
Zian masuk kedalam kamar, dia berdecak melihat Agnia yang sudah tertidur dengan masih menggunakan seragam dan juga sepatunya, juga tas sekolah yang diletakkan sembarangan begitu saja.
"Astaga ... kalau anak baru gede marahnya seperti ini!" Ujarnya melonggarkan dasi.
Pria itu melepaskan sepasang sepatu dari kaki Agnia, tak lupa dengan kaus kaki yang membungkus kaki jenjang miliknya.
"Maaf baby ... Aku memang tidak akan pernah mengijinkan teman laki laki mu atau siapapun itu datang kemari, walaupun kamu sudah mengatakan kalau mereka hanya teman, tapi aku tidak akan memberikan celah sedikitpun pada mereka untuk dekat denganmu terlebih bocah itu." kata Zian saat melepaskan kaus kaki.
Agnia bergerak memutar, hingga rok yang dikenakannya sedikit tersibak, menampilkan pahanya mulus, yang membuat Zian harus menelan saliva. Untung saja gadis itu mengenakan celana leging pendek sebatas pangkal paha, kalau tidak dipastikan Zian akan terbelalak sempurna melihatnya.
Dia menarik selimut dan menutupi tubuh Agnia, pria itu masih bisa berfikir waras untuk tidak menerkamnya saat gadisnya itu masih marah kepadanya.
Zian menyambar handuk lalu masuk kedalam kamar mandi, melakukan ritual bersih bersih setelah seharian berkutat dengan udara kotor dan juga debu.
Hampir setengah jam Agnia tertidur begitu saja, begitu juga Zian yang masih didalam kamar mandi, hingga kedua mata Agnia mulai terbuka.
"Malah ketiduran lagi ya ampun!!" gumamnya turun dari ranjang, dia masuk kedalam kamar mandi dengan kedua mata yang masih mengantuk.
Gadis itu tidak menyadari jika Zian masih didalam sana, karena suaminya itu tidak justru lupa mengunci pintu kamar mandi.
Agnia menyibak rok sekolahnya dan menurunkan celananya, dia duduk di toilet untuk buang air kecil dengan mata terpejam. Zian yang masih berada di bathtube menoleh ke arahnya dengan heran.
"Apa dia mengigau?" ucapnya dengan mengulum senyuman.
Bahkan Agnia tidak menyadari seseorang melihatnya saat ini, sampai Zian beranjak bangun dan perlahan mendekatinya, gadis itu kembali keluar namun justru dirinya malah menabrak tubuh Zian yang polos tanpa mengenakan apapun.
Kedua matanya terbelalak sempurna, saat melihat sosok tegap tanpa sehelai kain pun berdiri didepannya, sontak dia kaget dan berteriak.
"Aaaaaaakkk, kau gila! Kenapa tiba tiba masuk! padahal aku sudah mengunci pintu." selorohnya dengan membalikkan tubuhnya.
"Hei baby ... bukan aku yang menyelonong masuk, tapi dirimu." Zian tergelak tanpa ingin menutupi tubuhnya, dia sengaja berdiri begitu saja.
"Apa!! Orang aku masuk gak ada siapa siapa kok!"
"Kalau tidak ada siapa siapa? Kenapa aku ada didalam sementara kau yakin mengunci pintu ketika masuk, sementara tubuhku sudah basah semua!"
"Ayo pakai bathrobe mu! Dasar mesum!!! Aku mau mandi!"
Zian semakin tergelak, "Lebih baik kita mandi bersama, akan mempersingkat waktu."
"Gak mau ... enak aja!"
"Ayolah, kita sudah suami istri Nia!"
Agnia berjalan menyamping, dia mengambil shower dan menyalakannya,
"Minggir atau aku siram!"
"Siram saja! Toh aku sudah basah!"
__ADS_1
Agnia benar benar menyiram Zian dengan air dari shower, pria itu terus tertawa karena Agnia menyiram ke segala arah sedangkan dia sudah berada di balik ruang bersih. Bahkan seragamnya dan dirinya lah yang basah.
"Sudah aku bilang! Ayo mandi bersama."
"Punya suami mesum tingkat dewa!! Gak malu sama umur?" ketus Agnia.
"Kenapa malu? Kamu istriku baby? Dan semua yang ada dalam diriku ini adalah milikmu." ujarnya dengan terus tertawa.
Merasa lelah sendiri Agnia menghentikan aksinya, suara Zian pun sudah tidak terdengar, lambat lambat dia melirik kearah belakang, benar saja Zian tidak ada, namun seketika tubuhnya terasa limbung dan hampir terjatuh.
Brukkk
"Nah kan!! Sudah aku bilang, itulah akibanya karena tidak menuruti perkataan suamimu!" Ujar Zian dengan kedua tangan merekat pada pinggang Agnia.
Beruntunglah karena Zian dengan cepat menangkap tubuh kecilnya hingga tidak sampai terjatuh dan membentur lantai, Agnia mengerjap, selain dia bisa merasakan tubuh Zian yang masih berbusa menempel, dadanya juga berdebar kencang.
