"


"Kalau gak ngasih tahu juga gak apa apa, Nia bisa cari sendiri." ucapnya dengan nada yang mulai ketus.


Tak terbayang jika Agnia tahu bahwa Kim selama ini menyimpan perasaan pada Zian, entah apa yang akan dilakukannya. Apa dia akan marah ataupun tidak. Zian bahkan tidak bisa membayangkannya.


Zian berbalik, dia memgang kedua bahu Agnia seraya sedikit mencondongkan kepala ke arahnya.


"Makin lama kamu makin galak baby! Apa karena bawaan bayi?" ujarnya lalu kembali berjalan, menyimpan kunci mobil diatas nakas. Sebenarnya dia tengah gundah, apa akan mengatakannya atau tidak pada Agnia perihal Kim.


"Hubby!!"


"Hm ...!" Zian kembali menoleh ke belakang, melihat Agnia kini menatapnya tajam.


"Daddy ada di kantornya, dia berhari hari lembur. Banyak pekerjaan yang harus di urusnya karena bisnis yang baru dia rintis. Aku sudah menyuruhnya menghubungi dan pulang. Mungkin besok dia menemui baby! Dan satu lagi, besok aku menyuruhnya ke kantor. Kau boleh ikut jika mau." Ujarnya panjang lebar.


Agnia tersenyum, "Makasih Hubby!"


"Aku tidak mau kalau hanya kata terima kasih!"

__ADS_1


"Terus?"


Zian mengedipkan mata, "Cium dulu!" ucapnya dengan menunjuk pipinya sendiri.


"Iiihhh ... apaan harus cium segala!"


"Ya harus ... kalau tidak, aku saja yang menciummu bagaimana?"


lalu menarik tangan Agnia agar jarak diantara mereka semakin dekat.


Zian mendekatkan wajahnya hendak mendaratkan bibirnya, namun kedua pipinya ditahan oleh Agnia lalu di tolehkannya ke arah lain.


Laras berdiri di dekat tangga, dan sedari tadi dia memperhatikan keduanya dari awal masuk hingga ribut soal ciuman.


Agnia terkekeh, melihat Zian kemudian menegakkan tubuhnya kembali.


Laras berdecak, "Jangan terlalu memporsirnya Zian! Dia masih remaja."


"Ku kira kau sudah pulang Laras!"


"Aku akan pulang setelah berbicara denganmu." Ujarnya lalu kembali berjalan ke sofa dan duduk.


Zian mengernyit, "Soal apa Laras?"


Pengusaha sukses dibidang fashion itu tampak serius, dengan kedua tangan yang di rekatkan.


"Ini soal penting!" ujarnya dengan melirik Agnia sebentar, dia merasa tidak nyaman mengatakan hal itu didepan putrinya, namun juga tidak tega jika membuatnya harus pergi.


"Pekerjaan! Ada yang ingin aku konsultasikan padamu." ujarnya lagi.


Zian semakin mengernyit, namun dia juga penasaran dengan apa yang ingin di katakannya, "Tapi aku bukan ahli!"


"Tidak apa! Kau bisa membantu dalam hal yang ingin aku bicarakan!"


Agnia mrmperhatikan keduanya yang terlalu banyak basa basi.


"Karena ini soal pekerjaan yang gak akan aku pahami. Jadi aku ke kamar duluan deh!" celetuk Agnia yang bangkit dari duduknya.


"Bye mommy!" ujarnya mengecup pipi kiri dan kanan ibunya, lalu mengayunkan kedua kaki melewati Zian.


"Kau tidak menciumku baby?"


Agnia membulatkan kedua matanya namun dengan mengulum senyuman dan melirik ke arah Laras. Sementara ibunya hanya menggelengkan kepalanya berulang kali. Agnia menjulurkan lidah ke arahnya, dengan terus melangkah naik ke atas tangga.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, kita bicara di ruang kerja?"


Laras mengangguk, memang alangkah baiknya jika mereka bicara ditempat lain, daripada beresiko terdengar orang lain maupun Agnia sendiri.


Melihat keduanya bangkit dari ruangan tamu dan menuju ke ruang kerja, Agnia kembali menyembulkan kepalanya, "Kan ... udah gue duga! Mommy itu ingin bicara berdua aja tanpa gue! Pake banyak basa basi segala. Itu artinya mommy gak enak kalau ada gue! Apa gue ke bawah dan nguping aja kali ya."


Agnia kembali keluar dan menutup pintu kamarnya, namun ternyata Aya menangis dan memanggilnya, membuat langkah Agnia terhenti.


"Kak Nia!"


"Kenapa Aya?"


"Si kumi hilang ... bantu aku nyari kak! Kasian dia." ujarnya dengan menyusut air di matanya.


"Si Kumi? Siapa tuh?"


"Kura kura yang Aya beli di pasar tadi pagi sama ibu! Tapi dia kabur. Gak tau kemana! Ayo kak banguin."


Niat Agnia mendengarkan pembicaraan Zian dan juga ibunya gagal karena Aya terus menarik tangannya agar membantunya mencari kura kura yang hilang. Dia hanya bisa melihat pintu berwarna coklat itu dan melewatinya begitu saja.


Sementara Zian kini duduk disofa, dihadapannya Laras yang berpangku tangan.


"Ada masalah apa Laras! Aku tahu ini bukan hanya masalah pekerjaan. Tapi ada yang lain yang mengganggu fikiranmu."


Laras terdengar menghela nafas, karena ternyata Zian bisa menebak kegundahan hatinya.


"Apa ini soal Agnia? Katakan saja."


"Menguntungkan juga ternyata punya menantu yang jauh lebih dewasa!" kelakarnya dengan terkekek, sementara Zian hanya diam. Semua yang berkaitan dengan masalah Agnia, dia enggan bercanda apalagi mengingat wanita cantik dan pintar itu ibu kandung Agnia alias mertuanya sendiri.


Melihat Zian yang serius, Laras kembali menegakkan bahunya dan juga berdehem.


"Agnia sekarang sudah lulus ... aku ingin kalian secepatnya mengadakan resepsi pernikahan Zian. Apa jangan jangan kau tidak berniat mengumumkan pernikahan ini agar bisa menggaet wanita lain?"


"Oh ayolah Laras! Fikiranmu picik sekali, dan tentu saja aku akan melakukannya ... kau tenang saja! Itu semua jadi urusanku! Saat ini biarkan dia masuk universitas dulu dan menyelesaikan administrasinya. Kenapa kau buru buru sekali?"


"Bagus lah kalau begitu! Aku tidak buru buru hanya ingin memastikan saja jika putriku itu bukan istri yang disembunyikan."


Zian tergelak, "Semua oramg kantor sudah tahu dia istriku! Kau saja yang terlalu sibuk dengan pekerjaanmu sampai tidak tahu apa yang dia lakukan di kantor Laras."


Laras tertohok, namun dia sangat pintar menyembunyikannya, persis seperti Agnia.


"Dan satu lagi, jangan membuatnya hamil dulu."

__ADS_1


__ADS_2