"Nia ...! Are you Ok?"
Agnia mengangguk, aroma segar dari tubuh Zian membuat otaknya tidak bisa berfikir, dan membuat pita suaranya seakan terkunci.
Kedua mata sendu menatapnya, membuat jantungnya tidak aman, selain itu, tangannya menempel pada dada bidang berotot yang semakin membuat Agnia kelimpungan.
Pemilik tubuh basah dengan wangi menyegarkan didepannya itu tersenyum melihat Agnia. Dengan kepala yang mendekat tepat ke telinganya,
"So ... who i'm?" bisiknya dengan suara berat.
Stimulasi otaknya bergerak lebih lambat dari gerak tubuhnya, melihat Zian dengan ketampanan diatas rata rata, ditambah dengan kedua tangan kekar merekatkan tubuhnya semakin merapat.
"Yes ... i'm!!"
Zian mengangkat tubuh dengan bobot tidak seberapa itu hingga mendudukkannya di tempat wastafel, perlahan membuka kancing seragam sekolah yang sudah setengah basah. Jantung Agnia semakin berdebar saat dengan lembut Zian melucuti seragam atasan miliknya. Lalu menarik rok yang dikenakannya, hanya menyisakan penutup benda kembar dan juga celananya saja, dia juga mengambil tali rambut yang melilit dari pergelangan tangannya lalu menggulungkan rambut Agnia ke atas kepalanya.
"Apa suami mesummu ini tidak lebih penting dari teman temanmu?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
Rona merah kini terlihat jelas diwajah Agnia yang sedikit basah karena kucuran shower tadi.
"Aku hanya ingin tahu! Seberapa penting aku untukmu." jemari Zian bergerak lembut merapikan anak rambut yang masih berantakan, hingga menyentuh kedua pipi Agnia.
"Jangan menggodaku om!"
"Bukankah dulu kau yang sering menggoda ku Baby? Kenapa sekarang tidak!"
Agnia lagi lagi terdiam, Hanya saja batinnya yang menjawab. Jelas saja beda, dulu aku masih bisa menghindar kalau dia sudah berhas rat, kalau sekarang mana bisa ... dia pasti tidak akan melepaskan ku.
Zian mengulum senyuman, kali ini menyentuh cuping telinga Agnia dengan lembut,
"Tangannya bisa diem gak Om!"
__ADS_1
"Om lagi? Hem ... baiklah, tidak masalah kalau masih memanggilku dengan sebutan Om."
Agnia terdiam, sesungguhnya dia tengah mengendalikan dirinya agar tidak terbuai, walaupun berkali kali dia harus menelan saliva, dengan tindakan Zian yang memancing sesuatu dengan sentuhan sentuhan di kulitnya.
"Aku masih kesal!! Sungutnya pelan,
"Karena aku tidak mengijinkanmu pergi dengan Regi?"
Agnia menggelengkan kepalanya, "Bukan!! Karena aku pengen nonton film."
Zian melingkarkan tangannya kembali di pinggang sang istri, hingga Agnia berjingkat karena kedua tangan itu bergerak pelan menyusuri area pinggangnya yang kini polos.
"Hmm ... itu saja?"
Agnia mengangguk, "Hanya itu!"
"Baiklah ... setelah kita mandi, aku akan mengajakmu nonton film!" Zian mundur beberapa langkah, namun Agnia menarik tubuhnya hingga kembali merapat.
"Tidak mau!"
"Kenapa?"
Bukan tanpa alasan, dengan mundur beberapa langkah, otomatis senjata Zian akan dengan jelas terlihat olehnya. Tidak ada jalan lain, posisinya pun serba salah, tempat bathrobe berada beberapa langkah ke samping, jika Zian mengambilnya, sama saja bohong.
"Ooh ... aku tahu!! Kau ingin kita mandi bersama?"
"Tidak juga!!"
"Lantas apa? Kau tidak ingin aku pergi! Kau juga tidak ingin mandi bersama."
Agnia memejamkan matanya, apapun yang dilakukannya terasa serba salah saat ini. Membuat Zian kembali mengulum senyuman, usahanya membuat Agnia tidak berkutik berhasil.
Pria itu mendongkakkan dagunya. Dengan perlahan lembut melu mmat bibir Agnia yang basah, membuat darahnya kembali berdesir.
"Baby!!"
.
.
.
Wakakak...
Sabar sabar ... othor takut kena tolak lagi.
Jangan lupa like dan komennya jangan di bab terakhir bestie, ya yaa kalian kan baik ...komen dulu baru lanjut, apalagi othor lagi rajin nih. hehehe.
Catatan othor,
__ADS_1
Bukan kalian yang suka mari like dan komen dan juga rate 5. (Tapi othor gak maksa ya.) Dan buat yang gak suka, silakan skip dan cari bacaan lain tanpa harus kasih rate buruk, rate 1 dan bilang kecewa, ingat ini hiburan, jadi carilah novel yang cocok tanpa meninggalkan jejak buruk. Apalagi gak like gak komen tapi kasih rate kecewa. Pie to?
Mari saling bersinergi dengan baik.